Kolom
Kenapa Gen Z Makin Jarang Memasak? Ini Dampak Tersembunyi di Baliknya
Ada satu perubahan kecil dalam kehidupan modern yang sering luput disadari: dapur semakin jarang digunakan.
Banyak orang hari ini, terutama generasi muda, lebih terbiasa membuka aplikasi pesan makanan dibanding menyiapkan bahan masakan sendiri di rumah. Ketika lapar, makanan bisa datang hanya dalam beberapa menit. Praktis, cepat, dan tidak membutuhkan banyak tenaga.
Kemudahan ini tentu menjadi bagian dari perkembangan zaman. Teknologi membantu manusia menjalani hidup dengan lebih efisien. Namun, di balik semua kemudahan itu, muncul pertanyaan yang cukup menarik untuk dibahas: apa yang terjadi ketika semakin banyak orang mulai jarang memasak?
Sekilas mungkin terdengar sepele. Padahal, kebiasaan memasak sebenarnya berkaitan dengan banyak hal—mulai dari kesehatan, pola hidup, hubungan keluarga, hingga cara manusia menghargai proses dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut survei Jakpat yang dikutip GoodStats, Gen Z termasuk generasi yang paling jarang memasak dibanding generasi sebelumnya. Sebagian besar lebih memilih membeli makanan jadi atau mengandalkan orang lain untuk menyiapkan makanan. Fenomena ini menunjukkan bahwa memasak perlahan mulai bergeser dari kebutuhan dasar menjadi sekadar pilihan gaya hidup.
Ketika Memasak Tidak Lagi Dianggap Keterampilan Penting
Dulu, kemampuan memasak sering dianggap sebagai bagian dari keterampilan hidup. Tidak harus pandai membuat hidangan rumit, tetapi setidaknya seseorang mampu menyiapkan makanan sederhana untuk dirinya sendiri.
Kini, situasinya mulai berubah. Banyak orang mampu mengerjakan berbagai hal secara digital, bekerja cepat, dan beradaptasi dengan teknologi, tetapi masih merasa kesulitan untuk memasak makanan dasar tanpa bantuan tutorial.
Perubahan ini sebenarnya cukup bisa dipahami. Ritme hidup modern membuat banyak orang merasa kelelahan. Setelah bekerja atau beraktivitas seharian, memasak sering dianggap merepotkan karena membutuhkan waktu dan tenaga tambahan. Belum lagi harus membeli bahan, mencuci peralatan, dan membereskan dapur setelah selesai.
Di tengah kondisi seperti itu, membeli makanan tentu terasa jauh lebih praktis.
Lama-kelamaan, memasak tidak lagi dipandang sebagai kemampuan dasar untuk bertahan hidup, melainkan aktivitas tambahan yang bisa dilewatkan.
Padahal, ketika manusia semakin jauh dari proses memasak, mereka juga perlahan kehilangan kedekatan dengan makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Praktis Memang Memudahkan, tetapi Tidak Selalu Menyehatkan
Salah satu dampak paling nyata dari berkurangnya kebiasaan memasak adalah perubahan pola makan masyarakat.
Makanan cepat saji, makanan instan, dan layanan pesan antar memang menawarkan kemudahan. Namun, konsumsi makanan seperti ini secara terus-menerus sering kali membuat seseorang kurang memperhatikan kandungan gizi dalam makanannya sendiri.
Saat memasak sendiri, seseorang biasanya lebih sadar terhadap bahan yang digunakan. Kita bisa mengatur jumlah gula, garam, minyak, maupun memilih bahan yang lebih segar dan sehat.
Sebaliknya, ketika makanan hanya menjadi sesuatu yang “tinggal pesan”, hubungan manusia dengan proses makan menjadi lebih pasif. Yang penting kenyang, cepat, dan terasa enak.
Fenomena ini juga diperkuat oleh budaya digital. Media sosial membuat makanan bukan hanya kebutuhan biologis, tetapi juga bagian dari tren dan gaya hidup. Tidak sedikit orang tertarik mencoba makanan viral sekadar karena penasaran atau ingin mengikuti tren yang sedang ramai dibicarakan.
