Kolom
Jogja yang Romantis bagi Pelajar, tapi Terasa Pedih bagi Pekerja
Menjalani kehidupan di Jogja ibarat mimpi bagi siapa pun yang tinggal di luar Kota Pelajar ini. Tidak sedikit mahasiswa yang meneruskan untuk tinggal di Jogja setelah hari kelulusan, mencari alasan apa pun untuk tetap bertahan di kota yang menawarkan banyak tempat healing ini.
Sama halnya dengan aku. Hampir separuh dari hidupku kuhabiskan di Kota Pelajar. Hari di mana aku mengantre untuk mendaftarkan diri sebagai mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di Jogja, tidak pernah terbayang kini sudah hampir 13 tahun aku menjadi wong Jojo (orang Jogja).
Sejak masih bergelar lulusan SMA, sampai tahun kemarin akhirnya aku lulus S2. Sejak masih berstatus sebagai single atau jomblo sampai kini sudah menikah dan memiliki satu anak perempuan. Dari jadi mahasiswa, freelancer, pengangguran, sampai menjadi “budak korporat” lebih dari 5 tahun. Semua memori dan proses “bertumbuh” aku habiskan di kota ini.
Tapi kata “pulang” dalam slogan itu belum aku rasakan karena sampai hari ini pun aku masih di kota ini.
Jogja Kota Pelajar
Data terbaru 2025, sebanyak 439.236 mahasiswa total mahasiswa dari PTN dan PTS di Jogja. Hampir setiap tahunnya total mahasiswa PTN dan PTS kurang lebih berkisar dari angka 300 ribu sampai dengan 400 ribu.
Dari total 400 ribu mahasiswa yang ada di Jogja, 60-70% berasal dari luar daerah Jogja. Hal ini menunjukkan Jogja masih menjadi destinasi pelajar untuk melanjutkan pendidikan mereka di sini.
Dari sekian banyak lulusan dari berbagai kampus di Jogja, ada yang memilih pulang ke kampung halaman setelah lulus. Namun tidak sedikit juga yang memilih menetap, baik itu untuk melanjutkan pendidikan, untuk bekerja, bahkan ada juga yang melanjutkan kehidupan di Jogja, misal menikah dan menetap.
Sama halnya dengan aku yang memilih bekerja di Jogja di tahun pertama kelulusanku. Selama tiga tahun setelahnya berganti-ganti tempat bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang mencukupi kehidupan tinggal di Jogja.
Mulai dari menjadi asisten dosen di kampus disambi mengajar les privat, menjadi admin sosial media sebagai side hustle, aku tekuni demi untuk bisa bertahan di Jogja. Bahkan tawaran gaji dua kali UMK Jogja aku tolak hanya karena lokasi pabrik bukan di Jogja.
Aku memilih untuk tetap di Jogja, meskipun harus berpindah dari menjadi pekerja harian lepas satu ke yang lainnya yang semuanya tidak sesuai dengan ijazah S1. Sampai akhirnya bekerja penuh waktu di salah satu perusahaan swasta di Jogja dengan gaji UMK. Beasiswa SPP separuh harga yang ditawarkan dari kampus lamaku menjadikan aku memilih untuk melanjutkan kuliah S2. Ditambah lagi ada kelas karyawan sehingga memberikan kesempatan aku untuk kuliah sambil bekerja.
Namun dalam perjalanannya tak semudah yang dibayangkan. Kuliah S2 sendiri bukan hal mudah, apalagi ditambah bekerja dengan kondisi riil pekerjaan di Jogja.
Jogja Bukan Kota Pekerja
Kenyataan Jogja adalah Kota Pelajar tidak semanis bagi buruh pabrik. UMK yang sejatinya tidak mencukupi kehidupan bagi orang yang merantau dengan pengeluaran kos dan makan yang tidak sedikit. Ditambah lagi masih banyak tempat kerja yang mematok gaji karyawannya masih jauh di bawah UMK Jogja. Apalagi bagi pekerja yang sudah berkeluarga.
Wali Kota Jogja menjelaskan jika dalam sebuah keluarga terdiri dari 3 orang, satu orang bekerja penuh waktu dan satu lainnya bekerja paruh waktu, maka pendapatan keluarga mencapai angka 4,2 juta per bulan.
Kenyataan pahit ini tentu membuatku berpikir ulang untuk melanjutkan kehidupan di Jogja. Setelah lulus S2 tahun lalu timbul pertanyaan di benakku: “Aku punya alasan apa lagi ya untuk tetap tinggal di Jogja?”
Sampai akhirnya aku merencanakan pindah dari Jogja ke kota lain. Ingin merasakan nikmatnya rasa kerinduan dari kata pulang yang ditujukan untuk Jogja.
Harapanku untuk Jogja
Telah banyak kenangan, pencapaian, pembelajaran yang aku dapat dari kota ini. Tidak sedikit tangis, tawa, haru, dan suka cita yang tercipta di kota ini pula. Jika ditanya maukah untuk menetap di Jogja dengan ribuan ilmu dan kenangan yang masih bisa tercipta, tentu jawabannya adalah iya.
Tapi kondisi yang memprihatinkan di tengah keindahan Kota Jogja juga tidak bisa dipungkiri. Aku hanya menyorot sedikit saja dari fenomena pedihnya kaum pekerja di Jogja. Jika memperhatikan dari segala lini, pastilah akan lebih banyak lagi yang membuat miris.
Besar harapanku untuk ke depannya Jogja bisa lebih memperhatikan khususnya para pekerja. Memperhatikan kesejahteraan mereka, menindak tegas pelaku usaha yang masih menggaji karyawannya di bawah upah minimum.
Memang benar persoalan sistemik bukan hal yang mudah untuk diselesaikan secara parsial. Semoga ke depannya Jogja menjadi kota yang lebih baik lagi.