Kolom

Teach You a Lesson dan Pertanyaan Besar tentang Pendidikan Karakter

Teach You a Lesson dan Pertanyaan Besar tentang Pendidikan Karakter
Teach You a Lesson (IMDb)

Persoalan pendidikan seolah tak pernah habis untuk dibicarakan. Beberapa hari lalu, seorang siswa menusuk gurunya sendiri setelah ketahuan hendak mencuri di rumah sang guru. Meski sempat mendapatkan perawatan medis, korban akhirnya meninggal dunia dua hari kemudian.

Saat berita itu lewat di linimasa media sosial, ingatan saya langsung terlempar ke salah satu adegan di drama Teach You a Lesson. Dalam drama tersebut, ada kasus serupa—penusukan terhadap guru oleh siswa karena ketahuan menyimpan narkoba—yang menjadi titik awal dibentuknya Biro Perlindungan Hak Pendidikan oleh menteri pendidikan yang sedang menjabat saat itu.

Sejak episode pertama, drama ini menampilkan kasus perundungan, anak-anak SMK yang tergabung dalam kelompok gangster, penyebaran hoaks, judi online, serta pembunuhan guru dan pengedaran obat-obatan terlarang. Meskipun sekilas tampak berbeda, beberapa kasus tersebut memiliki benang merah yang sama, yaitu krisis moral dan disiplin siswa di sekolah. Mirisnya lagi, hal seperti ini tidak hanya terjadi dalam drama saja, melainkan juga terjadi di dunia nyata—bukan hanya di Korea Selatan, tetapi juga di Indonesia.

Di sekolah, keberadaan murid-murid bermasalah ini bukan hanya merugikan para siswa yang seharusnya bisa menerima hak untuk belajar dengan tenang, tetapi juga membuat guru perlahan kehilangan wibawa serta merasa takut dan terintimidasi oleh siswanya sendiri. Lantas, seperti yang ditanyakan oleh pihak Biro Perlindungan Hak Pendidikan, jika seorang guru takut kepada anak didiknya, bagaimana ia bisa menjalankan perannya untuk mendidik dengan benar?

Selama ini, banyak masyarakat yang menaruh ekspektasi besar kepada sekolah untuk membentuk karakter anak, seolah-olah tanggung jawab pendidikan moral sepenuhnya berada di tangan guru. Padahal, waktu interaksi guru dengan murid di sekolah sangat terbatas dibandingkan dengan lingkungan keluarga dan pergaulan sehari-hari. Ketika siswa menunjukkan perilaku yang dianggap menyimpang, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan kualitas pendidikan di sekolah tanpa melihat faktor lain yang turut memengaruhi pembentukan karakter, seperti pola asuh orang tua, lingkungan sosial, hingga paparan media digital.

Di titik ini, kita mungkin perlu kembali mengingat bahwa sejatinya pendidikan pertama yang seharusnya diterima oleh anak adalah pendidikan dari orang tuanya sendiri. Dulu saya kerap mendengar kalimat "apa yang dilakukan anak di sekolah adalah cerminan dari pola asuh orang tuanya di rumah". Meskipun demikian, kita tidak bisa lantas menghakimi anak yang bermasalah disebabkan karena didikan yang "salah" oleh orang tua, tanpa mempertimbangkan faktor lain yang mungkin memengaruhi tumbuh kembang anak.

Di sisi lain, guru juga tidak bisa menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan atas perilaku buruk muridnya. Selain karena terbatasnya waktu interaksi antara guru dan siswa, guru juga memiliki tanggung jawab lain. Mereka bukan hanya harus mengajar selama beberapa jam di kelas dan menyelesaikan berbagai persoalan murid, tetapi juga harus menyelesaikan tugas administrasi yang tidak kalah rumit.

Jika demikian, apakah bisa dikatakan adil jika guru dianggap sebagai satu-satunya yang bertanggung jawab atas pendidikan karakter muridnya?

Jika membicarakan soal pendidikan karakter, maka guru bertindak sebagai fasilitator, pembimbing, dan teladan di lingkungan sekolah. Sedangkan orang tua merupakan pendidik utama karena memiliki waktu interaksi yang lebih banyak dengan anak sejak lahir. Sementara itu, pihak sekolah dan pemerintah turut bertanggung jawab dalam menciptakan sistem pendidikan yang mendukung pembentukan karakter.

Faktor lain yang juga ikut memengaruhi cara berpikir, perilaku, serta pola komunikasi anak adalah lingkungan pertemanan dan media sosial. Oleh karena itu, jika terjadi persoalan, kita perlu melihat faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebab anak berlaku demikian. Apakah hal itu dipengaruhi oleh orang tua, guru, lingkungan pertemanan, atau konten yang dikonsumsi anak di media sosial. Menganggap guru sebagai satu-satunya penanggung jawab atas perilaku buruk yang dilakukan muridnya tentu bukanlah hal yang bisa dibenarkan dan adil.

Berkaitan dengan pendidikan karakter anak, diperlukan komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua. Selain itu, orang tua juga perlu terlibat aktif dalam perkembangan anak, bukan hanya saat muncul masalah. Tidak berhenti di sana, dari pihak sekolah sebaiknya dapat menyediakan ruang dialog dan edukasi bagi orang tua, serta pendampingan secara konsisten terhadap murid-muridnya.

Sebagaimana kasus di drama Teach You a Lesson, krisis moral bisa saja berakar pada pola asuh, tekanan sosial, ambisi orang tua, atau pembiaran lingkungan. Metode ekstrem seperti yang diterapkan Biro Perlindungan Hak Pendidikan tentu bukan solusi utama, tetapi dapat menjadi kritik terhadap lemahnya sinergi antarpihak.

Krisis moral siswa bukan sekadar cerminan kegagalan guru, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama. Sebab, dibutuhkan satu ekosistem yang sehat untuk membantu anak bertumbuh menjadi  pribadi yang berakhlak dan bertanggung jawab.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda