Kolom
Stop Budaya Ngaret: Mulai Normalisasi Datang Tepat Waktu
Menunggu teman yang terlambat itu memang menyebalkan. Jika masih dalam rentang 5–10 menit, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi ketika waktu menunggu sudah sampai satu jam, rasanya bukan lagi soal sabar, melainkan sudah mulai menguji emosi.
Hal yang lebih membuat kesal lagi, terkadang tidak ada permintaan maaf yang tulus. Justru dibalas dengan candaan seperti, “Hehe maaf tadi mager.” Kalimat sederhana itu bisa terasa seperti meremehkan, bahkan tidak menghargai orang yang sudah datang tepat waktu dan rela menunggu. Walaupun statusnya teman sendiri, tetap saja ada batas yang seharusnya dijaga.
Terlambat Bukan Budaya, tapi Kebiasaan yang Dilanggengkan
Anehnya, fenomena seperti ini sering dianggap lumrah. Seolah-olah keterlambatan adalah bagian dari kebiasaan yang tidak perlu dipermasalahkan. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru ikut menyesuaikan diri dengan pola tersebut agar tidak merasa “sendirian” datang tepat waktu. Padahal, bagi sebagian orang yang benar-benar menghargai waktu, hal ini sama sekali tidak bisa diwajarkan.
Keterlambatan bisa terjadi di banyak situasi. Mulai dari janji bertemu seseorang hingga acara yang tidak berjalan sesuai rundown. Bahkan dalam kegiatan formal sekalipun, molornya waktu sering dianggap hal biasa yang tidak perlu dipertanyakan.
Jujur saja, hal-hal seperti ini memang membuat kesal. Seharusnya, ini bukan sesuatu yang dilumrahkan. Budaya ngaret bukan tradisi yang perlu dijaga, melainkan kebiasaan yang seharusnya mulai dihindari sebelum semakin dianggap normal oleh banyak orang.
Kenapa Orang Masih Sering Terlambat?
Ada banyak alasan kenapa seseorang datang terlambat, mulai dari yang masih bisa diterima hingga yang terdengar tidak masuk akal.
Pertama, persepsi waktu tiap orang memang berbeda. Tidak semua orang memandang waktu sebagai sesuatu yang kaku. Ada yang menjadikan jam sebagai patokan pasti, tetapi ada juga yang lebih fleksibel dengan anggapan “telat sedikit tidak masalah.” Bahkan, orang yang sudah sangat familiar dengan suatu tempat cenderung meremehkan hambatan kecil di perjalanan, sehingga salah memperkirakan waktu tempuh.
Kedua, kebiasaan menunda-nunda atau procrastination. Niat awal mungkin hanya menunda sebentar, tetapi tanpa sadar waktu terus berjalan hingga akhirnya terlambat. Penundaan kecil ini sering terasa sepele, seperti “sebentar lagi” atau “masih ada waktu,” padahal justru menjadi awal dari keterlambatan.
Ketiga, kurangnya kesadaran atau tanggung jawab terhadap rencana yang sudah dibuat. Kebiasaan ini membuat seseorang lebih mudah meremehkan jadwal, bahkan melupakannya begitu saja. Padahal, sikap seperti ini bisa memengaruhi kepercayaan orang lain, terutama jika terus terjadi berulang kali.
Belajar Tepat Waktu Itu Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Terlambat adalah perilaku yang perlu diperbaiki, bukan dipelihara. Karena itulah, penting untuk mulai belajar datang tepat waktu.
Pertama, bangun pola pikir bahwa terlambat adalah kesalahan. Terlambat pada dasarnya adalah tanggung jawab pribadi. Hambatan memang selalu ada, tetapi bukan berarti bisa dijadikan alasan utama. Justru, kemungkinan-kemungkinan buruk itu bisa diantisipasi jika kita sudah mempersiapkan diri lebih awal.
Kedua, belajar menghargai waktu orang lain. Di dunia ini, bukan hanya ada kepentingan pribadi. Ada orang lain yang juga memiliki kepentingan dan waktunya sendiri. Membuat seseorang menunggu terlalu lama bukan hanya membuat tidak nyaman, tetapi juga bisa dianggap tidak sopan. Jika memang ada kemungkinan terlambat, setidaknya sampaikan sejak awal dengan jujur. Permintaan maaf yang disertai alasan yang jelas jauh lebih menghargai dibandingkan datang tanpa penjelasan.
Ketiga, kenali dan hitung waktu yang dibutuhkan. Mulai dari waktu yang digunakan untuk bersiap hingga estimasi perjalanan. Lebih baik menyiapkan waktu cadangan daripada harus terburu-buru di akhir. Termasuk juga mempertimbangkan kemungkinan terburuk, seperti kemacetan atau kendala di jalan.
Saatnya Mengubah Kebiasaan, Bukan Mencari Pembenaran
Keterlambatan bukan lagi sesuatu yang harus dinormalisasi. Justru, yang perlu dibiasakan adalah datang tepat waktu. Karena dengan melakukan itu, kita tidak hanya menunjukkan kedisiplinan, tetapi juga menghargai orang lain.
Mulai sekarang, mungkin tidak perlu langsung sempurna. Tapi setidaknya, ada usaha untuk berubah. Karena datang tepat waktu bukan hal yang rumit. Hanya butuh kesadaran dan kemauan untuk menghargai waktu, baik milik sendiri maupun orang lain.