Kolom
Fenomena Zero Post di Media Sosial, saat Generasi Z Memilih Sunyi
Pernahkah saat kita membuka profil Instagram seseorang lalu mendapati unggahan kosong meskipun jumlah pengikutnya mencapai ribuan? Atau mungkin kita sendiri yang merasa malas mengunggah foto terbaru karena takut tidak ada yang menyukainya? Jika pernah, kita tidak sendirian. Saat ini banyak fenomena menarik yang tengah melanda generasi muda, terutama Generasi Z. Mereka tetap online, aktif berselancar, tetapi memilih untuk tidak mengunggah apa pun. Inilah yang disebut sebagai fenomena zero post.
Apa Itu zero post? Perlu kita sederhanakan zero post pada akun sosmed generasi z merujuk pada kebiasaan tidak atau sangat jarang mengunggah konten di media sosial, meskipun penggunanya tetap aktif menjelajah, menonton, dan berinteraksi secara pasif.
Tren terkini bernama zero post pertama kali diperkenalkan oleh penulis esai Kyle Chayka, yang menyoroti perubahan perilaku generasi muda dalam ritual berbagi kabar secara daring. Kemudian tren ini juga didukung data dan laporan riset. Berdasarkan laporan riset internasional periode 2024 hingga 2026 mencatat bahwa aktivitas membuat unggahan mengalami penurunan drastis. selanjutnya berdasarkan data Ofcom, proporsi pengguna yang aktif membuat postingan, berbagi, atau berkomentar menurun dari 61 persen pada 2024 menjadi 49 persen pada 2025.
Tidak ada postingan bukan berarti tidak aktif, menariknya penggunaan media sosial tidak menurun sekitar 89 persen pengguna internet dewasa tetap menggunakan media sosial dalam kesehariannya. Artinya, generasi z tidak pergi dari media sosial. Mereka hanya mengubah cara berinteraksi. Dari panggung publik, mereka pindah ke ruang privat seperti grup chat, fitur close friends, dan direct message.
Terdapat keunikan zero post dan mengapa mereka memilih diam atau tidak menampilkan kegiatan atau prestasinya? Keunikan generasi z terletak pada kesadaran kritis terhadap dunia digital. Fenomena zero post sebetulnya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebutuhan validasi, tekanan sosial di dunia digital, hingga keinginan menjaga privasi.
Alih-alih terus menerus memamerkan kehidupan seperti generasi sebelumnya, generasi z justru memilih curated invisibility atau menghilang secara terencana. Suatu hal seperti tidak ada postingan bukan sekadar tren estetika, melainkan strategi untuk melindungi kesehatan mental dan mengatasi tekanan sosial.
Keunikan lainnya dari pembawaan komunikasi yang dulunya di dunia digital Gen Z lebih ekspresif, adaptif, dan bergerak cepat mengikuti tren, tetapi saat ini mereka memilih keheningan sebagai bentuk ekspresi.
Ada ironi menarik di sini. Di satu sisi, generasi z merupakan generasi yang paling vokal membicarakan kesehatan mental. Banyak dari mereka merasa tidak percaya diri ketika tidak ada yang mengomentari atau menyukai foto yang diunggah. Lalu bagaimana mungkin mereka yang rentan tidak percaya diri justru memilih untuk tidak posting sama sekali? Jawabannya terletak pada strategi koping.
Fenomena zero post sebenarnya bisa menjadi tameng pelindung. Berbagai psikolog menjelaskan bahwa tidak memposting dapat mengurangi kecemasan kinerja. Proses membuat dan mengelola feed secara konvensional menguras sumber daya kognitif dan emosional. Dengan mengosongkan feed, seseorang terbebas dari tekanan untuk tampil sempurna dan dari perbandingan sosial yang tidak baik.
Untuk generasi z sendiri menganggap zero post sebagai refleksi diri dan berkaitan dengan rasa kurang percaya diri, kecemasan terhadap penilaian orang lain, atau tekanan untuk terlihat sempurna. mereka sebenarnya sedang melindungi diri, menghindari fluktuasi harga diri yang disebabkan oleh validasi digital yang tidak stabil.
Meski sebagai refleksi, zero post juga memiliki sisi gelap, jika tidak diimbangi dengan interaksi sosial yang sehat, seseorang bisa terus membandingkan diri dengan orang lain, merasa terisolasi, hingga mengalami kecemasan. Apalagi jika hanya scrolling tanpa interaksi, itu berisiko terhadap kesehatan mental.
Dampak paling signifikan dari fenomena ini adalah bergesernya makna eksistensi digital. Eksistensi tidak lagi diukur dari frekuensi mengunggah, tetapi dari selektivitas menjaga jejak digital. Dampak nihi postingan juga terasa pada industri media sosial. Platform seperti Instagram pun mulai beradaptasi dengan mendorong fitur berbagi privat.
Sayangnya, kebanyakan zero postingan pada akun sosmed generasi z juga membuat sebagian dari mereka justru semakin tidak percaya diri. Mengapa? Karena keheningan bisa disalahartikan sebagai ketidakmampuan bersaing.
Ada kekhawatiran bahwa jika tidak aktif di sosial media, orang akan melupakan keberadaan mereka yang nol postingan. Banyak yang merasakan kalau postingan harus berupa pencapaian besar, di sisi lain takut orang tidak suka atau bahkan menjadi bumerang.
Gerakan zero post sebagai protes kolektif terhadap budaya validasi digital yang mengorbankan privasi dan hubungan otentik. Generasi Z telah mengidap apa yang disebut performance fatigue atau kelelahan tampil. Mereka lelah membandingkan diri dan mengejar validasi dangkal.
Fenomena ini penting karena mencerminkan perubahan fundamental dalam budaya digital. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 mencatat pengguna internet Indonesia mencapai 229,43 juta jiwa, dengan generasi z sebagai kelompok pengguna paling aktif. Jika generasi paling aktif ini memilih diam, maka lanskap media sosial akan berubah total.
Selain itu, fenomena zero post mengajarkan sesuatu kepada kita seperti online tidak selalu berarti aktif posting. Kadang diam adalah pilihan, dan sunyi pun bisa bersuara. Ini adalah pengingat bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah postingan atau jumlah like, melainkan oleh sejauh mana ia merasa nyaman dengan diri sendiri tanpa membutuhkan pengakuan orang lain.
Memahami fenomena zero post sebagai bentuk kematangan sekaligus kemunduran. Kematangan generasi z pada akhirnya sadar akan jebakan validasi dan memilih melindungi kesehatan mental mereka. Namun, kemunduran terjadi saat diam yang berarti menyerahkan ruang publik kepada konten artifisial, algoritma, dan iklan.