Akibatnya, pola makan sering kali lebih dipengaruhi keinginan sesaat dibanding kebutuhan tubuh itu sendiri.
Dapur yang Semakin Sepi, Hubungan Sosial yang Ikut Berubah
Jarangnya aktivitas memasak ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Dulu, dapur dan meja makan sering menjadi ruang interaksi keluarga. Ada percakapan kecil saat memasak, suasana makan bersama, atau kebiasaan sederhana yang mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Sekarang, pemandangan seperti itu mulai semakin jarang ditemui. Banyak orang makan sambil bermain ponsel, menonton video, atau bahkan makan sendiri di kamar masing-masing.
Kesibukan memang menjadi salah satu penyebabnya. Namun, di sisi lain, perubahan gaya hidup modern juga membuat aktivitas makan menjadi semakin individual.
Padahal, makanan memiliki hubungan emosional yang cukup kuat dengan manusia. Banyak orang mungkin lupa percakapan tertentu, tetapi masih mengingat aroma masakan rumah atau makanan favorit yang dulu sering dibuat oleh orang tua mereka.
Hal-hal sederhana seperti itu menunjukkan bahwa makanan bukan sekadar soal rasa kenyang, tetapi juga berkaitan dengan rasa nyaman, kedekatan, dan kenangan.
Budaya Serba Instan Membuat Manusia Makin Tidak Akrab dengan Proses
Memasak sebenarnya adalah aktivitas yang mengajarkan kesabaran.
Ada proses memotong bahan, menunggu matang, menyesuaikan rasa, hingga membersihkan dapur setelah selesai. Semua membutuhkan waktu dan perhatian.
Sayangnya, kehidupan modern bergerak sangat cepat. Banyak orang terbiasa mendapatkan sesuatu secara instan, mulai dari belanja, hiburan, hingga makanan.
Tanpa disadari, manusia menjadi semakin tidak terbiasa menghadapi proses yang lambat.
Padahal, justru dalam proses itulah terdapat pengalaman yang penting. Banyak penelitian menunjukkan bahwa aktivitas memasak dapat membantu seseorang merasa lebih rileks dan fokus karena pikiran diarahkan pada satu kegiatan sederhana secara penuh.
Tidak heran jika selama pandemi, banyak orang mulai kembali mencoba memasak di rumah. Aktivitas ini menjadi cara untuk mengurangi stres sekaligus menghadirkan rasa tenang di tengah situasi yang tidak pasti.
Resep Rumahan dan Tradisi yang Perlahan Menghilang
Dampak lain yang cukup penting adalah hilangnya warisan kuliner rumahan.
Banyak resep tradisional sebenarnya diwariskan melalui kebiasaan sehari-hari. Anak belajar memasak karena melihat orang tua memasak di rumah, bukan semata-mata dari buku resep.
Ketika generasi muda semakin jarang masuk dapur, pengetahuan semacam ini perlahan ikut berkurang.
Padahal, makanan tradisional bukan hanya tentang rasa. Di dalamnya ada cerita keluarga, budaya, bahkan identitas suatu daerah.
Jika kebiasaan memasak semakin ditinggalkan, bukan tidak mungkin generasi berikutnya akan lebih mengenal makanan viral di media sosial dibanding masakan khas dari daerahnya sendiri.
Memasak Bukan Sekadar Soal Makanan
Tentu saja, bukan berarti semua orang harus memasak setiap hari atau meninggalkan layanan pesan antar sepenuhnya. Kehidupan modern memang menuntut banyak hal, dan tidak semua orang memiliki waktu yang cukup untuk selalu memasak sendiri.
Namun, setidaknya, penting untuk tetap menjaga kedekatan dengan aktivitas memasak, sesederhana apa pun itu.
Sebab, di balik kegiatan yang terlihat biasa tersebut, sebenarnya ada banyak nilai yang ikut terlibat: kemandirian, kesehatan, hubungan sosial, hingga kemampuan menghargai proses.
Mungkin itulah alasan mengapa memasak tidak pernah benar-benar hanya soal makanan.
Kadang, dapur adalah tempat manusia belajar merawat dirinya sendiri, menjaga kedekatan dengan orang lain, dan sesekali melambat dari kehidupan yang terlalu terburu-buru.