Kolom

Be Wise: Bagaimana Membaca Menjadi Aplikator Sosial untuk Membaca Karakter Manusia

Be Wise: Bagaimana Membaca Menjadi Aplikator Sosial untuk Membaca Karakter Manusia
ilustrasi membaca buku (Unsplash/Phil Hearing)

Pernahkah kamu merasa tersedot, tercenung, atau bahkan terhenti sejenak dari suatu aktivitas setelah membaca sesuatu?

Saya sendiri pernah dan sering ketika menamatkan buku atau novel tertentu. Semata-mata bukan menyoal plot kisah yang bikin hati berdebar, melainkan berbagai sudut pandang lain yang masih relevan sampai sekarang.

Menurut KBBI, membaca berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan atau hanya dalam hati. Tindakan ini serta merta berguna sebagai pemahaman literasi maupun peningkatan skill menulis. Lewat membaca, kita juga bakal diajak berpikir lebih dalam dan mengambil kesimpulan tepat lewat tata bahasanya, gaya kepenulisan authornya, atau terbawa dogma dan esensi karya yang tersirat.

Menarik Esensi Relatif yang Unik Pada Tiap Karya

Membaca bagi saya adalah kegiatan yang menyenangkan. Selain menyibukkan diri dengan kegiatan positif, membaca juga pernah membantu saya berhemat uang saku semasa SMP dulu. Setiap waktu istirahat, langsung bablas ke perpustakaan untuk mencari majalah, surat kabar, sampai novel baru.

Kendati demikian, saya tidak hanya sekedar mendapatkan dopamin lewat buku-buku cerita atau novel semata. Saya lebih gemar mencari tipe buku yang beresensi positif, juga mengajak eksplorasi mendalam terkait kehidupan. Semisal novel Salah Asuhan karya Abdul Muis yang menyajikan background masa kolonialisme, dengan tata bahasa Melayu, dan pengajaran hidup soal kesetiaan, kesabaran, dan hukum tabur tuai.

Atau pada cerpen Misteri Hutan Larangan karya Pilemon Gunena yang menyuguhkan aksi petualangan dan plot twist budaya kongkalikong dan penyalahgunaan kekuasaan. Tipe cerita ringan, tapi wajib direnungkan. Juga pada Edensor karya Andrea Hirata yang berusaha menunjukkan lanskap kemanusiaan yang dikemas seasyik mungkin.

Setiap karya selalu memiliki esensi dan ciri khasnya masing-masing. Pun pelajaran yang bisa diaplikasikan pada real life dengan konsekuensi tersendiri. Walau sejauh ini saya masih terpukau pada tokoh Mirah dalam cerpen Mirah: Singa Betina dari Marunda karya Yulia Sukadi yang bak Srikandi Betawi, hingga tokoh Elizabeth Woodville dalam novel terjemahan Ratu Mawar Putih karya Philippa Gregory yang cerdas dan bijak memanfaatkan situasi.

Dopamin dan Logika yang Wajib Bersandingan

Jujurly, saya agak pusing kala membaca buku lawas seperti Salah Asuhan hingga Layar Terkembang yang menggunakan Bahasa Melayu era 1920an. Namun, petuahnya masih dapat saya aplikasikan sedikit-sedikit. Mungkin karena eranya yang sudah lampau ya.

Sedangkan tipikal novel remaja romantis, selain cocok untuk mengisi kadar dopamin setelah dihajar matematika, tapi tetap mengajak kita berpikir secara moral dan logika. Berpikir mengenai dampak fenomena romansa, sampai pada konsekuensi kehidupan nyata yang nggak semanis stevia.

Memang yang paling aman adalah membaca cerpen anak-anak. Selain konflik ringan, kita juga dihadapkan pada skema hidup sederhana sebagaimana polosnya anak-anak. Namun, kalau mengingat situasi masa kini yang cukup rawan dengan segala anomalinya, kita juga harus membaca kancah buku-buku yang menambah skill mindset lebih baik lagi.

Aplikator Kehidupan yang Relevan

Beberapa penggambaran tokoh nyentrik dan villain tertentu dalam buku berhasil saya temui di dunia nyata. Nggak spesifik, tapi mendekati. Lengkap dengan personaliti yang menantang untuk dikelabuhi, ditundukkan, atau dipelajari.

Beberapa orang mungkin begitu licik, lincah, pandai cari muka, tapi memiliki kelemahan fatal yang serupa. Mentalnya tidak setangguh lidah, dan gampang dikompori dengan mudah. Sedangkan beberapa orang begitu sulit untuk dibaca, atau justru saya sendiri yang dia baca. Mentalnya begitu tegap, dengan sorot mata yakin yang susah dikibuli.

Kemudian pada skema konflik berat, rupanya ada beragam contoh nyata. Mengenai kemiskinan struktural, pengaruh lingkungan, sampai kecenderungan kepribadian yang kompleks.

Terlepas dari kondisi runyam yang berhasil saya temui sendiri, beberapa buku juga mencoba mengeksplorasi alam dengan cantik. Tidak hanya menjual istilah kasar, tetapi menyuguhkan tata bahasa yang membuat pembaca turut merasakan momennya.

Membaca Nggak Harus Buku Kok

Membaca memang lekat dengan buku ya, tapi sekarang ini ada banyak bahan bacaan berseliweran di depan muka. Bila dulu harus pergi ke perpustakaan atau toko buku, kini bisa lewat ponsel.

Saya kerap mencari berita harian lewat situs berita, atau memantau kondisi sekitar lewat media sosial, atau nebeng mendengarkan radio orang. Walau seringnya membaca postingan facebook Radio Andika, dimana ada banyak aspirasi masyarakat lokal tersampaikan.

Lebih dari itu, saya belajar membaca situasi lewat gerak-gerik masyarakat dan kasak-kusuk yang beredar sebelum observasi guna mengetahui berita valid. Namun kalau sedang burnout dan butuh healing, saya masih membaca cerpen dan cerita misteri di situs Yoursay.

Alhasil, sepertinya benarlah pepatah ‘Membaca adalah jendela ilmu’. Namun, tidak pernah disebutkan secara spesifik jenis bacaannya. Sekian.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda