Kolom
Perempuan dan Budaya Konsumtif: Belanja buat Healing atau Cuma Pelarian?
Sebagai perempuan, saya merasa hidup di era sekarang itu melelahkan. Tekanan datang dari banyak arah: tuntutan untuk produktif, tampil menarik, punya hidup yang estetik, sampai terlihat bahagia di media sosial.
Di tengah semua itu, belanja sering terasa seperti bentuk “healing” paling cepat dan mudah. Setidaknya begitulah awalnya saya berpikir.
Setelah hari yang berat, membuka aplikasi belanja terasa menyenangkan. Scroll barang lucu, lihat diskon besar, lalu checkout sesuatu yang sudah lama diincar rasanya seperti hadiah kecil untuk diri sendiri.
Apalagi sekarang ada paylater yang membuat semuanya terasa lebih ringan. Tidak perlu langsung bayar penuh, cukup cicil bulan depan.
Namun semakin sering dilakukan, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah ini benar-benar healing, atau sebenarnya cuma pelarian sesaat?
Ketika Belanja Menjadi Cara Menghibur Diri
Saya sadar kalau banyak perempuan, terutama kalangan Gen Z, menggunakan belanja sebagai bentuk self-reward. Setelah capek kerja, menghadapi masalah hidup, atau burnout karena rutinitas, membeli sesuatu menjadi cara paling cepat untuk mendapatkan rasa senang.
Ada kepuasan kecil ketika paket datang. Rasanya seperti ada hal yang bisa membuat hari sedikit lebih baik. Bahkan kadang bukan soal barangnya, tapi sensasi menunggu dan menerima paket itu sendiri yang terasa menyenangkan.
Masalahnya, rasa senang itu sering hanya sementara. Setelah euforia belanja hilang, saya kembali menghadapi realita yang sama. Stresnya masih ada, capeknya belum selesai, dan kadang justru muncul rasa bersalah karena uang habis.
Paylater dan Ilusi “Masih Aman”
Menurut saya, paylater menjadi salah satu alasan kenapa budaya belanja impulsif makin sulit dikontrol. Sistem “bayar nanti” membuat proses membeli terasa jauh lebih mudah.
Ditambah lagi nominal cicilannya terlihat kecil, kita jadi merasa semuanya masih aman. Padahal tanpa sadar, tagihan mulai menumpuk.
Yang membuat paylater terasa berbahaya karena kita tidak langsung merasakan kehilangan uang saat checkout. Akibatnya, keputusan belanja jadi lebih emosional dan impulsif akibat tergoda diskon, flash sale, atau promo menggiurkan.
Tekanan Media Sosial dan Standar Hidup Perempuan Gen Z
Saya tidak bisa memungkiri kalau media sosial punya pengaruh besar terhadap kebiasaan konsumtif perempuan Gen Z. Setiap hari saya melihat konten berisi rekomendasi produk terkini hingga gaya hidup yang terlihat sempurna.
Lama-lama muncul rasa takut tertinggal kalau hanya diam saja. Ada tekanan tidak tertulis untuk selalu terlihat menarik, update, dan punya hidup yang “rapi” seperti orang-orang di internet.
Padahal di balik semua itu, banyak dari kita sebenarnya sedang sama-sama berjuang secara finansial. Ironisnya, media sosial sering membuat gaya hidup mahal terlihat normal.
Akhirnya banyak perempuan muda, termasuk saya, jadi sulit membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan yang lahir dari tekanan sosial.
Healing atau Pelarian Emosional?
Saya mulai sadar jika beberapa keputusan belanja saya ternyata dipengaruhi emosi. Saat sedih, stres, kesepian, atau merasa tidak percaya diri, saya lebih impulsif membuka aplikasi belanja.
Belanja menjadi distraksi. Ada rasa lega sementara ketika berhasil membeli sesuatu. Namun rasa itu cepat hilang, lalu muncul lagi keinginan untuk membeli hal lain.
Di titik itu saya mulai memahami bahwa tidak semua self-reward itu sehat. Kadang kita menyebutnya healing, padahal sebenarnya sedang menghindari emosi yang belum selesai.
Perempuan Gen Z dan Beban untuk Selalu “Layak”
Menurut saya, perempuan Gen Z hidup dengan tekanan yang cukup kompleks. Kita dituntut untuk mandiri, produktif, cantik, stylish, dan tetap terlihat bahagia di saat bersamaan.
Semua standar itu membutuhkan biaya. Sementara kondisi finansial tidak selalu stabil. Akhirnya paylater terasa seperti solusi cepat agar tetap bisa mengikuti ritme sosial yang relatif cepat.
Namun lama-lama saya sadar kalau memaksakan gaya hidup demi validasi sosial justru melelahkan. Bukan cuma dompet yang terkuras, tapi juga pikiran.
Saya pernah merasa cemas hanya karena tagihan paylater datang bersamaan dengan kebutuhan lain. Rasanya seperti hidup terus dikejar pembayaran dari keputusan impulsif diri sendiri di masa lalu.
Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri
Sekarang saya mulai mencoba lebih sadar sebelum membeli sesuatu. Saya belajar bertanya pada diri sendiri: “Saya benar-benar butuh, atau cuma sedang ingin merasa lebih baik?”
Saya juga mulai menerima kalau hidup tidak harus selalu terlihat sempurna seperti di media sosial. Tidak semua tren perlu diikuti, dan tidak semua bentuk self-love harus diwujudkan lewat belanja.
Menurut saya, healing yang sebenarnya bukan tentang seberapa banyak barang yang bisa dibeli, tapi tentang bagaimana kita merasa cukup tanpa harus terus mencari validasi lewat konsumsi.
Paylater memang bisa membantu dalam kondisi tertentu. Namun ketika digunakan untuk menenangkan luka emosional atau memenuhi tekanan sosial, akhirnya hanya memberi rasa lega sementara.
Dan saya mulai sadar, ketenangan hidup tidak datang dari keranjang belanja yang penuh, tapi dari kemampuan untuk mengenali diri sendiri dan hidup lebih realistis.