Kolom

Di Era AI dan Digital, Mengapa Belajar Filsafat Justru Semakin Penting?

Di Era AI dan Digital, Mengapa Belajar Filsafat Justru Semakin Penting?
Tumpukan buku filsafat klasik karya Dostoevsky dan Nietzsche di atas meja. (Pexels/Calil Encarnación)

Saya pernah berada di fase menyesali keputusan masa lalu sebagai mahasiswa jurusan filsafat. Ada masa ketika saya termenung meratapi nasib seraya bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa saya menghabiskan waktu empat tahun lamanya demi membaca buku setebal bantal, menghafal nama-nama filsuf yang ejaannya bikin lidah terkilir, hingga berdarah-darah mendebatkan keberadaan Tuhan? Toh, setelah lulus, saya mau jadi apa? 

Filsafat sama sekali tidak mengajari saya cara mengoperasikan mesin pabrik. Ajaibnya lagi, ijazah filsafat juga tidak kunjung mendatangkan lowongan pekerjaan di depan pintu kos. Alih-alih memberikan jaminan masa depan yang mapan, filsafat justru menghadiahi saya sekelumit tumpukan pertanyaan baru.

Namun, lama-kelamaan saya tersadar dari lamunan dan menyadari tabiat asli dari ilmu ini. Saya dipaksa belajar untuk melihat segala sesuatu dengan lebih jeli dan mendalam. Saban hari, ketika melihat sebuah fenomena sosial, otak saya otomatis bekerja mencari motif busuk atau mulia yang tidak terkatakan di baliknya. Bahkan, ketika sebuah keadaan dianggap normal oleh masyarakat, saya justru gatal ingin menggugat bahwa normal menurut standar siapa?

Di dunia kerja, saya mulai menyadari bahwa umat manusia ternyata punya bakat terpendam sebagai pemain teater yang andal menggunakan topeng. Tengok saja drama harian itu. Ada karyawan yang bisa tersenyum manis selebar lima jari di hadapan sang atasan, padahal lima menit sebelumnya mulutnya sibuk menggerutu mengutuk nasib. 

Ada pula yang kepalanya sibuk mengangguk setuju di ruang rapat demi cari aman. Lebih aduhai lagi, ada barisan manusia yang rajin sekali mengguyur pimpinan dengan pujian setinggi langit, dengan kadar ketulusan yang sebenarnya lebih cocok kita sebut sebagai investasi karir jangka panjang. Begitulah indahnya ekosistem cari nafkah. 

Namun, di balik panggung sandiwara penuh komedi tersebut, selalu ada hal tersembunyi yang enggan diucapkan, seperti benturan kepentingan, posisi aman, rasa ketakutan, ambisi membara, hingga dahaga akan pengakuan sosial. Di sinilah tuah kuliah filsafat bekerja, yakni membiasakan otak saya untuk hobi menguliti lapisan misteri yang tidak langsung kasatmata.

Kemampuan mendeteksi kepalsuan semacam itu rasanya menjadi semakin krusial di zaman sekarang, ketika isi kepala kita setiap hari terus-menerus dibombardir oleh tsunami informasi.

World Economic Forum lewat laporan Global Risks Report 2025 menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai biang kerok risiko paling horor di jagat raya untuk jangka pendek dan menengah. Lebih aduhai lagi, WEF mencatat bahwa kehadiran AI generatif sukses membuat konten hoaks yang menyesatkan bisa diproduksi massal dan disebar dalam skala raksasa.

Melihat kekacauan ini, UNESCO ikut turun tangan dengan mewajibkan kemampuan berpikir kritis sebagai menu utama dalam Literasi Media dan Informasi. Targetnya umat manusia dipaksa mampu mengakses, menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan informasi secara jeli agar tidak gampang dikelabui oleh kabar burung dan tipu daya teknologi AI. Di sinilah saya merasa ijazah filsafat akhirnya bisa dipakai dan menemukan harga dirinya.

Dalam bab epistemologi—ilmu yang sibuk menguliti asal-usul pengetahuan—kita diajari satu pertanyaan bagaimana cara saya tahu bahwa sesuatu itu memang benar? Stanford Encyclopedia of Philosophy dalam ulasan epistemology of testimony membeberkan fakta bahwa sebagian besar isi kepala kita tentang sejarah, sains, politik, hingga gosip tetangga, aslinya cuma modal percaya pada omongan orang lain. Masalahnya adalah kapan informasi dari mulut orang lain itu sah dan layak kita percayai?

Topik tersebut awalnya terasa membosankan, sampai akhirnya kita melihat realitas di media sosial saat ini. Banyak netizen dengan percaya diri mengklaim sebuah informasi sebagai fakta mutlak, meskipun sumbernya berasal dari tempat yang sama sekali tidak jelas. 

Mereka sering kali berlindung di balik pernyataan bahwa informasi tersebut berasal dari pakar terpercaya, yang kenyataannya mungkin hanyalah pakar dadakan hasil kursus kilat. Lebih parah lagi, status viral di TikTok kini sering dijadikan standar suci untuk menentukan kebenaran, seolah-olah jumlah penonton dan angka views otomatis menjamin kevalidan sebuah data.

Di sinilah logika informal menjelma jadi penyelamat waras. Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa cabang ilmu ini bertugas membedah cara manusia bernalar dalam obrolan dan perdebatan di dunia nyata, termasuk cara menguliti argumen dan menakar seberapa canggih kekuatan isinya.

Jadi, belajar logika filsafat itu tujuan mulianya adalah belajar membedah premis, menguji bukti, melihat relevansi, hingga menarik kesimpulan dengan kepala dingin. Kehadiran AI membuat urusan memilah yang asli dan yang palsu ini menjadi jauh lebih krusial daripada sekadar memikirkan masa depan karier.

Akhirnya, saya insaf dan tidak lagi menuduh filsafat sebagai jurusan terkutuk yang gagal memberi saya lapangan kerja. Memang betul, selembar ijazah filsafat tidak otomatis menyulap seseorang menjadi karyawan kantoran. Pada ujung cerita, urusan kapasitas diri, keterampilan praktis, jam terbang, hingga portofolio tetaplah menjadi PR yang wajib kita bangun dengan keringat sendiri.

Namun, filsafat menghadiahi saya sebuah berkah fondasi kokoh untuk berpikir waras yang baru saya sadari kesaktiannya setelah menyandang gelar sarjana. Bahkan, lembaga mentereng sekelas World Economic Forum lewat laporan Future of Jobs Report 2025 blak-blakan menempatkan kemampuan berpikir analitis sebagai kasta tertinggi keterampilan inti yang paling diburu oleh para pemberi kerja. Angka surveinya aduhai, sebanyak 69 persen bos dan pemilik perusahaan sepakat memilihnya.

Bisa jadi, itulah alasan tunggal mengapa saya kini justru sudi bersyukur pernah terjerumus belajar filsafat. Di zaman gila ketika AI semakin lihai dan komplet dalam menyodorkan berbagai jawaban, umat manusia justru dituntut untuk semakin piawai dalam mengajukan pertanyaan yang bermutu.

Sebab, malapetaka terbesar peradaban kita hari ini mungkin bukanlah mesin-mesin buatan manusia yang tumbuh semakin pintar. Problem paling akutnya adalah manusia modern yang otaknya terlalu malas berpikir dan terlampau cepat percaya pada apa saja.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda