Kolom

Privilege Pendidikan: Les Privat dan Wajah Ketimpangan yang Kita Abaikan

Privilege Pendidikan: Les Privat dan Wajah Ketimpangan yang Kita Abaikan
Ilustrasi Pendidikan Indonesia (Unsplash/Bayu Syaits)

Sadar tidak sih bahwa anak-anak yang cemerlang, nilainya tinggi, keterampilannya bagus, hingga punya kepercayaan diri untuk mencoba hal baru dari kecil adalah privilege. Orang tuanya punya cukup uang untuk membiayai les di luar jam sekolah. Entah les mata pelajaran, keterampilan, seni, dan sebagainya. Atau orang tuanya sendiri punya latar belakang pendidikan yang tinggi sehingga bisa mengajari sendiri anaknya di luar sekolah. 

Di atas kertas, sekolah adalah ruang utama untuk belajar. Kurikulum disusun, guru dilatih, dan jam pelajaran diatur sedemikian rupa agar siswa memperoleh pengetahuan yang memadai. Namun realitas di lapangan sering berkata lain: bagi banyak siswa, pelajaran di kelas belum cukup.

Di sinilah les tambahan seperti bimbingan belajar, kursus privat, atau bantuan orang tua di rumah menjadi penopang penting. Masalahnya, tidak semua anak memiliki akses ke “penopang” ini. Dan di titik itu, pendidikan mulai kehilangan sifatnya yang setara.

Les di luar sekolah sering dipandang sebagai pelengkap. Padahal, dalam praktiknya, ia telah menjadi kebutuhan terselubung. Banyak siswa merasa tertinggal jika hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah. Materi yang padat, waktu yang terbatas, serta rasio guru dan murid yang tidak ideal membuat proses belajar sulit optimal. Akibatnya, pemahaman yang seharusnya terbentuk di kelas justru “disempurnakan” di luar kelas melalui les berbayar.

Di sinilah letak persoalan mendasar: ketika sesuatu yang seharusnya opsional berubah menjadi kebutuhan, maka akses terhadapnya menentukan peluang. Anak-anak dari keluarga mampu bisa mengikuti les, memperdalam materi, bahkan berlatih soal lebih banyak. Sementara itu, anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi harus puas dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah meskipun itu belum cukup.

Lebih jauh lagi, ketimpangan ini tidak hanya soal uang, tetapi juga soal kapasitas orang tua. Ada orang tua yang mampu mendampingi anak belajar di rumah, menjelaskan ulang pelajaran, bahkan memberikan strategi belajar yang efektif.

Namun ada pula orang tua yang tidak memiliki waktu, latar pendidikan, atau kepercayaan diri untuk melakukan hal tersebut. Dalam kondisi ini, anak benar-benar bergantung pada sistem sekolah yang sayangnya belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan belajar setiap individu.

Akibatnya, prestasi akademik sering kali bukan hanya cerminan kemampuan siswa, melainkan juga cerminan sumber daya yang mereka miliki. Nilai tinggi bisa jadi bukan semata hasil kerja keras di kelas, tetapi juga hasil dari jam-jam tambahan di tempat les.

Ini menciptakan ilusi meritokrasi seolah semua siswa bersaing di garis start yang sama, padahal kenyataannya tidak demikian.

Fenomena ini juga menimbulkan tekanan psikologis. Siswa yang tidak mengikuti les bisa merasa tertinggal atau kurang percaya diri. Sebaliknya, siswa yang mengikuti les justru bisa mengalami kelelahan karena harus belajar hampir tanpa jeda dari pagi di sekolah hingga malam di tempat bimbingan.

Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang tumbuh malah berubah menjadi maraton tanpa garis akhir yang jelas.

Pertanyaannya, apakah solusi dari semua ini adalah memperbanyak les? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Jika sistem pendidikan formal mampu berjalan efektif dengan metode pengajaran yang adaptif, evaluasi yang adil, serta dukungan yang merata. Maka kebutuhan akan les tambahan seharusnya berkurang secara alami.

Les tidak lagi menjadi “penyelamat,” melainkan benar-benar pilihan tambahan bagi mereka yang ingin mendalami bidang tertentu.

Namun untuk sampai ke titik itu, dibutuhkan pembenahan serius. Mulai dari peningkatan kualitas guru, distribusi sumber daya yang lebih merata, hingga pendekatan pembelajaran yang tidak sekadar mengejar kurikulum, tetapi juga memastikan pemahaman.

Selain itu, penting juga menghadirkan ruang belajar alternatif yang terjangkau seperti program pendampingan gratis atau komunitas belajar agar siswa dari berbagai latar belakang tetap memiliki kesempatan berkembang.

Pada akhirnya, kita perlu jujur mengakui satu hal: selama les masih menjadi “kebutuhan tersembunyi,” maka pendidikan belum sepenuhnya adil. Mengabaikan fakta ini hanya akan memperlebar jurang yang sudah ada. Pendidikan seharusnya menjadi alat untuk membuka peluang, bukan mempertegas perbedaan.

Dan mungkin, langkah pertama yang paling penting adalah berhenti menganggap les sebagai hal biasa, lalu mulai melihatnya sebagai gejala dari sistem yang belum selesai diperbaiki.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda