Kolom
Kerja Secukupnya, Hidup Sepenuhnya: Saat Gen Z Mulai Ubah Definisi Sukses
Selama bertahun-tahun, kita seperti diajarkan bahwa semakin keras bekerja, semakin besar pula peluang untuk bisa cepat sukses. Datang paling pagi. Pulang paling malam. Mengejar jabatan. Meningkatkan penghasilan dan pencapaian sebanyak mungkin.
Namun, di tengah budaya kerja yang semakin dinamis, sebagian Gen Z mulai mempertanyakan pola tersebut. Bukan berarti tidak ingin memiliki karier bagus. Hanya saja, pekerjaan tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup.
Menurut saya, perubahan ini menarik. Sebab, Gen Z seperti sedang menggeser pertanyaan dari “Seberapa sukses karier saya?” menjadi “Seberapa baik kehidupan yang bisa saya jalani?”
Sukses Tidak Harus Selalu Terlihat di CV
Generasi sebelumnya mungkin lebih sering mengukur kesuksesan melalui hal-hal yang mudah terlihat: jabatan, gaji, rumah, kendaraan, atau posisi di perusahaan. Sementara itu, definisi sukses di era sekarang justru semakin personal.
Bagi seseorang, sukses bisa berarti memiliki pekerjaan yang stabil. Bagi orang lain, sukses berarti punya cukup waktu untuk keluarga, bisa menekuni hobi, beristirahat dengan tenang, hingga memiliki waktu untuk diri sendiri.
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan perubahan tersebut. Sebab, hidup seseorang terlalu kompleks jika hanya dinilai berdasarkan jabatan yang tercantum di kartu nama.
Kerja Keras Tidak Harus Berarti Mengorbankan Segalanya
Ada perbedaan antara bekerja keras dan hidup hanya untuk bekerja. Kerja keras tentu penting dan tidak ada kesuksesan yang datang tanpa usaha. Namun, jangan sampai pekerjaan membuat kita mengorbankan segalanya.
Jika pekerjaan membuat kita kehilangan waktu istirahat, hubungan sosial, kesempatan menikmati kehidupan, bahkan ruang untuk mengenal dirinya sendiri, kita perlu mempertanyakan kembali makna keberhasilan tersebut.
Gen Z tampaknya semakin sadar akan hal ini. Mereka tidak ingin menghabiskan seluruh energi untuk pekerjaan hanya demi memenuhi standar sukses yang ditentukan orang lain.
Kerja secukupnya bukan berarti bekerja asal-asalan. Artinya, pekerjaan tetap dilakukan secara bertanggung jawab, tapi kehidupan pribadi di luar pekerjaan juga masih mendapatkan ruang.
Work-Life Balance Bukan Berarti Malas
Sayangnya, keinginan memiliki keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan terkadang masih dianggap sebagai tanda kurang ambisius. Ketika menolak bekerja lembur terus-menerus, misalnya, kita bisa dicap minim dedikasi.
Produktivitas seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa lama seseorang duduk di depan komputer. Hasil pekerjaan, kualitas kontribusi, dan kemampuan menjaga kehidupan tetap bisa berjalan berdampingan juga penting.
Media Sosial Membuat Standar Sukses Semakin Berisik
Di sisi lain, Gen Z juga hidup dalam lingkungan digital yang penuh pencapaian. Setiap hari ada konten tentang orang yang mendapatkan pekerjaan impian, membuka bisnis, membeli rumah, bepergian, atau mencapai target tertentu di usia muda.
Tanpa sadar, semua itu bisa menciptakan tekanan. Kita merasa harus terus melakukan sesuatu agar tidak tertinggal. Padahal, media sosial hanya memperlihatkan potongan kehidupan seseorang.
Kita tidak melihat keseluruhan proses, tantangan, atau kondisi yang berada di balik pencapaian tersebut. Karena itu, menurut saya, Gen Z perlu memiliki keberanian untuk menentukan ukuran suksesnya sendiri.
“Cukup” Bukan Berarti Berhenti Berkembang
Ada kekhawatiran bahwa konsep hidup secukupnya akan membuat seseorang kehilangan motivasi. Menurut saya, justru sebaliknya. Mengetahui batas bukan berarti berhenti berkembang, kok.
Kita tetap bisa belajar keterampilan baru, mengejar promosi, membangun bisnis, atau meningkatkan penghasilan. Perbedaannya adalah kita tidak harus melakukan semua itu dengan mengorbankan seluruh kehidupan.
Ambisi tetap boleh ada. Istirahat juga tetap punya tempat. Karier bisa berkembang tanpa membuat kehidupan pribadi sepenuhnya menghilang. Sebab, “cukup” bukan berarti berhenti berkembang, tapi sadar akan makna sukses kita sendiri.
Kesuksesan Seharusnya Membuat Hidup Lebih Baik
Perubahan cara Gen Z memandang kesuksesan merupakan sesuatu yang layak diapresiasi. Bukan karena bekerja keras sudah tidak penting, tapi karena anak muda mulai mempertanyakan untuk apa kerja keras tersebut dilakukan.
Jika mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar tapi tidak pernah ada waktu untuk menikmatinya, apakah itu benar-benar kesuksesan? Jika punya jabatan tinggi tapi setiap hari merasa kelelahan, apakah pencapaian tersebut adalah kehidupan yang diinginkan?
Tidak ada jawaban yang sama untuk semua orang. Namun, satu hal yang jelas: sukses tidak seharusnya hanya tentang seberapa banyak yang kita dapatkan dari pekerjaan, tapi juga seberapa banyak kehidupan yang masih bisa kita nikmati di luar pekerjaan.
Kerja secukupnya bukan ajakan untuk bermalas-malasan. Konsep ini adalah pengingat bahwa kita bekerja untuk membangun kehidupan, bukan menjalani kehidupan hanya untuk bekerja.