Kolom

Gerbong Perempuan Dipindahkan, Cukupkah untuk Menjamin Keselamatan?

Gerbong Perempuan Dipindahkan, Cukupkah untuk Menjamin Keselamatan?
Ilustrasi KRL (Magnific.com/frimufilms)

Beberapa waktu lalu, saya melihat postingan teman yang terasa cukup menyentuh. Melalui story Instagram-nya dia menceritakan pengalaman membantu membawakan barang seorang wanita paruh baya di KRL. Bagian yang cukup mengejutkan, wanita tersebut malah meminta teman saya untuk menuju ke gerbong umum saja, alih-alih ke gerbong khusus perempuan.

Perkataan yang terdengar sederhana itu berhasil memantik kesadaran dalam diri saya. Bahwa bagi banyak perempuan pengguna transportasi publik, memilih gerbong bukanlah hal yang sesederhana kelihatannya.

Kecelakaan di Bekasi Timur beberapa waktu lalu memang membuat posisi gerbong perempuan ikut dipersoalkan. Hal ini kemudian melahirkan usulan Menteri PPPA untuk memindahkan gerbong khusus perempuan ke tengah sementara gerbong laki-laki di paling depan dan belakang. Di tengah ramainya pembahasan tentang usulan tersebut, pilihan wanita paruh baya itu seolah terasa seperti menyimpan kegelisahan yang lebih besar.

Menurut saya, persoalan ini memang tidak sesederhana memberikan perlakuan yang sama pada semua penumpang. Sebab dalam praktiknya, perempuan memiliki pertimbangan yang jauh lebih rumit saat menggunakan transportasi publik. Mulai dari kekhawatiran mengalami pelecehan, kesulitan bergerak ketika membawa anak kecil, hingga kerepotan saat membawa barang bawaan yang cukup banyak.

Oleh sebab itu, ucapan wanita paruh baya itu kepada teman saya terasa jauh dari kata-kata sederhana. Karena pada dasarnya, perempuan sering kali memilih gerbong dengan menimbang risiko yang paling kecil agar perjalanan terasa sedikit lebih aman dan nyaman.

Gerbong khusus perempuan sendiri hadir untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman yang selama ini belum sepenuhnya didapatkan oleh perempuan saat berada di ruang publik. Dengan keberadaan gerbong khusus, perempuan setidaknya tidak perlu terlalu khawatir terhadap kemungkinan pelecehan seksual dan bisa lebih leluasa saat membawa anak kecil ataupun barang bawaan.

Namun, apakah dengan memindahkan posisinya ke tengah akan otomatis menyelesaikan persoalan?

Kalau dilihat dari sisi kebutuhan terhadap perlindungan, perempuan memang membutuhkan lebih banyak—termasuk perlindungan dari laki-laki. Akan tetapi dalam hal ini, masalah utamanya tetap terletak pada sistem keamanan transportasi publik secara menyeluruh.

Keselamatan tidak serta-merta lahir hanya dengan memindahkan posisi penumpang saja. Yang lebih dibutuhkan dari transportasi publik adalah aman dari kecelakaan, aman dari pelecehan, aman dari kepadatan yang berlebihan, dan yang terpenting aman untuk perempuan, lansia, ibu, dan anak.

Selama ini, saat akan menaiki transportasi umum, perempuan sering kali dipaksa untuk menyesuaikan diri. Mulai dari memilih gerbong yang paling longgar, menggenggam tas erat-erat, hingga memastikan ada penumpang perempuan lainnya untuk sekadar merasa tidak sendirian di gerbong yang sama. Perjalanan yang seharusnya sederhana berubah menjadi aktivitas menghitung berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Dan semua itu dilakukan semata-mata agar mereka merasa lebih tenang selama berada di perjalanan.

Karena itu, rasanya saya cukup bisa memahami pilihan ibu yang berada di KRL yang sama dengan teman saya tadi. Bukan karena gerbong perempuan tidak penting, tetapi karena setiap perempuan memiliki cara tersendiri untuk mencari ruang yang dianggap paling aman dan nyaman pada situasi tertentu. Terlebih, tragedi kecelakaan yang baru terjadi bisa jadi membuat banyak perempuan semakin berhati-hati menentukan ruang yang menurut mereka paling memungkinkan untuk merasa tenang.

Hal ini sebenarnya tidak hanya berlaku bagi perempuan saja. Selama penumpang masih sibuk memilih risiko paling kecil saat menaiki transportasi umum, artinya persoalan keselamatan belum benar-benar usai. Yang dibutuhkan di sini bukan sekadar memindahkan posisi penumpang, melainkan jaminan keamanan perjalanan untuk semua—baik laki-laki maupun perempuan, terlebih lagi bagi lansia, ibu, dan anak. Sebab perjalanan yang aman seharusnya tidak membuat siapa pun sibuk memilih mana bahaya yang paling kecil.

Datangnya suatu musibah memang tidak selalu bisa diprediksi atau dihindari. Namun, melalui evaluasi serta pembenahan terhadap sistem keamanan dan keselamatan yang kini diterapkan secara menyeluruh, setidaknya selalu ada harapan untuk menekan kemungkinan tragedi serupa terulang kembali di masa mendatang. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda