Kolom
BBM di Indonesia Lebih Murah dari Singapura, tapi Apakah Lebih Terjangkau?
Perbandingan harga BBM Indonesia dengan negara lain kembali menjadi perhatian setelah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya membagikan perbandingan harga BBM sejumlah negara, termasuk Singapura. Dalam unggahannya, Teddy menyebut harga BBM Indonesia masih lebih rendah dibandingkan beberapa negara lain.
Melalui unggahan tersebut, Teddy menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Ia juga membandingkan harga BBM Indonesia dengan sejumlah negara untuk menunjukkan bahwa harga Pertamax masih berada di bawah harga BBM dengan spesifikasi serupa di beberapa negara lain.
Setelah penyesuaian harga, Pertamax berada di angka Rp16.250 per liter. Sementara itu, harga BBM dengan spesifikasi RON 92/95 di Singapura disebut berada di kisaran Rp42 ribu per liter.
Jika hanya melihat angka di stasiun pengisian bahan bakar, harga BBM Indonesia memang terlihat lebih murah dibandingkan Singapura. Namun, pertanyaan lain muncul, apakah harga yang lebih rendah tersebut juga berarti lebih mudah dijangkau oleh masyarakat?
Sebab, kemampuan masyarakat dalam membeli sebuah barang tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga tingkat pendapatan. Harga BBM yang lebih tinggi di suatu negara belum tentu memberikan beban lebih besar apabila pendapatan masyarakatnya juga berada pada tingkat yang berbeda.
Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) melalui World Economic Outlook, mengutip pada Senin (15/6/2026), terdapat perbedaan cukup besar dalam indikator ekonomi rata-rata antara Indonesia dan Singapura. GDP per kapita nominal Singapura pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar US$99 ribu, sedangkan Indonesia berada di kisaran US$5 ribu per tahun.
Angka tersebut tidak dapat diartikan sebagai jumlah pendapatan yang diterima setiap individu. Namun, GDP per kapita dapat memberikan gambaran mengenai rata-rata nilai ekonomi yang dihasilkan setiap penduduk serta menunjukkan perbedaan kapasitas ekonomi antara kedua negara.
Dari sisi pendapatan pekerja, Kementerian Tenaga Kerja Singapura (Ministry of Manpower/MOM) menggunakan median pendapatan pekerja penuh waktu sebagai salah satu indikator untuk melihat kondisi pendapatan tenaga kerja. Data MOM mencatat median pendapatan dasar bulanan pekerja penuh waktu Singapura pada 2024 berada di angka S$4.275.
Angka tersebut menggambarkan posisi tengah pendapatan pekerja penuh waktu, sehingga tidak berarti seluruh pekerja menerima jumlah pendapatan yang sama. Selain itu, angka tersebut juga berbeda dengan pendapatan bersih yang diterima pekerja karena belum memperhitungkan berbagai komponen lain seperti bonus dan tunjangan.
Sebagai ilustrasi sederhana, membeli 40 liter BBM dengan harga Pertamax Rp16.250 per liter membutuhkan biaya sekitar Rp650 ribu. Sementara jumlah yang sama dengan harga BBM Singapura sekitar Rp42 ribu per liter membutuhkan biaya lebih dari Rp1,6 juta.
Namun, nominal tersebut belum cukup untuk menentukan negara mana yang memiliki beban BBM lebih berat. Perlu melihat seberapa besar pengeluaran tersebut dibandingkan dengan pendapatan yang diterima masyarakat.
Dalam ekonomi, istilah “murah” dan “terjangkau” memiliki arti berbeda. Murah mengacu pada angka harga yang dibayar, sedangkan terjangkau berkaitan dengan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan tanpa terlalu membebani kondisi keuangan.
Selain faktor pendapatan, Indonesia dan Singapura juga memiliki kebijakan energi yang berbeda. Indonesia masih memberikan subsidi untuk beberapa jenis BBM seperti Pertalite dan Solar subsidi sebagai salah satu upaya menjaga daya beli masyarakat.
Sementara itu, Singapura memiliki kebijakan transportasi yang berbeda dengan Indonesia, termasuk pengaturan kepemilikan kendaraan pribadi dan penggunaan transportasi publik. Karena itu, harga BBM menjadi salah satu bagian dari sistem transportasi yang lebih luas di negara tersebut.
Pada akhirnya, membandingkan harga BBM Indonesia dan Singapura tidak hanya berbicara mengenai angka rupiah per liter. Perbedaan pendapatan, biaya hidup, dan kebijakan masing-masing negara menjadi faktor penting untuk melihat apakah sebuah harga benar-benar terasa murah bagi masyarakat.