Kolom
Membaca, Menunda, Lupa: Ketika Balasan Chat Hanya Berakhir di Kepala
"Lho, bukannya tadi udah kubalas?"
Pernah nggak sih kalian mendadak berpikir seperti itu saat membuka WhatsApp? Padahal setelah dicek lagi, chat tersebut ternyata masih belum terbalas. Bisa jadi, balasannya memang sudah sempat tersusun di kepala, tetapi belum pernah benar-benar diketik dan dikirim.
Dulu saya sempat dikenal sebagai orang yang cukup fast response saat ada chat masuk di Whatsapp. Entah sejak kapan, kebiasaan itu perlahan memudar. Beberapa kali saya membaca chat hanya dari notifikasi tanpa langsung membukanya. Setelah itu, saya merasa sudah membalasnya, padahal balasan tersebut baru sempat saya susun di kepala, belum benar-benar saya ketik dan kirim.
Apakah Sobat Yoursay pernah merasakan hal yang sama?
Biasanya hal seperti ini terjadi ketika kita sudah menyusun jawaban di kepala, tetapi merasa chat tidak harus dibalas pada saat itu juga. Karena itu, kita menunda mengirim balasan dan berakhir lupa karena terdistraksi oleh berbagai aktivitas lain. Pertanyaannya: mengapa hal semacam ini bisa terjadi?
Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah karena setelah balasan tersusun di kepala, kita merasa urusan tersebut sudah "beres", padahal pesan itu belum pernah benar-benar terkirim. Alasan lainnya bisa jadi karena terlalu banyak notifikasi yang masuk, akhirnya pikiran dengan mudah teralihkan dari satu chat ke chat lainnya. Selain itu, ada pula chat yang terkadang sedikit sensitif dan butuh energi lebih untuk membalasnya.
Semua itu terjadi bukan karena tidak peduli atau tidak ingin membalas, beberapa orang terkadang memang benar-benar lupa dan merasa bersalah setelah menyadarinya. Dan inilah yang beberapa kali saya alami. Merasa sudah memikirkan balasan, lalu menunda mengirimnya, dan berakhir lupa karena terdistraksi oleh aktivitas lain.
Persoalan lainnya adalah tidak semua chat memiliki “beban” yang sama. Beberapa mungkin bisa saja dibalas dengan kalimat singkat “Iya”, “Siap”, “Oke” atau yang lain. Namun, jika chat berisi permintaan bantuan, curahan hati, dan diskusi panjang, terkadang seseorang memang membutuhkan waktu untuk berpikir yang akhirnya membuat balasan tertunda. Tidak sedikit pula orang yang ingin memberikan balasan terbaik untuk masalah seperti ini dan berpikir “ini butuh respons panjang, nanti aja deh balasnya.” Padahal kita bisa saja langsung membalas dengan permintaan maaf dan mengatakan untuk merespon lebih lengkap nanti agar pengirim tidak menunggu.
Sementara jika pesan yang dikirim berupa ajakan untuk bertemu, biasanya otak bisa dengan cepat merespons “nanti aja deh, pas senggang.” Kalimat itu muncul di pikiran tanpa sempat terkirim, sedangkan waktu senggang nggak pernah benar-benar ada, jika dia tidak memilih meluangkannya sebentar.
Kebiasaan menunda balasan chat ini juga kerap berbenturan dengan ekspektasi yang berkembang di era digital. Semakin mudah seseorang dihubungi melalui aplikasi pesan, semakin besar pula harapan agar pesan yang dikirim segera dibalas. Padahal nyatanya, punya waktu membaca pesan nggak selalu sama dengan punya waktu dan energi buat merespons saat itu juga.
Saat kita masih berkomunikasi menggunakan SMS dulu, pesan dibalas dalam waktu beberapa jam mungkin masih dianggap wajar dan biasa saja. Namun, berbeda dengan sekarang. Kita bisa menerima notifikasi instan, ada fitur tanda centang, status online, hingga last seen, yang membuat orang tanpa sadar mengharapkan respons yang lebih cepat, apalagi jika status di aplikasi terlihat sedang online. Pada saat yang sama, sebagian orang akhirnya merasa tidak enak atau pun khawatir disebut tidak menghargai lawan bicara ketika lupa membalas chat.
Di titik ini, mungkin yang perlu kita sadari adalah untuk mulai membedakan antara membaca chat, baru memikirkan balasan di pikiran, dan benar-benar membalasnya. Menjadi fast response tentu bukan sesuatu yang salah, bahkan baik. Tetapi kita pun tidak harus merasa bersalah setiap kali tidak bisa langsung merespons semua pesan yang masuk. Dan mungkin perlu kita ingat juga untuk berusaha memberikan kabar ketika memang belum sempat membalas saat itu juga atau pun membutuhkan waktu lebih lama agar lawan bicara tidak terus menunggu.
Jadi, lain kali ketika balasan sudah tersusun di kepala, mungkin ada baiknya kita meluangkan beberapa detik untuk benar-benar mengetik dan mengirimkannya agar tidak muncul peristiwa “udah balas di pikiran”. Sebab di era digital seperti sekarang, balasan yang hanya ada di kepala tetaplah belum menjadi balasan. Dan bisa jadi, satu-satunya orang yang yakin chat itu sudah dibalas hanyalah diri kita sendiri.