Kolom

Semoga Perjalanan Ini Sampai ke Seluruh Indonesia

Semoga Perjalanan Ini Sampai ke Seluruh Indonesia
KRL (Dok. pribadi/Meilly)

Jika ada yang bertanya apa hal yang paling membuatku kagum saat pertama kali merantau ke Jakarta, jawabanku mungkin bukan gedung-gedung tinggi atau hiruk-pikuk kotanya, melainkan transportasi umumnya.

Bukan tanpa alasan. Aku berasal dari Kalimantan, daerah yang akses transportasi umumnya belum sebanyak di Jakarta. Sejak kecil, aku lebih sering bepergian menggunakan kendaraan pribadi bersama keluarga karena pilihan transportasi umum masih terbatas. Karena itulah, ketika akhirnya merantau ke Jakarta, menggunakan transportasi umum menjadi pengalaman yang benar-benar baru bagiku.

Awalnya, aku cukup takut. Takut salah rute, salah turun halte, atau bahkan salah naik bus. Kekhawatiran itu ternyata memang sempat terjadi. Beberapa kali aku salah naik bus dan harus mencari cara untuk kembali ke jalur yang benar. Saat itu rasanya cukup panik karena masih asing dengan Jakarta. Namun, pengalaman-pengalaman kecil itu justru menjadi proses belajar. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami cara membaca rute, mengenali halte, hingga akhirnya terbiasa berpindah dari JakLingko ke TransJakarta atau melanjutkan perjalanan dengan KRL. Kini, hal yang dulu terasa membingungkan justru menjadi bagian dari keseharianku.

Sebagai seseorang yang sebelumnya jarang menggunakan transportasi umum, pengalaman ini terasa sangat menyenangkan. Hampir setiap kali bepergian, aku mengandalkan JakLingko, TransJakarta, atau KRL. Selain tarifnya yang terjangkau, aksesnya juga mudah ditemukan di berbagai sudut kota. 

Ada satu hal yang paling kusukai saat menggunakan transportasi umum, yaitu kesempatan melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Di dalam satu bus atau satu gerbong kereta, begitu banyak cerita bertemu dalam perjalanan yang sama.

Ada yang sedang berangkat kerja sambil sesekali melihat jam di ponselnya, ada yang baru pulang dari shift malam dan memilih memejamkan mata sepanjang perjalanan, ada pelajar yang masih mengantuk menuju sekolah, hingga ibu-ibu yang membawa banyak barang untuk berbelanja atau berdagang.

Kami datang dari latar belakang yang berbeda dan memiliki tujuan masing-masing, tetapi untuk beberapa saat kami berbagi perjalanan yang sama. Dari situ aku sadar bahwa transportasi umum bukan hanya menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, tetapi juga mempertemukan begitu banyak cerita dalam satu perjalanan.

Beberapa waktu lalu, aku berkesempatan mengikuti pertemuan komunitas bersama Kementerian Perhubungan. Dari diskusi tersebut, aku belajar bahwa transportasi umum bukan hanya soal kemudahan berpindah tempat. Menggunakan transportasi umum juga merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi emisi karbon.

Ketika lebih banyak orang memilih bus atau kereta dibandingkan kendaraan pribadi, jumlah kendaraan di jalan dapat berkurang sehingga konsumsi bahan bakar dan emisi dari sektor transportasi pun dapat ditekan.

Aku jadi menyadari bahwa selama ini aku menggunakan transportasi umum karena praktis, hemat, dan mudah diakses. Namun ternyata, setiap perjalanan yang kulakukan juga memiliki dampak yang lebih besar. Pilihan sederhana yang mungkin terlihat sepele ternyata bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan jika dilakukan bersama-sama.

Meski begitu, pengalamanku menggunakan transportasi umum di Jakarta juga menunjukkan bahwa masih ada tantangan yang perlu dibenahi. Pada jam berangkat dan pulang kerja, halte maupun stasiun sering dipenuhi penumpang. Tidak jarang aku harus berdiri berdesakan di dalam bus atau KRL.

Menurutku, kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya dan bergantung pada transportasi umum. Namun, di sisi lain, tingginya jumlah pengguna juga menjadi pengingat bahwa kapasitas dan kualitas layanan perlu terus ditingkatkan agar masyarakat tetap merasa nyaman.

Pengalaman tinggal di dua daerah dengan kondisi transportasi yang sangat berbeda membuatku memiliki satu harapan besar. Aku berharap kemudahan yang kurasakan di Jakarta juga dapat dirasakan oleh masyarakat di daerah lain, termasuk Kalimantan.

Mungkin setiap daerah tidak harus memiliki sistem transportasi yang sama persis karena kebutuhan dan karakteristiknya berbeda. Namun, setiap masyarakat seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati transportasi umum yang aman, nyaman, terjangkau, dan mudah diakses.

Aku membayangkan suatu hari nanti, ketika pulang ke Kalimantan, aku tidak lagi harus bergantung pada kendaraan pribadi untuk bepergian. Aku ingin melihat lebih banyak pilihan transportasi umum yang mampu menghubungkan masyarakat dengan sekolah, kampus, tempat kerja, maupun fasilitas publik lainnya. Dengan begitu, semakin banyak orang yang dapat menikmati kemudahan mobilitas sekaligus ikut berkontribusi mengurangi emisi karbon.

Bagiku, masa depan transportasi umum Indonesia bukan hanya tentang menghadirkan bus yang lebih modern atau kereta yang lebih cepat. Masa depan itu adalah ketika setiap orang, baik yang tinggal di kota besar maupun di daerah, memiliki kesempatan yang sama untuk bepergian dengan aman, nyaman, dan mudah.

Aku berharap suatu hari nanti, kemudahan yang pertama kali membuatku jatuh hati pada Jakarta juga bisa dirasakan oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Karena pada akhirnya, transportasi umum bukan hanya membawa kita ke tempat tujuan, tetapi juga membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih terhubung, lebih berkelanjutan, dan lebih ramah bagi semua. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda