Kolom
Genap 10 Tahun Jadi Pengguna Transportasi Umum: Inovasi yang Diimbangi Integrasi
Semenjak duduk di bangku SMP-SMA, sebetulnya saya terbiasa menaiki angkot untuk akomodasi pulang-pergi sekolah. Setelah menjelang lulus kuliah, saya diterima bekerja di Jakarta. Saya itu masih harus ke kampus, sehingga diputuskan bekerja dengan cara: pulang pergi Bogor-Jakarta dengan naik kendaraan umum Commuter Line (KRL).
Tepatnya tahun 2016, saat itu saya bekerja di Jakarta Selatan, dan masih kuliah di Bogor. Ada dua opsi transportasi umum dari Bogor menuju Jakarta saat itu. Ada bus Jabodetabek dan KRL.
Sederhana saja, saat itu pertimbangan utama kenapa lebih memilih KRL: punya jalur sendiri, bebas macet, lebih bisa di prediksi waktu dan jarak tempuh. Kemudian terjangkau.
Berhubung lokasi kantor tidak terlalu dekat dengan stasiun, saya lanjut naik Transjakarta atau Tije dari stasiun Tebet menuju ke lokasi kantor.
Senin-Jumat kurang lebih rutinitas saya pulang pergi Bogor-Jakarta dengan KRL dan Transjakarta. Meskipun ada beberapa kali perpindahan kantor alias pindah pekerjaan, kurang lebih ritmenya masih mirip.
Awal pertama naik kendaraan umum KRL, dulu tidak banyak sosialisasi terkait apa manfaatnya. Namun, sebagai mahasiswi dan pekerja, saya tau menggunakan moda transportasi umum sama dengan membantu mengurangi emisi yang berdampak pada kualitas dan kesehatan udara.
Transformasi dan Inovasi Kendaraan Umum Semakin Meningkat
“Ini sih udah enak, Dek. Naik KRL ber-AC. Coba tahun 2007 kebawah, wah mumet amburadul banget," ujar salah seorang penumpang, ketika jam pulang kerja, KRL padat oleh penumpang. Beliau rupanya menghibur saya yang tampak kaget dengan suasana KRL saat itu.
Seperti yang diketahui dan dirasakan oleh pengguna KRL, di jam berangkat dan pulang kerja, meski dari stasiun awal pun akan mengalami kepadatan penumpang. Untuk yang pertama naik akan merasa kaget, begitupun saya.
Namun, setelah menggunakan moda transportasi ini lima hari dalam seminggu. Justru saya merasakan inovasi dan transformasi KRL. Satu persatu stasiun dibuat nyaman, fasilitasnya makin terawat. Misalnya: toilet bersih, tersedia mushola, banyak gerai makanan, apalagi di area stasiun besar.
Semakin ke sini, tersedia area charger handphone, isi ulang air mineral, bahkan pojok buku. Setiap gate pun mengalami banyak perubahan ke arah lebih baik.
Satu persatu stasiun berproses secara nyata untuk menyediakan penyeberangan yang aman serta nyaman. Saat 2016, stasiun Tebet belum senyaman sekarang ini lho. Masih menyebrang di perlintasan dengan menunggu aba-aba dari petugas, kini sudah ada lorong bawah tanah yang dibuat menjadi jalan para pengguna KRL untuk keluar dari stasiun.
Bahkan, beberapa stasiun tampil lebih cakep, dan terawat. Dengan rute perjalanan pun, sudah mengalami banyak dinamika. Tentu tujuannya supaya penumpang makin nyaman pakai moda transportasi yang satu ini.
Kabar baiknya lagi. KRL, memiliki beberapa unit baru yang lebih ramah disabilitas tuli karena ada tanda lampu mengedip saat pintu terbuka dan tertutup. Hal ini sempat di sounding oleh salah seorang teman saya juga.
Inovasi Diimbangi Integrasi
Semakin terbantu, karena pengguna transportasi umum semakin dimudahkan dengan integrasi antar satu moda transportasi ke moda lainnya.
Contoh sederhana: saat saya turun di stasiun Cawang, untuk melanjutkan perjalanan bisa lanjut ke moda: LRT, Transjakarta, ataupun Jaklingko. Sesuai dengan tujuan selanjutnya.
Memudahkan sekali ya? Bahkan di stasiun Cawang tersedia: tangga manual, eskalator, dan lift. Buat yang kondisinya fit, bisa pilih tangga manual sekalian olahraga. Untuk Ibu hamil, disabilitas bisa memilih pakai lift karena diprioritaskan buat mereka juga.
Tentu, di beberapa stasiun pun, integrasi ke moda transportasi lain kurang lebih sudah berjalan.
