Kolom
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Desa: Perjalanan Kang Edai di Kemiren
Pagi di Desa Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, tidak hanya menawarkan suasana pedesaan yang tenang. Di balik aktivitas masyarakatnya terdapat cerita tentang budaya Osing yang masih dipertahankan dan masyarakat yang terus berusaha mengembangkan potensi desanya. Di tengah perjalanan tersebut, sosok Muhammad Edi Saputro alias Kang Edai hadir sebagai salah satu penggerak yang ikut menjaga agar budaya tidak berhenti menjadi sekadar warisan, tetapi dapat terus hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kemiren dikenal sebagai salah satu desa yang menjadi rumah bagi masyarakat Osing. Berbagai tradisi, nilai, dan kearifan lokal masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun, mempertahankan budaya di tengah perkembangan zaman tentu bukan perkara mudah. Bagi Kang Edai, menjaga budaya berarti juga memastikan masyarakat yang menjadi pemilik budaya tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang.
Sejak Desa Sejahtera Astra hadir di Kemiren pada 2024, upaya pengembangan desa dilakukan dengan pendekatan yang lebih luas. Program ini tidak hanya melihat potensi wisata dan budaya, tetapi juga memperkuat empat bidang kehidupan masyarakat, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Bagi Kang Edai, empat bidang tersebut saling berkaitan. Desa wisata tidak akan berkembang apabila masyarakatnya tidak sehat, generasi mudanya tidak mendapatkan pendidikan yang baik, lingkungannya tidak terjaga, dan masyarakatnya tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan usaha.
Berawal dari Masyarakat yang Sehat
Salah satu bidang yang diperkuat melalui Desa Sejahtera Astra adalah kesehatan. Pengembangan desa tidak hanya dilakukan melalui kegiatan yang mendatangkan wisatawan, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Penguatan Posyandu serta layanan kesehatan ibu dan anak menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Kehadiran kegiatan kesehatan di tengah masyarakat menunjukkan bahwa kesejahteraan desa tidak hanya diukur melalui meningkatnya jumlah wisatawan atau pendapatan warga.
Bagi seorang penggerak desa seperti Kang Edai, masyarakat merupakan bagian terpenting dari keberlangsungan Kemiren. Ketika masyarakat sehat, mereka dapat menjalankan aktivitas sehari-hari, mengembangkan usaha, terlibat dalam kegiatan wisata, sekaligus mempertahankan berbagai tradisi yang menjadi identitas desa.
Mengenalkan Budaya kepada Generasi Muda
Jika kesehatan menjadi fondasi masyarakat, pendidikan menjadi salah satu jalan untuk memastikan budaya dapat terus diwariskan. Desa Sejahtera Astra turut memperkuat PAUD Desa Kemiren melalui penyediaan sarana belajar dan alat permainan edukatif, dukungan kegiatan pembelajaran, hingga kegiatan outing class.
Hal yang tidak kalah penting adalah pengenalan budaya lokal kepada generasi muda. Anak-anak diperkenalkan dengan budaya Osing sejak usia dini agar mereka tidak hanya mengetahui tradisi yang ada di lingkungan mereka, tetapi juga memahami nilai dan identitas yang terkandung di dalamnya.
Upaya tersebut menjadi penting karena Kemiren bukan hanya dikenal sebagai desa wisata. Desa ini merupakan ruang hidup masyarakat Osing yang hingga kini masih menjaga berbagai warisan budaya seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, kuliner lokal, musik tradisional, hingga arsitektur Osing.
Budaya tersebut kemudian menjadi daya tarik yang membuat wisatawan datang untuk mengenal kehidupan masyarakat Osing secara lebih dekat.
Ketika Menjaga Lingkungan Menjadi Kebiasaan
Pertumbuhan pariwisata juga menghadirkan tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Semakin banyak aktivitas masyarakat dan wisatawan, semakin penting pula pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Di Kemiren, Desa Sejahtera Astra menginisiasi pembentukan kelompok sadar lingkungan yang berfokus pada pengelolaan sampah organik dan non-organik. Masyarakat juga didorong memanfaatkan limbah ternak menjadi pupuk organik serta mendapatkan pelatihan pembuatan pupuk tersebut.
