Kolom
Di Era Hustle Culture, Apakah Keinginan Work-Life Balance Masih Realistis?
“Terbangun dari tidurku, siapkan kopi diseduh.”
“Lalu berangkat menerjang panas dan hujan dan debu. Oke, alright, oh damn Hatchu!!"
Membahas soal hustle culture, membuat saya teringat dengan lagu terbaru Salma Salsabil yang berjudul Hatchu!!
Di era ini, produktivitas seolah berubah menjadi standar kesuksesan. Tuntutan untuk terus produktif terasa semakin besar. Kita harus bangun di pagi hari, lalu berangkat bekerja, pulangnya lanjut melakukan pekerjaan sampingan, malam saat orang lain beristirahat kita masih menyelesaikan pekerjaan lain yang menunggu. Bahkan hari libur pun, kita masih tetap menghadap laptop.
Membayangkannya saja, sudah terasa sangat melelahkan, apalagi menjalaninya setiap hari. Bekerja tanpa henti, tetapi gaji terasa makin cepat habis tergerus inflasi. Lantas di tengah hidup seperti ini, apakah work-life balance masih realistis untuk dimiliki?
Di luar sana, hidup terasa berjalan cepat. Orang-orang berlomba menjadi produktif demi mengejar kehidupan yang lebih baik. Mereka yang terus-menerus sibuk bekerja dinilai sebagai pekerja keras. Sementara orang yang tidak terlihat sibuk dianggap pemalas atau tak punya ambisi. Hingga tanpa sadar, banyak orang mulai mengukur nilai seseorang dari seberapa sibuk hidupnya.
Inilah yang kini kita kenal dengan istilah hustle culture. Gaya hidup yang mendorong seseorang untuk terus bekerja, berkembang, dan menghasilkan sesuatu tanpa henti. Sekilas terdengar positif karena mengajarkan kerja keras dan disiplin. Namun di balik itu, banyak orang diam-diam merasa lelah karena hidup seolah tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk berhenti.
Di luar sana, mungkin sebenarnya banyak anak-anak muda yang menginginkan keseimbangan antara bekerja dan menikmati hidup sebagaimana mestinya. Namun, mereka dipaksa untuk kembali melihat pada realitas. Biaya hidup yang semakin tinggi, mencari kerja tak semudah menjentikkan jari, bahkan yang sudah bekerja pun, gaji tak selalu cukup untuk menghidupi diri sendiri, apalagi yang harus memberi makan keluarga inti.
Memiliki side hustle kini seolah menjadi satu-satunya cara agar tetap bertahan. Bukan hanya satu. Banyak di antara mereka yang pagi bekerja di kantor, malam bekerja freelance, di tengah semua kesibukan itu, masih ada yang menyempatkan diri membuat konten affiliate atau melakukan live streaming demi menambah penghasilan.
Jika demikian, memiliki keseimbangan dalam hidup rasanya hanya berhenti pada mimpi semalam. Bukan sebab ketiadaan kemauan, tetapi tuntutan keadaan yang terasa semakin sulit membuat orang tidak bisa berhenti bekerja meski sebentar.
Work-life balance. Sekilas terdengar indah dan menyenangkan. Namun sayangnya, tidak semua orang bisa menikmati hal itu. Tidak semua orang bisa begitu saja memilih untuk hidup santai. Bekerja seperlunya dan memiliki waktu untuk menikmati hidup dengan tenang. Ada tekanan finansial yang terus membayangi. Ada keluarga yang harus dihidupi. Dengan gaji pas-pasan di saat harga kebutuhan semakin tinggi, work-life balance seolah seperti mimpi yang mustahil digapai.
Pada saat yang sama, mungkin kita perlu merenung sejenak tentang hal ini. Bekerja keras memang penting demi kehidupan yang lebih terjamin. Namun, hidup tak seharusnya hanya tentang pekerjaan. Jika kita sudah terus-menerus bekerja, maka tak apa jika sesekali ingin menikmati hidup. Berhenti sebentar agar tak semakin kehilangan banyak hal. Waktu membersamai keluarga, waktu untuk istirahat sebentar saja, dan waktu untuk kembali pada diri sendiri.
Hari ini, mungkin work-life balance yang sempurna memang sulit untuk didapatkan. Namun, di tengah semua lelah menghadapi kehidupan, berhenti sejenak dan beristirahat adalah hal yang pantas untuk dilakukan. Mungkin, kita juga perlu mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan bekerja, tetapi juga tentang tetap memiliki ruang untuk benar-benar merasa hidup.