Kolom

Di Balik Layar Kaca: Ketika Nasionalisme Dibentuk oleh Film dan Emosi Massa

Di Balik Layar Kaca: Ketika Nasionalisme Dibentuk oleh Film dan Emosi Massa
Ilustrasi Film (Unsplash/@jeremyyappy)

Indonesia mungkin adalah salah satu negara yang paling emosional ketika berbicara tentang simbol nasional. Bendera, lagu daerah, lambang negara, bahkan tayangan film dapat berubah menjadi pemantik amarah kolektif dalam waktu singkat.

Kita pernah melihat bagaimana publik bereaksi keras terhadap pembakaran bendera Merah Putih di luar negeri, memprotes penggunaan lagu Rasa Sayange oleh Malaysia, hingga menganggap pengibaran Bintang Kejora sebagai ancaman serius bagi persatuan bangsa.

Semua itu menunjukkan satu hal. Nasionalisme di Indonesia bukan sekadar ide politik, tetapi juga perasaan yang diproduksi, dipelihara, dan dipertontonkan terus-menerus melalui budaya populer.

Di sinilah layar memainkan peran penting.

Sejak lama film Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga alat pembentuk identitas nasional. Bahkan sejak era awal kemerdekaan, perfilman Indonesia tumbuh berdampingan dengan semangat mempertahankan negara yang baru lahir.

Nasionalisme menjadi tema dominan karena bangsa ini memang dibangun dalam suasana ancaman: ancaman kolonialisme, disintegrasi, hingga pengaruh budaya Barat yang dianggap dapat mengikis identitas lokal.

Akibatnya, banyak film Indonesia selalu hadir dengan semangat mendidik. Penonton tidak sekadar diajak tertawa atau menangis, tetapi juga diarahkan untuk menjadi warga negara yang baik.

Ada gairah menggurui yang sangat kuat dalam perfilman Indonesia. Tokoh baik biasanya adalah mereka yang nasionalis, sederhana, pekerja keras, dan rela berkorban demi bangsa. Sebaliknya, tokoh jahat kerap digambarkan dekat dengan kerakusan, pengkhianatan, atau pengaruh asing.

Menariknya, setelah perfilman Indonesia sempat tenggelam pada dekade 1990-an dalam tema erotisme, kekerasan, dan thriller murahan, nasionalisme kembali bangkit besar-besaran pada era 2000-an. Namun bentuknya berubah. Nasionalisme tidak lagi hadir lewat propaganda negara yang kaku seperti era Orde Baru, melainkan dibungkus dengan emosi personal dan cerita inspiratif.

Film Laskar Pelangi menjadi contoh paling jelas. Film itu bukan film perang, bukan film politik, tetapi berhasil membangkitkan rasa bangga menjadi orang Indonesia.

Penonton diajak percaya bahwa anak-anak miskin dari Belitung pun mampu bermimpi besar berkat pendidikan dan kerja keras. Nasionalisme dalam film ini terasa lembut, hangat, dan penuh harapan. Kita menangis bukan karena pidato patriotik, melainkan karena melihat anak-anak desa berjuang melawan keterbatasan.

Hal serupa terlihat dalam Gie, Garuda di Dadaku, hingga trilogi Merah Putih. Semua film itu menjual gagasan tentang Indonesia sebagai sesuatu yang layak dicintai. Bahkan pemilihan simbol seperti “Garuda”, lagu “Indonesia Raya”, atau kisah perjuangan rakyat kecil dilakukan dengan sangat sadar untuk membangkitkan emosi kebangsaan.

Tetapi di balik semua itu, ada pertanyaan penting: nasionalisme seperti apa yang sebenarnya sedang dibangun?

Sering kali nasionalisme di layar Indonesia terasa sangat sentimental, tetapi kurang kritis. Kita diajak mencintai Indonesia, tetapi tidak selalu diajak memahami luka-luka sejarah Indonesia sendiri.

Misalnya, isu Papua sering muncul hanya dalam kerangka ancaman separatisme, bukan sebagai persoalan ketimpangan dan sejarah panjang kekerasan negara. Publik lebih mudah marah ketika bendera dibakar di luar negeri dibanding ketika ada diskriminasi sosial di dalam negeri sendiri.

Di titik ini budaya populer bekerja sangat efektif. Film, televisi, dan media sosial membentuk cara masyarakat memandang bangsa. Simbol-simbol nasional menjadi sesuatu yang sakral dan emosional. Ketika lagu daerah diklaim negara lain, publik marah besar.

Ketika tim nasional menang sepak bola, seluruh negeri merasa bersatu. Namun ironisnya, rasa persatuan itu kadang hanya kuat di wilayah simbolik, sementara ketimpangan sosial, intoleransi, dan konflik identitas masih terus berlangsung.

Nasionalisme akhirnya berubah menjadi tontonan emosional yang mudah diproduksi dan dikonsumsi. Ia hadir lewat soundtrack heroik, adegan bendera berkibar, atau kisah anak miskin yang berhasil menggapai mimpi. Semua itu memang penting untuk membangun optimisme bangsa, tetapi nasionalisme tidak boleh berhenti pada rasa haru semata.

Bangsa yang matang bukan hanya bangsa yang mudah tersinggung ketika simbolnya dihina, tetapi juga bangsa yang berani mengkritik dirinya sendiri.

Film dan budaya populer seharusnya tidak hanya menjadi alat untuk mengelus-elus kebanggaan nasional, melainkan juga ruang untuk bercermin: siapa sebenarnya kita sebagai orang Indonesia, sejarah apa yang kita sembunyikan, dan identitas seperti apa yang sedang kita bangun di tengah dunia yang terus berubah.

Karena pada akhirnya, layar bukan cuma memantulkan wajah bangsa, ia juga ikut menciptakannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda