Kolom

Diklat Manajer Kopdes Merah Putih Bernuansa Militer, Netizen: Mau Dagang atau Perang?

Diklat Manajer Kopdes Merah Putih Bernuansa Militer, Netizen: Mau Dagang atau Perang?
Diklat Manajer Kopdes Merah Putih (Instagram/pusdikkavpussenkav)

Lini masa media sosial kita belakangan ini lagi ramai banget, Sobat Yoursay. Rasanya belum kering ingatan kita soal rentetan kontroversi yang menyelimuti program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih ini. Kalau kita kilas balik sedikit, program ini seolah tidak pernah absen dari sorotan publik akibat berbagai keputusan manajemennya yang dinilai kurang matang.

Kita tentu masih ingat bagaimana blunder awal bermula dari urusan lokasi pembangunan koperasi yang dianggap tidak sesuai, bahkan banyak yang dibangun di lokasi pelosok yang aksesnya sangat sulit dijangkau oleh masyarakat sekitar.

Belum selesai polemik geografis tersebut, publik lagi-lagi dibuat heran dengan konsep operasionalnya yang dinilai rancu, di mana entitas yang dinamai koperasi ini justru tampil di lapangan dengan kedok dan skema bisnis yang menyerupai minimarket modern, alih-alih menghidupkan asas kekeluargaan khas koperasi tradisional.

Seolah tidak ingin berhenti memproduksi drama, kini kontroversi baru kembali muncul ke permukaan. Bukan lagi soal gedung atau konsep bisnisnya, melainkan masalah pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi para calon manajernya yang mendadak viral.

Sebuah unggahan di media sosial sukses mencuri perhatian netizen setelah memperlihatkan bagaimana para calon manajer muda ini sedang asyik memakai atribut lapangan, lengkap dengan topi rimba loreng dan sabuk taktis, di bawah arahan instruktur yang berwujud bapak-bapak berseragam tentara. Sontak saja kolom komentar langsung diserbu komentar kocak sekaligus kritis dari para netizen, ini sebenarnya mau ngelamar jadi manajer koperasi desa atau mau ikutan seleksi komponen cadangan militer, sih?

Fenomena unik ini langsung memicu kembali sindiran lawas yang sudah sering kita dengar di kalangan anak muda, yaitu tentang fenomena "tentara jadi sipil dan sipil jadi tentara". Kita semua tahu betul kalau nilai kedisiplinan serta ketahanan mental itu adalah modal yang sangat penting di dunia kerja mana pun. Namun, kalau dosis pelatihan yang diberikan sudah dirasa berlebihan, terlalu ketat, dan salah tempat, jadinya malah kelihatan kurang nyambung dengan realitas pekerjaan harian mereka nantinya.

Koperasi desa itu adalah sebuah lembaga ekonomi kerakyatan, sebuah ruang bisnis yang mengutamakan pelayanan sosial, komunikasi, dan perputaran uang untuk warga lokal. Jadi, agak membingungkan kalau pembekalan utamanya justru digeser jauh ke arah latihan fisik dan mental ala militer yang sangat menguras tenaga.

Sobat Yoursay, ketika para manajer muda ini nantinya selesai diklat dan langsung diterjunkan ke lapangan, tantangan nyata apa sih yang bakal mereka hadapi setiap hari di kantor koperasi? Mereka tidak akan dihadapkan pada ancaman keamanan fisik atau musuh yang datang menyerang dari hutan. Tantangan mereka adalah tumpukan laporan keuangan yang rumit, manajemen stok barang agar tidak terjadi defisit, perancangan strategi promosi, hingga bagaimana cara memberikan pelayanan terbaik (service excellence) ke pelanggan agar warga desa betah berbelanja di koperasi tersebut.

Mereka perlu tahu cara menaikkan omzet usaha, menata display produk biar rapi dan menarik perhatian pembeli, sampai cara memanfaatkan ekosistem digital untuk memperluas pasar koperasi. Sayangnya, semua kemampuan esensial dan taktis di dunia bisnis itu tidak bisa otomatis dikuasai hanya dengan mahir baris-berbaris atau sekadar tahan mental saat dibentak-bentak selama masa pelatihan fisik.

Kritik tajam yang muncul dari warganet belakangan ini sebenarnya sangat berdasar karena adanya ketidakselarasan (mismatch) antara proses pelatihan dengan pekerjaan asli mereka di lapangan. Alih-alih menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk diklat bernuansa semi-militer yang melelahkan, alangkah baiknya kalau kurikulum pelatihan tersebut difokuskan total pada pembekalan manajemen praktis.

Memang ada argumen dari pihak penyelenggara yang menyebutkan kalau latihan fisik yang ketat ini bertujuan untuk menanamkan jiwa kepemimpinan yang kuat, loyalitas, dan ketahanan mental di daerah penempatan pelosok yang menantang. Tapi mari kita bersikap realistis dalam melihat dinamika zaman. Kepemimpinan dalam dunia bisnis modern saat ini lebih membutuhkan pendekatan yang adaptif, komunikatif, penuh empati, dan kaya akan inovasi, bukan instruksi kaku satu arah seperti yang biasa diterapkan di dalam barak komando.

Anak-anak muda berbakat yang direkrut ini adalah aset profesional yang harusnya diasah kreativitasnya untuk memecahkan masalah ekonomi di desa, bukan malah ditekan daya kritisnya agar selalu patuh tanpa syarat pada setiap komando atasannya.

Pertanyaannya, apakah setelah fase diklat ala militer ini selesai, mereka baru akan mendapatkan materi manajemen bisnis yang relevan, atau jangan-jangan porsi teknisnya malah kalah dominan dibanding latihan fisiknya?

Semoga saja pihak penyelenggara dan instansi pemerintah terkait mau membuka mata dan mendengar keresahan serta masukan objektif dari publik ini. Kita tentu sangat mendukung program penguatan ekonomi di tingkat desa, tetapi eksekusinya harus tetap berjalan di atas jalur yang profesional, masuk akal, dan fungsional sesuai kebutuhan industri.

Jangan sampai anggaran besar dari uang rakyat yang diturunkan untuk melatih manajer koperasi ini justru habis hanya untuk mencetak pekerja sipil yang jago semi-militer, tetapi mendadak gagap dan bingung saat disuruh mengelola arus kas usaha koperasi. Kalau menurut pandangan kalian sendiri melihat fenomena diklat yang unik ini bagaimana, Sobat Yoursay?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda