Kolom
Perempuan, Self-Care, dan Isu Lingkungan: Bisakah Semua Berjalan Bersama?
Belakangan ini, self-care menjadi istilah yang sangat dekat dengan kehidupan perempuan modern. Setelah lelah bekerja, kuliah, atau menghadapi tekanan sehari-hari, banyak perempuan mulai lebih sadar pentingnya merawat diri sendiri.
Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari skincare, membeli makanan favorit, journaling, olahraga ringan, sampai menikmati waktu tenang tanpa gangguan. Dan hal ini bukan sekadar kesadaran, tapi sudah menjadi tren.
Menurut saya, self-care memang penting. Perempuan sering tumbuh dengan kebiasaan memikirkan banyak hal sekaligus—pekerjaan, keluarga, relasi, hingga ekspektasi sosial. Karena itu, merawat diri sendiri bukan sesuatu yang egois.
Meski tujuannya demi menjaga kesehatan mental dan emosional, tapi gaya hidup self-care sekarang juga terbilang kontradiktif. Bukan lagi fokus pada kebutuhan, melainkan mulai identik dengan konsumsi.
Semakin banyak produk, tren, dan rutinitas yang dianggap bagian dari “merawat diri.” Mulai dari skincare berlapis, masker sekali pakai, belanja produk viral, sampai kebiasaan membeli barang baru atas nama healing.
Pada akhirnya self-care malah seolah berseberangan dengan isu lingkungan. Di titik ini, muncul pertanyaan dalam pikiran saya: apakah self-care dan kepedulian terhadap lingkungan masih bisa berjalan bersama?
Ketika Self-Care Identik dengan Konsumsi
Media sosial punya pengaruh besar dalam membentuk budaya self-care era ini. Timeline dipenuhi konten “me time”, skincare routine, racun produk kecantikan, sampai rekomendasi barang estetik untuk meningkatkan mood.
Tanpa sadar, perempuan jadi lebih mudah merasa kalau self-care harus selalu dibarengi dengan membeli sesuatu. Padahal tidak semua bentuk self-care perlu bersifat konsumtif.
Masalahnya, industri kecantikan dan gaya hidup sekarang berkembang sangat cepat. Produk baru terus bermunculan dengan kemasan menarik dan promosi yang menggoda perempuan untuk membeli lebih banyak.
Ironisnya, kebiasaan ini juga berdampak pada lingkungan. Sampah plastik dari produk kecantikan, kemasan belanja online, hingga produk sekali pakai terus meningkat. Belum lagi tren fast fashion yang membuat orang merasa wajib mengikuti gaya hidup estetik di media sosial.
Akhirnya, self-care yang seharusnya tentang merawat diri perlahan berubah menjadi budaya konsumsi berlebihan. Salah siapa? Tentu semua pihak ikut berperan hingga tujuan awal yang baik jadi berubah arah.
Perempuan dan Kesadaran terhadap Lingkungan
Menurut saya, perempuan sebenarnya punya peran besar dalam membangun gaya hidup yang lebih ramah lingkungan. Kini banyak perempuan mulai sadar soal penggunaan tote bag, tumbler, thrifting, skincare refill, hingga mengurangi sampah rumah tangga.
Kesadaran seperti ini penting karena isu lingkungan sekarang semakin nyata. Sampah plastik meningkat, polusi makin terasa, dan perubahan iklim mulai memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Namun, tantangannya memang tidak mudah. Di satu sisi, perempuan ingin tetap menikmati self-care dan merawat diri. Di sisi lain, ada rasa bersalah ketika menyadari kebiasaan konsumtif juga ikut menghasilkan limbah.
Menurut saya, dilema ini cukup wajar. Karena hidup di era digital memang membuat perempuan terus dibombardir oleh tren dan produk baru setiap hari, termasuk tekanan di media sosial.
Self-Care Tidak Harus Selalu Membeli
Saya rasa salah satu hal yang perlu diubah adalah cara memandang self-care itu sendiri. Selama ini, self-care sering diasosiasikan dengan belanja atau membeli produk tertentu.
Padahal merawat diri sebenarnya tidak selalu harus mengeluarkan banyak uang atau menghasilkan banyak sampah. Kadang self-care bisa sesederhana tidur cukup, berjalan santai, membaca buku, atau meluangkan waktu tanpa tekanan media sosial.
Perempuan tetap bisa merawat diri tanpa harus terus mengikuti tren konsumsi yang tidak ada habisnya. Kalau pun ingin membeli sesuatu, mungkin bisa mulai lebih sadar terhadap pilihan yang diambil.
Misalnya membeli produk yang benar-benar dibutuhkan, memilih barang yang bisa dipakai jangka panjang, atau mendukung produk ramah lingkungan. Langkah kecil ini mungkin tidak langsung mengubah dunia, tapi tetap punya dampak positif.
Menjaga Diri dan Menjaga Lingkungan Bisa Berjalan Bersama
Self-care dan kepedulian terhadap lingkungan sebenarnya tidak harus saling bertentangan. Keduanya justru bisa berjalan bersama jika dilakukan dengan lebih sadar dan seimbang. Sebab merawat diri dan menjaga lingkungan sama pentingnya.
Perempuan tidak harus hidup sempurna tanpa sampah atau berhenti menikmati hidup demi menjadi ramah lingkungan. Yang lebih penting adalah mulai membangun kebiasaan kecil yang lebih bijak dan tidak berlebihan.
Karena pada akhirnya, self-care bukan hanya tentang kenyamanan hari ini, tapi juga menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk diri sendiri dan lingkungan di masa depan. Dan mungkin ini bentuk self-love paling sederhana yang justru berdampak positif.