Terdapat inovasi: parkir sepeda di beberapa stasiun besar, salah satunya stasiun Bogor. Membuat para pesepeda bisa berangkat dari first mile menggunakan sepeda disimpan di parkiran secara rapi dan aman, lalu melanjutkan naik KRL.
Biaya Ongkos Terjangkau
Kalau ditanya kenapa saya pilih pakai transportasi umum terutama KRL dan Transjakarta, jawabannya karena biaya ongkosnya lebih terjangkau.
Ada opsi kendaraan lain yang memang dapat duduk dan lewat tol, namun harganya jauh lebih mahal. Sehingga saya lebih memilih pakai KRL dari stasiun Bogor menuju ke lokasi, lalu nyambung naik Transjakarta untuk benar-benar sampai ke tujuan.
Seperti yang kita ketahui, tarif ongkos Transjakarta Rp3.500,- sedangkan tarif KRL tergantung berapa stasiun yang dilalui. Salah satu contoh, dari stasiun Bogor menuju stasiun Pondok Cina biaya ongkosnya Rp4.000,-
Kebiasaan Bijak Bepergian Pakai Transportasi Umum Ternyata Berdampak Positif
Selain dari lebih terjangkau dari sisi biaya ongkos. Baru-baru ini saya mendapatkan informasi bahwa sektor transportasi darat menyumbang sekitar 8,18% total emisi gas rumah kaca Nasional.
Hal, ini menjadi salah satu indikator berapa urgent nya kesadaran setiap orang untuk beralih dari transportasi pribadi menjadi pengguna transportasi umum.
Berdasarkan laporan dari Kementerian Perhubungan, sedang mengupayakan untuk mencapai target 2060 Indonesia bisa menjadi negara yang bisa mewujudkan Net Zero Emission.
Target tersebut bisa tercapai apabila seluruh lapisan masyarakat ikut berkontribusi, mengubah kebiasaan harian saat bepergian dari menggunakan transportasi pribadi beralih menjadi pengguna transportasi umum.
Saya, selaku orang yang sering bepergian menggunakan transportasi umum, sering bercerita lewat tulisan di artikel hingga konten reels Instagram untuk mengajak orang-orang pakai kendaraan umum.
Biasanya, saya akan spill biaya transportasi umum lebih hemat dan terjangkau. Kemudahan mengakses transportasi umum, hingga integrasi dan inovasi yang dilakukan oleh transportasi umum.
Tentu, harapannya semoga semakin banyak orang turut serta menggunakan transportasi umum apabila bepergian jauh. Kalau dekat rumah, sekadar ke warung, ayo upayakan jalan kaki saja atau naik sepeda.
Kebetulan, Jumat 24 Juli 2026 saya dan teman-teman komunitas Yoursay datang ke acara talkshow Lintas (Ngobrolin transportasi bareng komunitas) yang mengusung tema: Pilihan Bijak Naik Transportasi Umum (Transportasi Hijau dan Mobilitas Berkelanjutan).
Sesi talkshow menghadirkan narasumber: Bapak Reza Hertantyo, SH, M. MTr selaku PLT Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) dan Mas Ir. Muhammad Ezra Pratamaputra selaku Content Creator.
Sebagai tambahan informasi, Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) adalah unit di bawah Kementerian Perhubungan yang fokus pada dekarbonisasi, efisiensi energi, dan transportasi rendah karbon.
Dihadiri oleh para pengguna transportasi umum, blogger, hingga content creator dari berbagai usia. Talkshow yang interaktif dan memberikan tambahan informasi bermanfaat seputar penggunaan transportasi umum, baik dari sisi pemerintah, content creator, hingga seluruh peserta yang memang pengguna transportasi umum.
Diskusi yang sangat berguna dan tambah perspektif sekali sih. Terutama terkait update upaya pemerintah melalui PPTB yang memang fokus pada progress transportasi berkelanjutan.
Nah, adapun fokus pengelolaan PPTB mencangkup: Dekarbonisasi, efisiensi energi, dan integrasi moda transportasi.
Saat ini ketiga poin tersebut sudah berprogres, misalnya ada banyak unit Transjakarta yang menggunakan bis listrik. Sosialisasi terkait pentingnya pakai transportasi umum pun semakin masif.
Berdasarkan pengalaman saya sebagai pengguna transportasi umum, berharap semoga kedepannya integrasi transportasi umum ini semakin merata ke setiap daerah di Indonesia. Sehingga, masyarakat semakin mudah untuk bepergian pakai transportasi umum. Serta segala fasilitas yang telah tersedia mari dijaga bersama.
Tentu, berharap fasilitas urgent di setiap moda transportasi umum pun semakin ditingkatkan terus kualitasnya, supaya para pengguna makin nyaman.
Gimana teman-teman, apakah sudah beralih ke transportasi umum untuk mobilitas harian? Drop di komentar ya ceritanya. Have a nice day!