Kolom

Mengapa Menonton Film 'Pesta Babi' dan Membagikannya di Medsos Tidak Akan Mengubah Apa pun

Mengapa Menonton Film 'Pesta Babi' dan Membagikannya di Medsos Tidak Akan Mengubah Apa pun
Tangkap Layar trailer Film Pesta Babi. (Dok. Youtube/Indonesia Baru)

Pada masa sekarang, di era digital yang ditandai dengan maraknya berbagai media sosial, perlawanan sering kali hadir sebagai sensasi visual yang sifatnya sementara belaka. Kemarahan terhadap rezim atau sistem biasanya diproduksi dalam bentuk trailer, potongan video, poster digital, dan tagar. Rakyat seolah tidak lagi hanya diajak memahami ketidakadilan semata, tetapi juga diajak menjadikan perlawanan tersebut sebagai sebuah pengalaman emosional. Dalam situasi seperti inilah, pelarangan pemutaran film Pesta Babi di beberapa tempat, dalam pandangan sebagian orang dianggap sebagai tanda kebangkitan demokrasi dan keberanian sipil untuk melawan.

Sebagian Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Watchdoc maupun Jubi, dalam pandangan saya, sepertinya lumayan berhasil membangun kesadaran palsu atau ilusi baru, yaitu bahwa menonton, membagikan trailer, atau mendukung pemutaran film tersebut merupakan bagian dari tindakan politik progresif. Masyarakat jadi merasa bahwa mereka sedang melakukan sebuah gerakan untuk mengubah sistem dan keadaan. Seolah-olah perubahan bergantung pada keviralan konten media sosial yang disebarkan.

Akan tetapi, di sinilah sebenarnya letak persoalannya.

Kesadaran politik yang hanya berhenti di ranah konsumsi simbolik akan dengan mudah berubah jadi ilusi revolusioner. Rakyat merasa telah melawan hanya karena membagikan link YouTube, menghadiri diskusi film, atau mengekspresikan kemarahan di lini masa media sosial. Perlawanan kemudian disederhanakan menjadi hanya sekadar partisipasi emosional dalam sebuah spectacle politik—sebuah panggung besar tempat ketidakadilan dipertontonkan, dikomentari, lalu perlahan dilupakan tanpa organisasi yang mampu mengartikulasikan semangat perlawanan rakyat menjadi kekuatan politik material.

Sejarah perlawanan terhadap rezim di Indonesia memberikan pelajaran yang jelas dan nyata: bahwa perubahan sistemik tidak akan pernah lahir dari kerumunan tanpa bentuk atau kebisingan testimoni digital. Tak ada sejarahnya Indonesia berubah di bawah kepemimpinan LSM. LSM, dengan segala fungsi pengawasan dan advokasi-nya, bukanlah mesin politik untuk merebut dan mengubah kekuasaan. Perubahan besar di republik ini dalam sejarah selalu dipimpin oleh Partai Pelopor.

Kita bisa melihat ke belakang untuk mengetahui realitas ini. Pada era Demokrasi Terpimpin, dinamika politik digerakkan oleh kekuatan organisasi seperti Sekber Golkar. Begitu pula pada tahun 90-an, perlawanan terhadap kediktatoran Orde Baru menjadi sebuah kekuatan politik yang menekan melalui sebuah organisasi revolusioner yaitu Partai Rakyat Demokratik (PRD). Mereka tidak hanya berhenti pada penyebaran wacana atau penciptaan tontonan, tetapi masuk ke basis massa, ke buruh, petani, mahasiswa, dan kaum miskin kota, membangun sel-sel organisasi, dan mengorganisasikan struktur komando politik yang jelas.

Jika kesadaran publik yang muncul dari film Pesta Babi ini dibiarkan saja tanpa penjelasan dan penyadaran kepada rakyat bahwa perubahan butuh organisasi revolusioner—dalam hal ini partai revolusioner—maka rakyat akan tetap terjebak dalam kesadaran palsu atau ilusi. Mereka akan merasa seolah-olah sudah menjadi revolusioner atau sudah bisa mengubah keadaan hanya dengan membagikan link trailer film di berbagai media sosial, atau dengan mengisi petisi online mendukung pemutaran film tersebut, dan lainnya.

Tanpa partai pelopor yang mengonsolidasikan kemarahan menjadi gerakan politik yang sistematis, energi rakyat hanya akan menjadi komoditas digital yang biasanya akan menguap ketika tren berganti. Tugas mendesak hari ini bukan sekadar menonton dan merasa marah, melainkan mengorganisir kemarahan itu ke dalam wadah politik yang mampu menumbangkan sistem penindasan manusia atas manusia.

Akhir kata, segala sesuatu tidak instan, tetapi butuh proses. Begitu juga perubahan sosial yang bersifat sistemik. Logikanya saja, membangun sebuah sistem dari nol pada dasarnya butuh proses. Begitu pula perubahan sistem tersebut. Kalau perubahan mendasar, berarti boleh dikata sama dengan dibangun kembali atau membangun dari nol.

Sebuah gerakan yang bertujuan untuk mengubah sistem yang sudah kuat dan mengakar, haruslah juga kuat dan mengakar pula. Organisasi adalah kunci utama untuk mematerialkan semua gagasan dan ide yang ingin diperjuangkan. Tanpa organisasi yang solid, maka perubahan hanyalah mimpi indah atau dongeng pengantar tidur belaka. Sederhananya, dengan organisasi yang sudah mengakar, maka segala aktivitas untuk membangun kesadaran bersama tidak akan bisa dihalang-halangi atau dihentikan oleh pihak mana pun. Karena masyarakat sekitar yang sudah terorganisir akan membela dan menjaga semua aktivitas tersebut sampai titik darah penghabisan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda