Kolom

Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?

Fenomena Kerja "Serabutan" di Era Modern: Cari Fleksibilitas atau Terpaksa?
ilustrasi bekerja dari rumah (Pexels/PNW Production)

Dulu, saya membayangkan dunia kerja akan berjalan cukup sederhana. Lulus, mendapatkan pekerjaan tetap, lalu perlahan membangun karier. Ternyata realitanya tidak sesederhana itu.

Sekarang, saya melihat semakin banyak orang menjalani berbagai pekerjaan sekaligus. Pagi menjadi admin online, malam mengambil freelance, akhir pekan menjadi reseller atau content creator.

Bahkan ada yang terus berpindah-pindah pekerjaan demi tetap punya pemasukan. Orang menyebutnya fleksibel. Tapi kadang saya bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar pilihan, atau bentuk bertahan hidup di era yang serba tidak pasti?

Dunia Kerja yang Semakin Tidak Stabil

Saya merasa dunia kerja sekarang jauh berbeda dibanding cerita generasi sebelumnya. Lowongan pekerjaan semakin kompetitif, biaya hidup terus naik, sementara pekerjaan tetap dengan penghasilan stabil semakin sulit didapat.

Banyak perusahaan juga lebih memilih sistem kontrak atau freelance dibanding karyawan tetap. Di tengah situasi seperti itu, kerja “serabutan” akhirnya menjadi pilihan yang cukup realistis bagi banyak anak muda.

Bukan karena orang-orang ingin hidup tanpa arah karier yang jelas, tapi karena keadaan memaksa mereka untuk terus mencari cara agar tetap bertahan di tengah kondisi dunia kerja yang tidak stabil.

Fleksibilitas yang Terlihat Menarik

Jujur saja, kerja “serabutan” memang punya sisi yang terlihat menyenangkan. Jam kerja fleksibel, tidak terlalu terikat aturan kantor, dan kadang memberi ruang untuk mencoba banyak hal baru.

Saya sendiri pernah merasa senang karena hidup jadi lebih dinamis dan bisa mengatur waktu lebih bebas dibanding pekerjaan formal. Bahkan branding di media sosial juga menggambarkan freelance sebagai gaya hidup modern yang ideal.

Kita bisa kerja dari mana saja, jadi bos untuk diri sendiri, dan tidak terikat rutinitas kantor. Sayangnya, realita tidak selalu seindah itu. Fleksibilitas yang terlihat menarik terkadang tidak diimbangi dengan pendapatan yang stabil.

Di Balik Fleksibilitas, Ada Ketidakpastian

Semakin melihat lebih dekat, semakin saya sadar kalau kerja “serabutan” sering datang bersama ketidakpastian. Penghasilan tidak selalu stabil karena saat hari ini ada proyek, besok belum tentu.

Kadang harus mengambil banyak pekerjaan sekaligus hanya untuk memastikan kebutuhan bulanan tetap aman. Dan karena semuanya bergantung pada diri sendiri, rasa cemas juga menjadi lebih besar.

Saya pernah merasa sulit mendapat waktu istirahat karena takut kehilangan kesempatan kerja. Akhirnya, fleksibilitas yang awalnya terasa menyenangkan berubah menjadi tekanan untuk terus produktif.

Generasi yang Harus “Multitalenta” demi Bertahan

Menurut saya, generasi sekarang seperti dituntut untuk bisa melakukan banyak hal sekaligus. Tidak cukup hanya punya satu kemampuan. Harus bisa adaptif, cepat belajar, dan siap mengambil peluang apa pun.

Saya melihat banyak anak muda akhirnya menjalani berbagai pekerjaan, bahkan yang tidak sesuai passion, demi tetap punya pemasukan. Di satu sisi, saya kagum melihat kemampuan mereka bertahan.

Tapi di sisi lain, saya juga sadar kalau kondisi ini tidak selalu lahir dari kebebasan memilih. Sering kali, ini soal kebutuhan sampai-sampai rela mengesampingkan passion.

Ambisi dan Tekanan: Sulit Dibedakan

Yang membuat saya kembali berpikir lebih dalam adalah bagaimana kerja berlebihan mulai terlihat normal. Seseorang yang punya tiga pekerjaan sekaligus sering dianggap keren dan produktif. Padahal, belum tentu dilakukan karena ingin.

Bisa jadi karena mereka memang harus menjalaninya demi kebutuhan hidup. Saya sendiri pernah mengalami kebingungan: apakah saya sedang mengejar mimpi, atau hanya takut tidak punya cukup uang untuk bertahan hidup?

Fleksibel Boleh, Tapi Tetap Butuh Kepastian

Saya tidak berpikir kerja fleksibel itu buruk. Banyak orang memang lebih cocok dengan pola kerja seperti itu. Hanya saja saya juga mulai memahami kalau manusia tetap membutuhkan rasa aman.

Butuh penghasilan yang stabil, waktu istirahat yang cukup, dan hidup yang tidak terus dipenuhi kecemasan tentang pekerjaan berikutnya. Karena pada akhirnya, kebebasan kerja akan sulit dinikmati jika setiap hari dibayangi ketidakpastian.

Bertahan di Tengah Dunia Kerja yang Berubah

Sekarang saya melihat kerja “serabutan” bukan hanya sebagai tren gaya hidup modern, tapi juga gambaran tentang bagaimana generasi sekarang berusaha bertahan di tengah dunia kerja yang berubah cepat.

Ada yang benar-benar menikmati fleksibilitasnya. Ada juga yang sebenarnya lelah, tapi tidak punya banyak pilihan lain dan tetap harus bertahan dengan kondisi tersebut.

Jangan buru-buru menganggap generasi sekarang terlalu “lompat-lompat kerja” atau tidak konsisten. Pahami juga kalau kondisi hidup hari ini memang membuat banyak orang harus terus beradaptasi agar tetap bisa berjalan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda