Kolom
Eks Dirut KBS Korupsi Pakan Hewan Rp10,2 Miliar: Saat Manusia Lebih Buas dari Predator
Korupsi di Indonesia tampaknya sudah mendarah daging dan bisa menjangkau hampir seluruh aspek kehidupan. Saya hanya bisa mengelus dada saat membaca kabar soal penetapan eks Direktur Utama Kebun Binatang Surabaya (KBS), Choirul Anwar, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi yang menyebabkan kerugian negara hingga Rp10,2 miliar.
Choirul diduga melakukan penyelewengan anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan operasional kebun binatang. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan Choirul sebagai tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi pengelolaan keuangan.
Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Jawa Timur I Gede Punia Atmaja menyebut penetapan tersangka dilakukan pada 21 Juli 2026. Kasus tersebut diduga terjadi dalam periode 2013–2024 dan mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp10,2 miliar. Akibatnya, pakan satwa tak maksimal, para hewan pun menjadi kurus bahkan sakit.
Berdasarkan hasil penyidikan, Chairul yang menjabat sebagai Direktur Utama PD KBS pada 2016–2024 diduga menyalahgunakan kewenangan dengan menggunakan anggaran perusahaan untuk pengeluaran fiktif yang tidak sesuai keperluan dan diduga digunakan untuk kepentingan pribadi.
Lebih miris lagi, tersangka diduga memerintahkan Kepala Departemen Accounting and Finance untuk mengeluarkan dana perusahaan sekaligus membuat dokumen pertanggungjawaban seolah-olah uang tersebut digunakan untuk kebutuhan operasional.
Koruptor yang Serakah, Satwa yang Menanggung Akibatnya
Kita mungkin sering mendengar kasus korupsi di lingkup pemerintahan yang tak terdengar aneh bahkan cenderung sudah biasa, namun kasus korupsi yang dilakukan eks Dirut Kebun Binatang Surabaya ini justru terdengar lebih menyedihkan karena objek yang terdampak bukan hanya negara atau rakyat, melainkan juga satwa-satwa tak berdosa yang berada di dalam kebun binatang.
Kebun binatang bukan semata-mata tempat untuk memamerkan hewan kepada pengunjung. Para satwa itu juga makhluk hidup yang membutuhkan makanan, perawatan kesehatan, lingkungan yang layak, dan perhatian dari manusia.
Ketika anggaran yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan operasional justru diduga diselewengkan, pertanyaan besarnya adalah siapa yang paling dirugikan?
Tentu saja, salah satunya adalah satwa. Bayangkan saja, para satwa yang seharusnya bisa hidup tenang bersama kawanan mereka di dalam kandang, harus menerima kenyataan bahwa hak mereka untuk makan dan mendapatkan perawatan dirampas oleh manusia serakah.
Meski tak menerima perlakuan seharusmya, tetap saja hewan-hewan tersebut hanya bisa pasrah menerima apa pun yang diberikan manusia kepada mereka.
Tapi justru di sinilah letak mirisnya. Manusia yang seharusnya menjadi pelindung justru diduga mengambil hak makhluk hidup yang sama sekali tidak bisa membela dirinya sendiri.
Koruptor Adalah Predator Sesungguhnya
Saya percaya bahwa kasus korupsi yang dilakukan eks dirut tidak mencerminkan sikap buruk semua pihak yang bekerja di kebun binatang tersebut. Banyak penjaga, dokter hewan, dan pekerja lainnya yang setiap hari merawat satwa dengan penuh tanggung jawab. Namun, kerja keras mereka bisa sia-sia jika sistem pengelolaan di atasnya justru disalahgunakan.
Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bahwa korupsi bisa terjadi di mana saja. Bahkan di tempat yang seharusnya menjadi ruang konservasi dan perlindungan satwa.
Manusia memang disebut sebagai makhluk paling berakal. Namun, jika akal tersebut hanya digunakan untuk mencari celah demi keuntungan pribadi, bukankah kita justru menjadi lebih kejam daripada predator?
Para hewan membunuh untuk bertahan hidup. Sementara itu, koruptor justru lebih ganas dari predator karena tak ragu mengambil hak orang lain, bahkan hak hewan yang hanya ingin mendapatkan pakannya dengan layak.
Jika hewan yang berakal masih memiliki insting untuk membantu sesamanya, lantas apa yang bisa kita sebut untuk manusia yang justru tega mengambil hak makhluk hidup yang berada sepenuhnya di bawah tanggung jawabnya?