Kolom
Mengenal Desa Kemiren: Menjaga Budaya Osing Bersama Desa Sejahtera Astra
Saya biasanya tertarik dengan berita-berita kehidupan sosial. Kadang, saya membaca mengenai beragam masalah negara seperti kasus korupsi, prasarana pendidikan yang tidak memadai, atau -belakangan ini- masalah air bersih di beberapa daerah seperti Bandung.
Dikutip dari Detik, beberapa daerah di Bandung mengalami kekurangan air bersih karena kemarau panjang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung menyatakan bahwa mereka telah mendistribusikan 15.000 liter air bersih kepada 666 keluarga, terdiri atas 2.134 jiwa pada tiga RW di Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari.
Ya, itu tadi salah satu contoh berita ‘masalah dalam negeri’. Namun, demi kesehatan mental saya sendiri, saya tak mau hanya berkutat pada masalah negara. Jadilah saya mencari-cari beragam berita positif di Indonesia yang mungkin bisa saya ceritakan pada hari ini.
Akhirnya, saya menemukan satu bahasan yang mungkin bisa saya bagikan pada pembaca sekalian. Sebelumnya, saya ingin bertanya: Apakah pembaca tahu masyarakat Osing? Tahukah pembaca bahwa ada desa yang menjaga budaya Osing dan dibimbing oleh Desa Sejahtera Astra bernama Desa Kemiren?
Nah, saya mungkin bisa mendengar sayup-sayup pertanyaan seperti “Apa itu masyarakat Osing?”, “Desa Sejahtera Astra itu apa?”. Tenang, pembaca, saya bisa ceritakan pada pembaca secara runut temuan saya ini.
Sekilas Desa Kemiren

Sebelum saya banyak bercerita lebih lanjut, izinkan saya bercerita dulu mengenai Desa Kemiren dan masyarakat Osing. Desa Kemiren ini terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dari mana saya tahu hal ini? Saya sempat menonton salah satu video siaran Desa Kemiren dan masyarakat Osing dari televisi nasional di situs Youtube.
Dikutip dari buku Merawat Tradisi: Merekam Jejak Budaya Osing Kemiren yang diterbitkan Perpusnas Press pada tahun 2022, luas Desa Kemiren sekitar 177,052 hektar dengan jumlah penduduk sekitar 2.562 jiwa. Lalu, dikutip dari Kompas, ada sekitar 3683 wisatawan lokal dan 114 wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Kemiren pada tahun 2025. Sementara itu, pada pertengahan 2026, ada 3143 wisatawan lokal dan 135 wisatawan asing datang ke desa. Singkatnya, banyak yang berkunjung ke Desa Kemiren.
Tentu, dari temuan ini, saya bertanya, “Bagaimana bisa sebuah desa di Jawa Timur dikunjungi oleh banyak sekali wisatawan?”. Ternyata, ada tiga jawaban yang bisa saya simpulkan mengenai Desa Kemiren dan daya tariknya: Budaya Osing yang dijaga dengan sungguh-sungguh sehingga menarik perhatian para wisatawan, peran Kang Edai selaku ketua desa wisata, dan program Desa Sejahtera Astra.
Lalu, apa hubungan antara peran Kang Edai, program Desa Sejahtera Astra, dan Desa Kemiren?
Budaya Osing + Desa Sejahtera Astra + Kang Edai = Desa Kemiren

Penasaran dengan sosok Kang Edai, jadilah saya mendapat kesempatan berbicara dengan beliau di suatu pagi cerah. Nama asli beliau adalah Mohammad Edy Saputro, beliau ini merangkap sebagai ketua desa wisata dan tokoh penggerak desa atau Local Hero yang ditunjuk oleh PT. Astra International melalui program Desa Sejahtera Astra untuk mengembangkan Desa Kemiren lebih lanjut.
Beliau bercerita kepada saya (dan rekan-rekan saya) mengenai bagaimana Desa Kemiren ikut serta program Desa Sejahtera Astra atau DSA. Itu semua dimulai pada tahun 2024, tepat pada saat acara Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) yang diadakan oleh Kementerian Pariwisata. Pada acara tersebut, Sandiaga Uno dan tim Astra hadir. Tim Astra menunjuk Desa Kemiren sebagai salah satu bagian dari program DSA.
Kang Edai mengakui bahwa sebelum adanya DSA, Desa Kemiren fokus kepada wirausaha. Lebih spesifiknya lagi, beliau bekerja mengembangkan desa wisata dan berfokus pada budaya Osing. Beliau percaya betul bahwa pengunjung Desa Kemiren ingin sekali melihat pemandangan tropis dan sawah serta masyarakat Kemiren.
Mungkin, bukan hal yang mengherankan jika televisi nasional bisa tahu banyak mengenai, misalnya, budaya Osing yang terlihat berbeda dengan budaya Jawa atau Bali mengingat kata “Osing” berarti “Bukan orang Jawa atau Bali”.
Sekarang, dengan adanya DSA, Desa Kemiren mengembangkan wirausaha dan tiga bidang tambahan: Kesehatan, pendidikan, dan lingkungan. Desa Kemiren, dengan bimbingan DSA dan Kang Edai, berinisiatif membuat pupuk organik dan sistem pemilahan sampah.
Tak hanya itu, DSA juga menggandeng PAUD, SD, dan Posyandu Desa Kemiren untuk bekerja sama membangun desa. Berkat kerja konsisten Kang Edai dan DSA, Desa Kemiren memiliki beragam penghargaan.
Selain mendapatkan ADWI dari Kementerian Pariwisata tahun 2024, Desa Kemiren juga ditunjuk menjadi penerima program pengembangan desa wisata dari PBB bernama “Upgrade Programme of Best Tourism Villages by UN Tourism” di Tiongkok pada tahun 2025. DSA pulalah yang membiayai perwakilan Desa Kemiren untuk pergi ke Tiongkok saat itu.
Untuk mendapatkan ini semua, Kang Edai dan Desa Kemiren memiliki perjuangannya dan juga kuncinya sendiri.
Rahasia Desa Kemiren Sebagai Desa yang Dikenal Dunia

Pada masa awal Desa Kemiren mendapat dukungan Desa Sejahtera Astra, Kang Edai harus membuat beberapa penyesuaian, mulai dari sesederhana menyusun laporan, menjalin hubungan erat antara Desa Kemiren dengan keseluruhan program DSA mengingat sudah ada desa-desa lain di Jawa Timur yang telah menerima bantuan program DSA terlebih dahulu, hingga mengurus keberadaan lahan pribadi desa.
Bicara desa-desa lain di Jawa Timur penerima bantuan DSA, ternyata memang benar banyak sekali desa di Jawa Timur yang sudah ikut serta program ini seperti Desa Jombok di Jombang, Desa Ngawun di Parengan, dan Desa Ngringinrejo Bojonegoro.
Namun, hasil akhir dari penyesuaian dan usaha Kang Edai berbuah manis. Salah satu contohnya adalah kisah pelancong dari Chile yang bekerja sebagai guru musik di Amerika Serikat bernama Vicente. Beliau ini, berdasarkan penuturan Kang Edai, sempat datang ke Solo untuk belajar gamelan dan akhirnya datang ke Desa Kemiren untuk mempelajari musik Banyuwangi. Karena tertarik dengan musik Suku Osing, jadilah beliau tertarik dengan desanya dan bahkan belajar gendang Banyuwangi bersama Kang Edai dengan bayaran RP500.000 per dua jam. Fantastis, bukan?
Kisah Vicente bukan hanya buah manis kerjasama Desa Kemiren dengan DSA. Sedari tahun 2024 hingga sekarang, Desa Kemiren sekarang memiliki 50 homestay atau penginapan rumahan dengan total 92 kamar yang dikelola masyarakat Desa Kemiren sendiri, 40 pelaku usaha lokal di bidang kopi, kuliner, dan kerajinan, serta 40 anggota Kelompok Sadar Wisata atau POKDARWIS yang mengelola kegiatan wisata dan pelestarian budaya.
Semakin saya mendengar hal-hal seperti ini, rasa optimis saya akan adanya orang baik seperti Kang Edai dan program yang mendukungnya sekelas Desa Sejahtera Astra kembali muncul. Sehatlah selalu, Indonesiaku.