Selain itu, pengembangan biogas menjadi salah satu langkah untuk memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan masyarakat. Saat ini terdapat dua fasilitas biogas yang telah dibangun sebagai bagian dari upaya mengembangkan pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Bagi Kang Edai, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan kebersihan desa. Lingkungan yang terawat juga menjadi bagian dari masa depan Kemiren sebagai desa wisata. Ketika budaya dan alam sama-sama dijaga, masyarakat dapat terus menerima manfaat dari potensi desanya tanpa mengabaikan keberlanjutan.
Budaya yang Membuka Peluang Ekonomi
Salah satu perubahan yang paling terasa dari pengembangan Desa Sejahtera Astra adalah terbukanya peluang usaha bagi masyarakat. Melalui bidang kewirausahaan, pengembangan Desa Wisata Adat Osing Kemiren dilakukan bersamaan dengan pemberdayaan UMKM lokal, penguatan kapasitas Pokdarwis, pengembangan homestay, serta promosi dan pameran wisata budaya Osing.
Hasilnya terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi desa. Saat ini terdapat 50 homestay dengan total 92 kamar yang dikelola masyarakat. Selain itu, terdapat sekitar 40 pelaku usaha lokal yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan, dan kopi.
Dari Budaya Menjadi Kebanggaan Desa
Perjalanan Kemiren dalam mempertahankan budaya sekaligus mengembangkan pariwisata juga mendapatkan berbagai apresiasi. Sejak 2019, Desa Sejahtera Astra Kemiren telah menerima sejumlah penghargaan di bidang pariwisata dan budaya, mulai dari Wonderful Indonesia Impact dan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) hingga ASEAN Tourism Award 2025.
Pada tingkat internasional, Kemiren juga terpilih sebagai bagian dari The Best Tourism Village Upgrade Program 2025. Berbagai apresiasi tersebut semakin memperkuat posisi Kemiren sebagai destinasi wisata budaya berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
Namun, di balik penghargaan dan angka kunjungan wisatawan, ada cerita tentang masyarakat yang terus bergerak. Ada penggerak yang mendampingi warga, pelaku usaha yang mempertahankan produk lokal, anggota Pokdarwis yang mengelola wisata, pendidik yang mengenalkan budaya kepada anak-anak, serta masyarakat yang mulai membangun kebiasaan menjaga lingkungan.
Menurut Kang Edai, perubahan yang terjadi di Kemiren tidak selalu dapat dilihat melalui angka kunjungan wisatawan atau pertumbuhan usaha. Ada dampak lain yang justru lebih terasa dalam kehidupan masyarakat, yaitu tumbuhnya rasa bangga terhadap budaya yang mereka miliki. “Rasa bangga terhadap budaya yang dimiliki seringkali menjadi hal yang penting namun tidak terlihat,” ujarnya ketika ditanya mengenai dampak yang sering kali tidak terlihat tetapi dirasakan masyarakat.
Kisah Kemiren menunjukkan bahwa melestarikan budaya tidak berarti menolak perubahan. Sebaliknya, budaya dapat menjadi dasar untuk membangun masa depan. Tradisi Osing tetap hidup, sementara kesehatan masyarakat diperkuat, pendidikan dikembangkan, lingkungan dijaga, dan peluang usaha dibuka.
Pada akhirnya, kesejahteraan desa tidak hanya terlihat dari meningkatnya pendapatan atau jumlah wisatawan. Kesejahteraan juga terlihat ketika masyarakat mampu menjaga identitasnya, memiliki kesempatan untuk berkembang, dan dapat menjadi pelaku utama dalam menentukan masa depan desanya.
Di Kemiren, budaya Osing tidak dibiarkan menjadi sekadar cerita dari masa lalu. Ia terus hidup dalam masyarakat, diwariskan kepada generasi muda, dirawat melalui lingkungan, dan dikembangkan menjadi peluang ekonomi. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan sebuah desa untuk tumbuh tanpa kehilangan akar budayanya.