Kolom

Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital

Capek Sedikit, Checkout Banyak: Emotional Spending Gen Z di Era Digital
ilustrasi belanja online (Pexels/Porapak Apichodilok)

Sebagai perempuan, saya merasa hidup sekarang sering berjalan terlalu cepat. Rutinitas padat, tekanan sosial, tuntutan untuk selalu terlihat baik-baik saja, sampai overthinking yang datang diam-diam membuat energi cepat habis. 

Di tengah kondisi seperti itu, belanja sering terasa seperti hiburan paling mudah untuk memperbaiki mood. Belanja online pun jadi self-healing yang praktis dan memberi efek bahagia instan. 

Awalnya saya tidak merasa ada yang salah. Setelah hari yang melelahkan, membuka aplikasi belanja terasa menyenangkan. Scroll barang lucu, lihat promo besar, lalu checkout sesuatu yang sudah lama masuk wishlist memberi rasa puas tersendiri. 

Apalagi sekarang ada fitur paylater yang membuat semuanya terasa ringan. Tidak perlu langsung bayar penuh, cukup cicil nanti.

Namun semakin ke sini, saya mulai sadar kalau kebiasaan itu bukan sekadar belanja biasa. Saya sering checkout barang bukan karena butuh, melainkan karena sedang lelah secara emosional.

Belanja Jadi Pelarian saat Emosi Tidak Stabil

Saya pernah ada di fase ketika sedikit stres langsung ingin belanja. Saat tugas menumpuk, pekerjaan bikin capek, atau pikiran sedang penuh, marketplace terasa seperti tempat pelarian paling cepat.

Ada rasa senang sesaat ketika berhasil membeli sesuatu. Bahkan kadang yang membuat bahagia bukan barangnya, tapi proses checkout dan menunggu paket datang. 

Rasanya seperti ada hal kecil yang bisa menyenangkan diri sendiri di tengah hidup yang terasa berat. Masalahnya, rasa lega itu tidak bertahan lama.

Setelah paket datang dan euforia hilang, saya kembali menghadapi masalah nyata yang sama. Bedanya, sekarang ditambah tagihan yang mulai muncul satu per satu.

Di situ saya mulai sadar kalau saya tidak benar-benar menyelesaikan rasa lelah atau stres yang dirasakan. Saya hanya mengalihkan perhatian sementara lewat belanja.

Paylater Membuat Semuanya Terasa Mudah

Menurut saya, salah satu alasan emotional spending semakin sulit dikontrol adalah karena adanya paylater. Sistem “bayar nanti” membuat proses belanja terasa terlalu mudah dan minim pertimbangan.

Saya jadi lebih impulsif karena merasa tidak langsung mengeluarkan uang. Kalimat seperti “cuma cicilan kecil”, “bayarnya bulan depan”, atau “mumpung diskon” sering membuat saya merasa aman untuk checkout.

Padahal tanpa sadar, tagihan perlahan mulai menumpuk. Yang paling berbahaya, paylater memberi ilusi kalau kondisi finansial masih baik-baik saja karena tidak melihat uang keluar secara langsung.

Tekanan Menjadi Perempuan di Era Media Sosial

Saya juga merasa emotional spending perempuan tidak bisa dipisahkan dari tekanan media sosial. Setiap hari saya melihat standar hidup yang terlihat sempurna yang seolah menuntut untuk diikuti.

Ada tekanan tidak tertulis jika perempuan harus selalu terlihat menarik, update, dan punya hidup yang “rapi”. Padahal di balik semua itu, banyak perempuan sebenarnya sedang sama-sama lelah.

Ironisnya, media sosial membuat konsumsi terlihat seperti bentuk self-care. Belanja dianggap healing, checkout dianggap reward, dan membeli barang baru terasa seperti cara mencintai diri sendiri.

Padahal kalau dilakukan terus-menerus tanpa sadar, justru bisa berubah menjadi kebiasaan yang melelahkan secara finansial dan emosional.

Emotional Spending dan Rasa Kosong yang Tidak Selesai

Saya mulai memahami kalau emotional spending sering muncul karena ada emosi yang tidak benar-benar diproses. Saat sedih, kecewa, kesepian, atau burnout, membeli sesuatu terasa seperti cara cepat untuk mendapatkan rasa senang.

Namun, kebahagiaan itu sementara. Setelahnya, muncul rasa bersalah karena uang habis untuk hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Kita akan merasa cemas saat tagihan paylater datang bersamaan dengan kebutuhan bulanan lain. Rasanya seperti bekerja hanya untuk membayar keputusan impulsif diri sendiri di masa lalu.

Di titik itu saya menyadari kalau emotional spending bukan tentang kurang uang semata, tetapi juga tentang hubungan kita dengan emosi dan cara mencari pelarian.

Belajar Membedakan Kebutuhan dan Pelampiasan

Sekarang saya mulai mencoba lebih sadar sebelum membeli sesuatu. Saya belajar berhenti sejenak dan bertanya: “Saya benar-benar butuh barang ini, atau cuma sedang capek?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup membantu saya mengenali pola emotional spending yang sebelumnya tidak saya sadari.

Saya juga mulai memahami jika self-care tidak harus selalu diwujudkan lewat belanja. Kadang yang sebenarnya saya butuhkan hanya istirahat, tidur cukup, ngobrol dengan orang terdekat, atau memberi ruang bagi diri sendiri untuk tenang.

Menjadi Perempuan yang Lebih Sadar Finansial dan Emosional

Menurut saya, perempuan memang sering berada di posisi yang penuh tekanan. Kita dituntut untuk kuat, produktif, tampil menarik, dan tetap terlihat bahagia di saat bersamaan. 

Tidak heran jika banyak yang akhirnya mencari pelarian lewat belanja. Namun semakin saya belajar mengenali diri sendiri, saya sadar kalau ketenangan tidak datang dari keranjang belanja yang penuh. 

Barang baru mungkin memberi rasa senang sesaat, tapi tidak menyelesaikan rasa lelah di dalam diri. Paylater memang bisa membantu jika digunakan dengan bijak tapi bukan alat untuk menenangkan emosi setiap kali hidup terasa berat. 

Dan sekarang saya mulai percaya, healing yang sebenarnya bukan tentang seberapa banyak kita checkout, melainkan seberapa mampu kita memahami apa yang benar-benar dibutuhkan diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda