Kolom

Ibadah Menjadi WNI: Mengapa Menertawakan Keadaan Jadi Tameng Terakhir Kita?

Ibadah Menjadi WNI: Mengapa Menertawakan Keadaan Jadi Tameng Terakhir Kita?
Tangkapan layar twit dr. Gia Pratama [X/@GiaPratamaMD]

“Dulu aku pikir, menikah itu ibadah terpanjang dan terlama. Ternyata salah, ibadah terpanjang dan terlama itu menjadi Warga Negara Indonesia (WNI),” tulis dr. Gia Pratama di X.

Cuitan bernada satire ini ramai diperbincangkan warganet di platform X hingga menyebar ke berbagai media sosial lainnya. Ketika kita merenungi kondisi hidup yang kian sesak dan terasa makin sulit dari hari ke hari, dominasi berita buruk di dunia maya seolah terus mengikis kewarasan dan kesehatan mental kita.

Satire Pernikahan vs Realitas Menjadi WNI

Pernikahan yang kerap digadang-gadang sebagai ibadah terpanjang dan terlama dalam hidup manusia kini terpatahkan oleh narasi sarkastis tersebut. Jika pernikahan menuntut komitmen seumur hidup yang menguras stok kesabaran, bagi seorang WNI—bahkan yang masih melajang sekalipun—kenyataan hidup di negeri ini rasanya jauh lebih berat.

Bertengkar dengan pasangan memang melelahkan karena kita harus menyatukan dua kepala dengan ego berbeda. Meski demikian, solusinya relatif konkret: kedua insan hanya perlu meredam ego dan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin. Begitu ego mereda, badai pun berlalu dan hidup kembali berjalan normal, walau kelak konflik baru mungkin akan datang lagi.

Jalan Terjal Merajut Asa di Negeri Sendiri

Sementara itu, bagi seorang WNI, perjuangan menata karier, mewujudkan cita-cita, dan membanggakan orang tua justru menghadapi jalan yang teramat terjal. Bukan bermaksud menyarankan Anda untuk segera menikah agar hidup terasa "normal", tetapi kita harus realistis bahwa negara ini kerap gagal menuntaskan masalah—bahkan untuk hal-hal yang paling mendasar sekalipun.

Sebagai contoh, kita semua tahu bahwa Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) sudah mengakar sejak lama. Namun, alih-alih diberantas, praktik lancung ini justru kian subur di lingkaran kekuasaan. Rasanya sungguh di luar nalar ketika rakyat yang bekerja mati-matian demi menyambung hidup terus dipalak pajak di mana-mana, sementara uang keringat mereka entah mengalir ke mana.

Di sisi lain, anggaran negara yang diamanahkan kepada para pejabat justru digelapkan dalam angka yang fantastis—bukan lagi jutaan, melainkan miliaran hingga triliunan rupiah. Melihat kenyataan ini, tampaknya sebagian penguasa kita tidak lagi takut akan dosa dan akhirat. Hal ini sangat kontras dengan rakyat kecil yang harus memeras keringat demi sesuap nasi, tetap bertahan dengan jujur karena sadar bahwa menghidupi keluarga adalah amanah suci dari Tuhan.

Kebisingan Informasi Menciptakan Komedi dan Apatisme

Bahkan belum genap 24 jam, kita sebagai WNI sudah bertubi-tubi disuguhi kebijakan menteri yang kontradiktif, skandal korupsi dengan nominal di luar nalar, kelakuan aneh pejabat daerah, hingga kasus kriminal viral yang berujung pada hukum tebang pilih. Siklus ini terus berulang tanpa jeda, seolah tidak memberi ruang bagi publik untuk sekadar memulihkan kesabarannya.

Kita dipaksa untuk merasa marah, sedih, kecewa, dan bingung, lalu seketika dituntut melupakannya begitu saja demi isu baru yang sengaja digulirkan. Publik dipaksa mengerahkan energi dan ketahanan mental yang luar biasa besar agar tidak sampai kehilangan kendali. Fenomena inilah yang akhirnya membelah respons warganet menjadi dua aliran ekstrem: menjadi komedian dadakan yang menertawakan keadaan, atau jatuh dalam apatisme total terhadap segala isu yang beredar.

Sebagai contoh, ketika skandal politik dan ketidakadilan hukum mencuat ke permukaan, respons warganet yang paling masif sering kali berupa meme, video parodi, cuitan sarkastis, atau humor getir yang memicu tawa. Menertawakan keadaan yang rusak akhirnya menjadi tameng terakhir bagi WNI untuk menjaga kewarasan yang kian sekarat akibat realitas di luar nalar.

Namun, ada titik bahaya ketika "ibadah sabar" ini berujung pada kepasrahan yang mematikan. Apatisme publik justru menjadi impian terbesar bagi para koruptor. Ketika masyarakat sudah terlalu lelah bersuara lalu memilih menutup mata, di situlah penguasa sebenarnya telah berhasil mematikan daya kritis rakyatnya.

Kendati demikian, merawat kewarasan di tengah gempuran berita absurd bukanlah tanda bahwa kita menyerah pada keadaan. Sebaliknya, mempertahankan akal sehat, menolak menjadi bodoh, dan tetap berani memihak kebenaran adalah bentuk perlawanan sipil yang paling elegan. Pada akhirnya, bertahan sebagai WNI yang tetap waras di tengah kondisi carut-marut ini adalah sebuah kemenangan—persembahan terbaik untuk diri sendiri saat ini, dan kelak, untuk masa depan bangsa.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda