Kolom

Pelajaran Sunyi dari Seorang Kakek dan Bukunya di Padatnya KRL Manggarai

Pelajaran Sunyi dari Seorang Kakek dan Bukunya di Padatnya KRL Manggarai
Suasana di dalam gerbong KRL. (dokumen pribadi)

Sore itu Stasiun Manggarai ramai sekali. Orang-orang terburu-buru mengejar kereta seperti biasa. Sebagai orang yang hampir setiap hari menggunakan KRL, keramaian seperti ini bukan lagi hal yang asing buat saya.

Suara pengumuman keberangkatan kereta terdengar bergantian dengan langkah kaki penumpang yang berjalan cepat menuju peron. Ada yang sibuk melihat jadwal di layar informasi, ada juga yang terus menatap ponsel sambil sesekali melirik arah datangnya kereta. Meski padat dan ramai, semuanya seakan sudah paham ritme perjalanan masing-masing.

Saya masuk ke gerbong yang sudah lumayan padat. Karena tidak dapat tempat duduk, saya berdiri di dekat pintu sambil berpegangan pada handgrip, dengan sisa tenaga yang lumayan terkuras sehabis aktivitas seharian.

Di sekitar saya, hampir semua orang sibuk dengan urusannya sendiri. Ada yang mendengarkan musik lewat earphone, membalas pesan di ponsel, bahkan ada yang terpejam karena kecapekan pulang kerja. Saya sendiri awalnya hanya menatap layar ponsel sambil menunggu stasiun tujuan tiba.

Saat kereta mulai melaju, mata saya tak sengaja tertuju pada kursi prioritas di ujung gerbong. Di situ, ada seorang kakek yang kelihatan berbeda sendiri dibandingkan penumpang lainnya.

Saya perhatikan dari jauh. Sang kakek memakai kacamata yang agak melorot ke ujung hidung, sementara tangannya yang sudah keriput perlahan-lahan membuka halaman buku lama yang sampulnya sudah pudar. Ia seolah tidak terganggu sama sekali dengan suara pengumuman stasiun atau orang-orang yang berdesakan masuk. Kelihatan tenang sekali.

Sementara penumpang lain—termasuk saya—sibuk memegang layar ponsel masing-masing, beliau justru asyik meresapi dunianya sendiri dari balik lembaran buku.

Sesekali kereta berguncang saat melintasi wesel rel atau berhenti di stasiun berikutnya. Penumpang silih berganti naik dan turun, suasana tetap riuh seperti biasanya. Namun, kakek itu tetap fokus pada bacaannya. Raut wajahnya sangat santai, seolah keramaian di sekitarnya tidak mengganggu konsentrasinya. Pemandangan sederhana itu membuat saya tanpa sadar ikut memperhatikannya lebih lama dari biasanya.

Momen itu entah kenapa terus menempel di kepala saya. Melihat si kakek bisa duduk nyaman membaca buku sampai stasiun tujuannya membuat saya berpikir: ternyata naik transportasi umum itu bukan cuma soal cepat sampai, tetapi juga soal bagaimana orang-orang di dalamnya bisa merasa nyaman.

Fakta bahwa seorang lanjut usia (lansia) bisa duduk tenang sambil membaca di tengah jam sibuk seperti ini menunjukkan bahwa fasilitas transportasi publik kita memang semakin membaik.

Saya pun jadi kepikiran. Selama ini mungkin saya sering melewatkan momen-momen kecil di sekitar saya karena terlalu asyik menunduk menatap ponsel. Padahal, kalau kita mau sesekali melihat sekitar, ternyata banyak hal kecil yang bisa dipelajari dari orang lain—seperti kebiasaan sederhana menikmati waktu dengan membaca buku atau sekadar mengamati dinamika kota.

Naik transportasi umum memang bagus untuk lingkungan dan membantu mengurangi kemacetan. Tapi lebih dari itu, ini juga soal bagaimana kita memanfaatkan waktu perjalanan itu sendiri. Kakek tadi tanpa sadar mengajari saya bahwa di atas kereta besi yang melaju kencang pun kita bisa mendapatkan ketenangan, asalkan mau sebentar saja melepaskan diri dari layar gawai.

Semenjak melihat kakek itu, saya jadi lebih sering memperhatikan sekitar dibanding sibuk membuka ponsel saat naik KRL. Kadang malah jadi keasyikan sendiri; melihat orang-orang yang lalu-lalang atau memandangi siluet gedung dari luar jendela saat kereta melintasi stasiun layang. Hal yang sangat kecil memang, tapi lumayan membuat perjalanan pulang jadi tidak terasa membosankan seperti biasanya.

Pengalaman hari itu membuat saya semakin yakin untuk tetap menggunakan transportasi publik. Semoga makin banyak orang yang sadar bahwa kenyamanan dan keamanan di transportasi umum adalah hak semua orang; dari anak sekolah, pekerja kantoran, hingga lansia tangguh seperti kakek yang saya temui sore itu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda