Kolom

Bystander Effect: Saat Privasi Menjadi Alasan Kita Membiarkan Kejahatan Terjadi di Depan Mata

Bystander Effect: Saat Privasi Menjadi Alasan Kita Membiarkan Kejahatan Terjadi di Depan Mata
Potret kawasan padat penduduk di perkotaan yang rawan menghadapi tantangan krisis kontrol sosial antar-tetangga. (Foto: Pexels/DAIPI)

Beberapa hari terakhir, lini masa kita dihangatkan oleh berita mengerikan dari Bandung. Seorang wanita disekap dan disiksa. Respons publik? Mengutuk keras. DPR? Langsung mengeluarkan kecaman maut dari kursi nyamannya. Polisi pun bergerak cepat menangkap pelaku. Semua orang tampak peduli setelah media massa merilis kronologinya.

Namun, ada satu pertanyaan mengganjal yang terus berputar di kepala saya: di mana semua orang ketika penyiksaan itu sedang berlangsung?

Bandung adalah kota yang padat. Rumah-rumah berhimpit, suara bersin tetangga bahkan kadang bisa terdengar ke sebelah dinding. Mengapa jeritan atau kejanggalan di rumah itu bisa lolos dari radar lingkungan sekitar selama berhari-hari?

Ilusi "Menghormati Privasi" di Kota Besar

Kita sering membanggakan kehidupan masyarakat urban yang modern dan sangat menghargai privasi. "Urusan orang ya urusan orang, urusan kita ya urusan kita." Prinsip ini terdengar sangat keren dan beradab, sampai kita sadar bahwa batasan antara "menghormati privasi" dan "masa bodoh" itu ternyata setipis tisu warung soto.

Dalam psikologi sosial, ada istilah bernama bystander effect. Sederhananya, semakin banyak orang di suatu lingkungan, semakin kecil kemungkinan seseorang untuk bertindak ketika melihat ada masalah. Mengapa? Karena semua orang memikirkan hal yang sama: "Ah, paling nanti ada tetangga lain yang melapor," atau "Ah, mungkin itu cuma pertengkaran domestik biasa, kalau ikut campur malah dibilang kepo."

Akibatnya, ketika semua orang saling menunggu siapa yang akan peduli duluan, korban justru dibiarkan menderita sendirian di balik dinding tripleks yang tipis.

Pagar yang Makin Tinggi, Kontrol Sosial yang Makin Rendah

Mari jujur pada diri sendiri. Kapan terakhir kali Anda benar-benar mengobrol dengan tetangga sebelah rumah, di luar urusan iuran RT atau sekadar klakson saat keluar pagar?

Kehidupan kota urban yang melelahkan membuat kita pulang ke rumah dengan energi yang sudah habis. Rumah bukan lagi bagian dari sebuah komunitas bernama kampung, melainkan sekadar "kotak istirahat" tempat kita menutup diri dari dunia luar. Pagar-pagar rumah dibuat makin tinggi, telinga kita disumpal headphone dengan fitur noise-canceling, dan mata kita terpaku pada layar gawai.

Sistem kontrol sosial tradisional seperti ronda malam atau tradisi saling tengok antartetangga kini dianggap kuno. Ironisnya, teknologi membuat kita bisa tahu apa yang terjadi di belahan bumi lain dalam hitungan detik, tetapi membuat kita buta total terhadap jeritan minta tolong yang jaraknya hanya lima meter dari kasur kita.

Menolak Abai Sebelum Terlambat

Kecaman dari anggota DPR atau hukuman penjara bagi pelaku memang penting untuk menegakkan keadilan. Namun, itu semua adalah obat setelah luka itu telanjur menganga. Benteng pertahanan pertama untuk mencegah kejahatan kemanusiaan seperti ini sebenarnya bukan polisi, melainkan kepedulian orang-orang terdekat: Anda dan saya sebagai tetangga.

Kita perlu mendefinisikan ulang apa itu arti "bertetangga" di era modern. Menjadi peduli tidak harus berarti menjadi tetangga yang hobi bergosip di tukang sayur. Menjadi peduli berarti memasang telinga dan kepekaan. Jika mendengar sesuatu yang janggal secara berulang, atau melihat gelagat yang tidak beres, jangan ragu untuk mengetuk pintu atau melapor ke pengurus lingkungan. Lebih baik kita salah mengira dan meminta maaf karena dianggap terlalu sensitif, daripada kita menyesal seumur hidup karena membiarkan sebuah nyawa perlahan habis di sebelah rumah kita.

Jadi, mari tengok sebelah kanan dan kiri kita hari ini. Apakah kita benar-benar sedang menghormati privasi mereka, atau sebenarnya kita hanya sedang memelihara sikap abai?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda