Kolom
Kenapa Salah Kita Terasa Masuk Akal, Tapi Salah Orang Sulit Dimaafkan?
Pernah kesal melihat seseorang datang terlambat lalu langsung berpikir, "Dasar tidak profesional"? Namun, ketika kita sendiri terlambat karena macet, tugas menumpuk, atau ada urusan mendadak, rasanya sangat berbeda. Kita merasa memiliki alasan yang masuk akal.
Aneh, ya? Perilaku yang sama bisa kita nilai secara sangat berbeda bergantung pada siapa pelakunya. Saat orang lain salah, kita cepat menyimpulkan sifatnya. Saat diri sendiri salah, kita sibuk menjelaskan situasinya. Ternyata, ilmu psikologi sudah lama memiliki sebutan khusus untuk fenomena kebiasaan ini, yakni Fundamental Attribution Error (FAE).
Kesalahan Berpikir yang Hampir Semua Orang Punya
Fundamental Attribution Error adalah kecenderungan manusia untuk menjelaskan perilaku orang lain berdasarkan karakter mereka, sembari melupakan kemungkinan adanya faktor situasi pelik yang sedang mereka hadapi.
Sederhananya, saat orang lain gagal, kita menganggap hal itu terjadi karena mereka memang tidak kompeten. Sebaliknya, saat kita yang gagal, kita berdalih bahwa kondisi dan lingkungannya sedang tidak mendukung.
Contohnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada rekan kerja yang diam saat rapat. Kita langsung berpikir bahwa ia tidak peduli, pasif, atau tidak niat bekerja. Padahal, bisa saja ia sedang sakit, kurang tidur, atau tengah menghadapi masalah pribadi yang tidak kita ketahui. Namun, karena hal yang terlihat di permukaan hanyalah perilakunya, kita merasa sudah cukup memiliki data untuk menilainya secara sepihak.
Mengapa Kita Lebih Baik kepada Diri Sendiri?
Jawabannya sangat sederhana. Kita hidup di dalam kepala kita sendiri. Kita tahu persis niat kita, tekanan yang sedang dihadapi, dan kita tahu bahwa sebenarnya kita sedang berusaha keras.
Sedangkan orang lain? Hal yang terlihat oleh kita hanyalah hasil akhirnya. Kita melihat mereka dari luar, tetapi menilai diri sendiri dari dalam. Itulah sebabnya standar penilaian sering kali terasa sangat timpang tanpa kita sadari.
Standar Ganda dalam Kehidupan Sehari-hari
Hidup kita dipenuhi dengan contoh kecil yang serupa. Kalau dipikir-pikir, kita sebenarnya cukup murah hati kepada diri sendiri. Sayangnya, kemurahan hati itu sering kali menguap sebelum sampai ke orang lain. Berikut adalah beberapa contoh nyatanya.
Membalas pesan dengan lama: Saat orang lain melakukannya, kita menilainya sebagai pribadi yang cuek dan sombong. Sebaliknya, saat kita melakukan hal yang sama, alasannya adalah karena kita sedang sangat sibuk.
Menyerobot antrean: Saat melihat orang lain menyerobot antrean, kita langsung mengecapnya tidak tertib. Namun, saat kita yang melakukannya, kita membenarkan diri sendiri dengan dalih kondisi darurat.
Melupakan janji: Saat seorang teman melupakan janji, kita merasa ia tidak menghargai orang lain. Akan tetapi, saat kita yang melupakannya, kita memaklumi diri sendiri karena sedang banyak pikiran.
Dari Penilaian Cepat ke Penghakiman Menetap
Masalahnya, Fundamental Attribution Error jarang berhenti di satu momen saja. Begitu seseorang mendapat label tertentu, misalnya malas, egois, atau tidak disiplin, otak kita mulai sibuk mencari bukti untuk mempertahankan penilaian tersebut. Satu kesalahan kecil dianggap sebagai kebiasaan. Satu tindakan spontan dianggap sebagai cerminan kepribadian utuh.
Dalam ilmu psikologi, hal ini sering berjalan berdampingan dengan bias konfirmasi. Kita lebih mudah mengingat hal-hal yang mendukung penilaian awal kita daripada melihat fakta yang bertentangan dengannya. Jika terus dibiarkan, pola pikir seperti ini bisa berkembang biak menjadi prasangka buruk dan stereotip.
Budaya Juga Membentuk Cara Kita Menghakimi
Penelitian menunjukkan bahwa latar belakang budaya ikut memengaruhi cara kita menilai perilaku. Masyarakat yang lebih individualistik cenderung berfokus pada karakter pribadi seseorang. Sebaliknya, budaya yang lebih kolektif terbiasa mempertimbangkan kondisi sosial dan konteks di sekitar individu tersebut.
Tidak ada pendekatan yang sepenuhnya benar atau mutlak salah. Namun, perbedaan ini menunjukkan dengan jelas bahwa cara kita menilai orang lain ternyata tidak pernah sepenuhnya objektif.
Memahami Bukan Berarti Membenarkan
Tentu saja, mempertimbangkan konteks bukan berarti semua perilaku buruk harus selalu dimaklumi. Seseorang tetap harus dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya. Akan tetapi, ada perbedaan yang sangat masif antara menilai tanpa memahami dan menilai setelah mencoba melihat gambaran ceritanya secara utuh.
Empati tidak lantas menghapus akuntabilitas. Empati hanya membantu kita untuk tidak terlalu cepat mengenakan jubah hakim bagi hidup orang lain.
Mungkin lain kali ketika seseorang melakukan sesuatu yang membuat kita kesal, ada satu pertanyaan kecil yang layak muncul di kepala sebelum kita buru-buru memberinya label. "Kalau aku ada di posisinya, apakah aku akan menilai sekeras ini?" Karena bisa jadi, apa yang kita lihat bukanlah keseluruhan cerita, melainkan hanya satu potongan kecil yang kebetulan tertangkap oleh mata.