Kolom
Air Tidak Bisa Dicetak Ulang, Hutan Jangan Dihabiskan demi Uang
Air bukan barang yang bisa kita produksi sesuka hati. Kita memang bisa mengolah, menyaring, memindahkan, dan mendaur ulang air, tetapi manusia tidak pernah menemukan zat pengganti yang dapat begitu saja menggantikan seluruh fungsi air dalam kehidupan. Dari zaman purba hingga era teknologi modern, satu hal tetap sama: kehidupan membutuhkan air.
Kita bisa mengganti sumber energi. Kita bisa mengganti bahan bakar. Kita bisa menciptakan material sintetis untuk menggantikan berbagai bahan alam. Tetapi ketika berbicara tentang kebutuhan dasar makhluk hidup, air tetap tidak tergantikan. Karena itu, menjaga air seharusnya tidak dimulai ketika sungai sudah tercemar atau sumur mulai mengering. Menjaga air harus dimulai dari menjaga ekosistem yang membuat air tetap tersedia. Dan salah satu ekosistem terpenting itu adalah hutan.
Hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang berdiri di atas tanah. Ia merupakan bagian dari sistem hidrologis. Vegetasi membantu menangkap air hujan, memperlambat alirannya, meningkatkan infiltrasi ke dalam tanah, menjaga kelembapan, dan membantu mempertahankan fungsi daerah aliran sungai. Ketika tutupan hutan hilang, kemampuan lanskap untuk mengatur air juga dapat terganggu.
Ironisnya, kita sering menghitung nilai hutan berdasarkan apa yang bisa diambil darinya. Berapa rupiah kayunya? Berapa besar investasi perkebunannya? Berapa nilai proyek industrinya? Berapa banyak lapangan kerja yang tercipta?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting. Perekonomian membutuhkan industri dan pembangunan. Manusia juga membutuhkan pekerjaan, pangan, energi, serta berbagai produk. Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan: berapa harga yang harus dibayar ketika sistem alam yang menopang kehidupan dihancurkan? Deforestasi mungkin menghasilkan uang dalam laporan keuangan hari ini. Tetapi kerusakan tata air dapat menjadi tagihan yang muncul bertahun-tahun kemudian.
Banjir, longsor, kekeringan, sedimentasi sungai, menurunnya kualitas air, hingga meningkatnya biaya penyediaan air bersih bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Kerusakan ekosistem dapat memperbesar berbagai risiko tersebut, terutama ketika pembangunan dilakukan tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Masalahnya, uang memiliki angka yang mudah dihitung. Nilai sebuah hutan jauh lebih sulit dihitung karena manfaatnya tersebar dan berlangsung dalam jangka panjang.
Sebuah pohon yang ditebang memiliki harga pasar. Tetapi air yang tetap tersedia karena sebuah kawasan hutan masih berfungsi tidak selalu muncul sebagai angka dalam transaksi ekonomi. Padahal, ketika fungsi tersebut hilang, masyarakatlah yang berpotensi menanggung biayanya.
Di sinilah kita perlu mengoreksi cara berpikir tentang pembangunan. Kebutuhan manusia memang meningkat. Populasi bertambah, konsumsi berkembang, industri membutuhkan bahan baku, kota meluas, dan permintaan pasar terus bergerak. Supply dan demand kemudian menjadi alasan yang sangat mudah digunakan untuk membuka ruang baru. Tetapi kebutuhan manusia tidak boleh dijadikan cek kosong untuk mengalihfungsikan alam.
Kita harus punya batas. Sebab kalau setiap permintaan harus dijawab dengan membuka hutan baru, pada akhirnya yang kita konsumsi bukan hanya kayu, lahan, atau komoditas. Kita sedang mengonsumsi modal ekologis yang menjaga kehidupan kita sendiri. Karena itu, menjaga hutan bukan berarti antiindustri. Justru industri yang berpikir panjang seharusnya memahami bahwa produksi membutuhkan air, energi, tanah, dan ekosistem yang stabil.
Tidak ada industri yang bisa beroperasi dalam ruang hampa. Maka sebelum membuka hutan untuk proyek baru, manusia perlu bertanya lebih jauh: apakah benar kawasan tersebut harus dikorbankan? Apakah ada lahan terdegradasi yang dapat dipulihkan atau dimanfaatkan? Apakah proyek tersebut mempertimbangkan daerah tangkapan air dan koridor ekologis? Dan siapa yang akan menanggung kerugiannya jika fungsi lingkungan hilang?
Persoalannya bukan sekadar hutan versus pembangunan. Persoalannya adalah pembangunan seperti apa yang masih memungkinkan manusia hidup puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. Kita boleh punya ambisi ekonomi. Kita boleh mengejar pertumbuhan. Kita boleh membangun kota dan industri. Tetapi jangan sampai ego manusia membuat kita lupa bahwa ada kebutuhan yang jauh lebih mendasar daripada keuntungan: air.
Jagalah hutan sebelum kita sibuk mencari cara menyelamatkan air yang sudah terlanjur hilang. Sebab uang bisa dicari kembali. Hutan bisa ditanam kembali, meski membutuhkan waktu panjang. Tetapi ketika sebuah ekosistem rusak dan sumber air menghilang, tidak ada tombol reset yang bisa mengembalikan semuanya seperti semula. Jangan habiskan rumah air hanya demi memenuhi nafsu konsumsi manusia hari ini.