Kolom

Bukan Sekadar FOMO: Mengapa Anda Bisa Tergila-gila Piala Dunia Meski Tak Suka Sepak Bola?

Bukan Sekadar FOMO: Mengapa Anda Bisa Tergila-gila Piala Dunia Meski Tak Suka Sepak Bola?
Ilustrasi stadion (pexels/@Eslam Mohammed Abdelmaksoud)

Piala Dunia menjadi ajang empat tahun sekali yang selalu dinantikan para peminatnya. Pada tahun 2026, terdapat 48 negara yang menjadi peserta dari segala penjuru dunia. Kenaikan jumlah peserta dari tahun sebelumnya ini makin menarik bagi para pencinta olahraga, khususnya sepak bola. Banyak orang sangat antusias untuk menjadi penonton, baik secara langsung maupun secara online.

Dari total jumlah penduduk di dunia, yakni sekitar 8,3 miliar jiwa, diperkirakan 5,8 miliarnya merupakan penonton Piala Dunia (Flarie, 2026). Uniknya, sisa dari jumlah tersebut yang bisa saja tidak menyukai bola juga turut merasakan euforia, bahkan tahu segala hal yang berkaitan dengan pesta olahraga terbesar ini. Terdapat alasan dan tahapan yang lebih dari sekadar FOMO, tetapi lebih dalam dari sisi psikologisnya.

Paparan Informasi dari Konten Digital dan Periklanan

Selain menjadi pesta olahraga terbesar, Piala Dunia juga menjadi ajang marketing bisnis yang masif. Acara empat tahun sekali ini menjadi momen berharga yang dirayakan sekaligus dimanfaatkan banyak pihak untuk menarik atensi. Baik itu dari segi bisnis maupun personal.

Fenomena ini dapat dilihat dengan banyaknya konten tentang Piala Dunia yang bertebaran, tulisan-tulisan yang mengulik setiap pertandingannya, video-video yang menunjukkan adegan pertandingan dari setiap tim, baliho-baliho iklan produk yang berafiliasi, papan reklame dari sebuah brand yang memanfaatkan topik Piala Dunia sebagai iklan, dan masih banyak lagi.

Secara tidak langsung, semua kondisi ini meningkatkan kesadaran seseorang untuk turut mengikuti apa yang ada di sekitarnya. Intensitas yang tinggi ketika melihat sesuatu membuat seseorang terus mengingat, mengulik, dan membahasnya jika mulai tertarik. Kondisi ini akan memperkuat seseorang untuk masuk ke tahap selanjutnya.

Collective Effervescence di Ruang Publik

Emile Durkheim memiliki teori bernama collective effervescence, sebuah fenomena psikologis berupa proses sinergisasi dan penguatan emosi di antara sekelompok individu selama berkumpul atau saat berada di sekitar ritual kolektif. Fenomena ini sering terjadi di kafe, restoran, toko, swalayan, dan ruang publik lainnya.

Orang-orang yang datang ke kafe untuk menonton Piala Dunia bersama dan orang-orang yang datang ke kafe hanya untuk makan, keduanya sama-sama merasakan euforianya. Bukan karena orang-orang yang makan itu tiba-tiba menjadi suka bola, melainkan karena ada proses deindividuasi. Proses ini berkaitan dengan collective effervescence tadi yang menunjukkan bahwa seseorang bisa saja kehilangan kesadaran diri dan identitas pribadinya saat berada di dalam suatu kelompok.

Tidak heran jika orang-orang di sana turut bahagia, bersorak, bahkan memesan menu spesial edisi Piala Dunia. Padahal, tidak semuanya menyukai sepak bola. Dari sinilah akar dari alasan euforia Piala Dunia bisa meluas, bahkan untuk orang-orang yang tidak menjadi target penontonnya.

Confirmation Bias Jadi Puncak Menularnya Keberpihakan pada Tim Idola

Tahap terakhir ini mulai menciptakan aksi dari penonton yang mungkin tidak menyukai bola. Euforia terus berlanjut ketika seseorang mulai merasa tertarik untuk terus update tentang berita terbaru. Bahkan, apalagi orang-orang di sekitar terus membicarakan pertandingan yang telah, sedang, atau akan berlangsung.

Besar kemungkinan bahwa orang-orang yang tadinya tidak tertarik dengan bola menjadi pendukung baru dari sebuah tim. Menariknya lagi, ketika sudah menemukan tim, mereka terus mencari berita-berita yang mendukung ketertarikan mereka. Di sinilah confirmation bias terjadi, sebuah fenomena ketika orang-orang hanya mempercayai informasi yang sesuai dengan keinginan mereka.

Dalam tahap ini, akan makin besar kemungkinan lagi bagi seseorang yang awalnya tidak pernah menonton justru menjadi penonton setia karena tim idolanya bertanding. Seseorang yang awalnya tidak mengerti tentang sepak bola menjadi ingin mencari tahu lebih banyak lagi. Seseorang yang awalnya sangat asing dengan aturan bermain sepak bola menjadi turut memahami karena menganalisis pertandingan tim idola. Seseorang yang awalnya tidak menyukai merchandise justru menjadi pembeli terbanyak untuk mendukung tim idolanya.

Dari sini dapat dipahami bahwa euforia ini lebih dari sekadar fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Ketakutan tertinggal informasi justru hanya menjadi sebagian kecil dari alasannya. Hal ini dikarenakan alasan terbesarnya terletak dari sisi-sisi yang tidak disadari oleh manusia. Namun, sangat masif terjadi, apalagi di industri modern saat ini. Sejauh ini, kamu jadi bagian yang memang suka sepak bola dari awal atau terbawa arus euforianya saja, nih?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda