Kolom

Gaji Imut di Realitas Sosial yang Serba Mahal: Hemat Bukan Lagi Solusi?

Gaji Imut di Realitas Sosial yang Serba Mahal: Hemat Bukan Lagi Solusi?
Ilustrasi Menerima Gaji (freepik/rawpixel)

Dulu saya pernah berpikir, orang yang sudah bekerja dan punya penghasilan tetap pasti mudah menabung. Ternyata, realitasnya jauh berbeda.

“Penghasilan tetap” yang saya bayangkan dulu ternyata jumlahnya tidak sama bagi setiap orang. Selain itu, masing-masing dari mereka juga punya kebutuhan yang tidak bisa ditunda—dari bayar kos, belanja kebutuhan sehari-hari, sampai kejutan tak terduga seperti listrik atau cicilan motor.

Suatu ketika, saat berbelanja di toko sayuran, saya berpapasan dengan seorang ibu-ibu yang membayar belanjaannya di kasir. Beliau sempat berkata ke penjaga kasir, “Padahal lauknya tahu tempe ini, Bu, bukan ayam. Tapi sudah habis uang cukup banyak.”

Terlihat di kantong belanjanya yang memang hanya berisi tahu, tempe, beberapa sayuran, dan bumbu dapur. Selain itu, sebagai bungsu yang masih tinggal bersama orangtua, saya sering mendengar update harga barang pokok dari ibu saya. Keluhan naiknya harga kebutuhan dapur juga kerap saya dengar.

Momen itu membuat saya tersadar, hidup hemat ternyata tidak sesederhana menahan diri dari belanja atau menabung sedikit demi sedikit. Setiap rupiah rasanya seolah sudah punya “tugas” masing-masing—untuk kebutuhan sehari-hari, tagihan yang datang tiba-tiba, atau sekadar ikut arus sosial agar tidak ketinggalan.

Memang benar, seperti yang pernah saya tuliskan di artikel lainnya, gaji yang imut bisa cukup bahkan masih bisa ditabung jika dikelola dengan baik. Namun, ketika dihadapkan pada kondisi harga kebutuhan yang serba mahal hari ini, rasanya semua itu menjadi lebih sulit.

Pada titik ini, hemat bukan lagi sekadar pilihan bijak, tetapi justru terasa seperti ujian tersendiri untuk bisa tetap bertahan tanpa merasa tertinggal.

Dengan kondisi saya yang kebutuhan pokoknya masih tercukupi oleh orangtua, penghasilan dari pekerjaan freelance dengan nominal tak seberapa sebenarnya masih bisa disisihkan untuk ditabung. Namun, ketika dipikirkan lebih jauh, selama ini saya menahan diri cukup banyak demi bisa rutin mengikat uang di pos tabungan.

Keinginan-keinginan kecil seringkali saya tunda, mulai dari membeli barang yang sebenarnya dibutuhkan, mencoba makanan yang sedang ramai dibicarakan, hingga sekadar ikut nongkrong santai bersama teman. Menabung memang terasa aman, tetapi di saat yang sama, ada perasaan seperti terus-menerus mengerem diri agar tidak melampaui batas yang sudah saya buat sendiri.

Situasi tersebut kemudian melahirkan sebuah pertanyaan di pikiran saya. Jika dalam kondisi seperti saya saja harus menahan cukup banyak keinginan, bagaimana dengan mereka yang sudah memikul tanggung jawab penuh atas kebutuhan hidupnya sendiri atau bahkan harus menghidupi satu keluarga?

Mereka bukan hanya memikirkan tabungan, tetapi juga harus memastikan kebutuhan pokok tetap terpenuhi setiap bulan. Biaya makan, tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan tak terduga datang silih berganti tanpa bisa ditunda.

Dalam keadaan seperti itu, hidup hemat mungkin bukan lagi sekadar pilihan bijak, melainkan keharusan yang kadang terasa berat. Bahkan, bukan tidak mungkin, ruang untuk menikmati hasil kerja sendiri menjadi semakin sempit karena sebagian besar penghasilan sudah lebih dulu “habis” untuk bertahan hidup.

Di sisi lain, realitas sosial hari ini juga ikut memberi tekanan yang tidak kecil. Ajakan nongkrong, undangan acara, hingga standar gaya hidup yang tanpa sadar terbentuk di media sosial sering kali membuat seseorang merasa perlu untuk ikut agar tidak tertinggal.

Di titik ini, hidup hemat menjadi semakin dilematis. Terlalu menahan diri bisa membuat kita merasa terisolasi, tetapi mengikuti arus justru berisiko mengganggu kondisi keuangan. Kondisi tersebut akhirnya membuat banyak orang berada di posisi serba salah—hemat terasa berat, tetapi tidak hemat juga bukan pilihan yang aman.

Lantas jika sudah demikian, apakah hidup hemat masih relevan, atau kita harus mulai menata strategi baru supaya tetap bertahan dan bisa memenuhi semua kebutuhan tanpa kehilangan momen hidup?

Sobat Yoursay, mungkin jawabannya tidak selalu hitam dan putih. Hidup hemat masih penting, tetapi realitas hari ini menunjukkan bahwa itu saja belum tentu cukup. Di tengah gaji yang imut dan biaya hidup yang terus meningkat, banyak orang hanya berusaha bertahan—sambil berharap tetap bisa menikmati hidup, walau dalam porsi yang sederhana.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda