Kolom
Desain AI Kian Seragam dan Kaku, Apakah Estetika Visual Kita Sedang Krisis?
Saat ini, kecerdasan buatan makin marak digunakan di berbagai instansi untuk membuat desain berupa poster atau infografis secara penuh. Alih-alih memanfaatkan teknologi di era saat ini dengan bijak, tindakan tersebut justru menguras nilai estetika hingga kreativitas manusia.
Kecerdasan buatan seharusnya tidak menggantikan pekerjaan desainer grafis, tetapi ironisnya, teknologi ini kini kerap dijadikan sebagai alat utama untuk menghasilkan sebuah informasi, ajakan, dan pengumuman resmi.
Menurut pandangan saya, sebenarnya tidak ada salahnya menggunakan kecerdasan buatan dalam proses pembuatan desain jika hanya berfungsi sebagai hiburan atau penyampaian visual secara satire. Sebagai contoh, warganet yang membuat gambar karikatur dari ChatGPT sebagai bentuk respons kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah. Hal ini mungkin masih ditoleransi sebab tidak semua warganet memiliki kemampuan menyunting profesional.
Namun, ketika desain tersebut digunakan oleh instansi formal, seperti sekolah dan perusahaan, batasan etika dan profesionalisme perlu diperhatikan. Penggunaan kecerdasan buatan secara instan dalam membuat desain sejatinya tidak menandakan bahwa instansi tersebut canggih, tetapi justru perlahan-lahan merusak nilai daya pikir kreatif.
Jujur saja, saya bahkan lebih menghargai hasil karya desain di pinggir jalan, misalnya spanduk pecel lele atau papan nama toko kelontong, yang dibuat dari hasil jerih payah manusia.
Ketika AI Menggusur Jiwa Kreativitas Manusia
Kreativitas sejati tidak terletak pada hasil akhir yang sempurna, melainkan pada keunikan proses berpikir manusia yang mampu memasukkan rasa dan empati ke dalam sebuah karya. Mengetik beberapa baris kata kunci (prompt) yang lengkap dan langsung memunculkan desain dalam hitungan menit adalah contoh tindakan malas yang membunuh jiwa kreativitas.
Kecerdasan buatan tidak semestinya digunakan seratus persen untuk membuat desain, sebab hasil yang diolah oleh AI terlihat begitu sama persis karena menciptakan gaya yang seragam. Desain yang tidak menampilkan ciri khas instansi maupun tipografi yang minim identitas akan berpotensi menurunkan kepercayaan publik.
Instansi formal memiliki tanggung jawab moral yang besar dalam membagikan pesan, karena komunikasi visual yang mereka lakukan tidak hanya berfokus pada alat pemasaran. Nilai keteladanan, kredibilitas, dan karakteristik juga turut berpengaruh pada identitas mereka. Oleh karenanya, kecerdasan buatan perlu digunakan secara bijak agar tidak merusak integritas lembaga.
Hasil Desain yang Dingin dan Kaku
Desain yang dihasilkan secara penuh oleh kecerdasan buatan masih tergolong dingin dan kaku. Hal ini terlihat jelas dari ekspresi karakter dengan senyuman yang dipaksakan bahkan artifisial, pencahayaan visual yang dilebih-lebihkan layaknya produk plastik digital, ketidakselarasan antara teks informasi dengan makna filosofis dari ilustrasi, hingga penggunaan aset ikonik publik secara berulang.
Alhasil, desain dari berbagai instansi yang berbeda kini hampir memiliki banyak kesamaan akibat AI yang cenderung menghasilkan karya dengan algoritma yang mirip. Tipografi yang kaku, homogenisasi gaya, hingga hilangnya rasa lokal berakhir pada minimnya estetika karena nihilnya campur tangan desainer grafis dan ilustrator profesional.
Prinsip Kolaborasi Adalah Batas Minimal
Kecerdasan buatan boleh saja digunakan asalkan ditempatkan sebagai alat bantu, yakni dalam fase mencari ide (brainstorming) dengan mengeksplorasi skema warna, tata letak, hingga konsep awal desain yang diinginkan. Ide menarik yang didapatkan bisa didalami lebih lanjut dengan mencari gagasan yang lebih luas.
Namun selanjutnya, proses kurasi, kontekstualisasi, dan produksi harus diambil alih oleh manusia. Mulai dari menyaring ide-ide yang diperoleh, membuat elemen ilustrasi utama, mengambil gambar nyata jika diperlukan, menyusun tipografi yang presisi, hingga mengatur penyuntingan desain akhir. Tindakan ini dilakukan melalui perangkat desain semestinya, seperti Canva, Adobe Photoshop, Adobe Illustrator, dan seterusnya.
Idealnya, keterlibatan AI dalam pembuatan desain berada di angka 20 persen, dan sisanya beralih pada tangan-tangan kreatif manusia. AI tidak memiliki sentuhan rasa, sementara keunikan tersendiri justru terlahir dari cara berpikir kita. Kreativitas tidak boleh menghilang, sebab karya yang baik selalu berawal dari daya nalar dan emosi manusia.
Mengembalikan Desain ke Tangan Manusia
Teknologi kecerdasan buatan akan terus berkembang dan menjadi makin presisi di masa depan. Namun, satu hal yang harus kita ingat: keindahan sebuah karya tidak pernah terletak pada seberapa cepat ia diciptakan atau seberapa mulus algoritma menyusunnya.
Nilai tertinggi dari sebuah desain adalah kemampuannya menjadi jembatan emosional, menyampaikan gagasan, serta mencerminkan kejujuran dari institusi yang diwakilinya.
Keresahan kita terhadap maraknya desain instan saat ini adalah alarm pengingat yang sehat. Hal ini menandakan bahwa masyarakat masih merindukan sentuhan manusia, keunikan lokal, dan proses berpikir yang mendalam.
Dengan menerapkan batasan yang ketat terhadap penggunaan otomasi dan mengembalikan dunia kreatif ke tangan manusia, kita dapat memastikan bahwa ruang publik kita tetap hidup, berkarakter, dan memiliki jiwa estetika yang seutuhnya.