Kolom
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
Zaman sekarang, konsep setia di satu kantor bertahun-tahun sampai janggutan lalu pensiun dengan permai di hari tuanya mendadak kedaluwarsa. Anak muda hari ini berani resign demi menyelamatkan kesehatan mental mereka yang berharga setinggi langit.
Saya jadi ingat kawan sesama anak magang yang mendadak pamit. Usut punya usut, proyek sampingannya sekali jalan bisa menghasilkan fulus yang sanggup menghidupi satu batalion anak magang selama sebulan penuh! Apa yang dia lakukan sebenarnya bukan melompat ke jurang kosong, tapi pindah ke pintu seberang yang karpet merahnya sudah digelar lebar.
Pantas saja, dari situ saya sadar, perkara keluar kerja ini ternyata ada kastanya. Ada golongan beruntung yang bisa lantang memutuskan untuk cabut dari tempat kerjanya karena pintu rezeki lain sudah antri mengular di luar sana. Di sisi lain, ada kaum pejuang tangguh yang memilih bertahan dengan senyum termanis mereka, sebab mereka tahu betul jika nekat ikut keluar, besok pagi periuk nasi mereka bisa mogok berbunyi.
Survei Deloitte 2025 terhadap 14.751 Gen Z dan 8.731 milenial di 44 negara membuktikan dunia kerja kita sedang ditimpa gempa bumi. Bayangkan saja, 89 persen Gen Z menganggap tujuan kerja itu harga mati setinggi langit! Bahkan, 44 persen diantaranya sudah mempraktekkan jurus langkah seribu—alias resign—karena merasa kantornya hampa tanpa tujuan yang jelas.
Tapi, aksi kabur ini ternyata butuh napas panjang. Survei Deloitte 2022 juga mengungkap lagi bahwa 4 dari 10 Gen Z sudah gatal ingin angkat kaki dalam 2 tahun, dan 1/3-nya nekat cabut begitu saja tanpa parasut kerjaan baru. Alhasil, demi menyambung hidup agar dapur tidak mogok ngebul, 43 persen Gen Z terpaksa membelah diri dengan mengambil pekerjaan sampingan.
Di sinilah indahnya romantisme resign massal perlu diberi rem sekuat tenaga dulu. Penelitian A. Shaji George dalam paper The “Anti-Hustle” Ethos Among Generation Z Workers (PUIRP, 2024) merekam hebohnya jurus quiet quitting, lazy jobs, hingga consciously unbossing. Bayangkan, 69 persen Gen Z dalam surveinya mendadak mogok ambisi dan ogah jadi bos tingkat menengah demi hidup seimbang, proyek hobi, dan privilege finansial setinggi langit.
Namun, privilege di dunia kerja ini tidak selalu berwujud modal segunung emas di rekening saja. Dia bisa menjelma jadi kesaktian lain yang tak kalah ampuh, seperti keterampilan dan skill set yang laris manis, jaringan yang seluas samudra, tabungan pengalaman yang bejibun, atau keluarga yang siap jadi kasur empuk saat kita terjatuh nantinya. Modal sakti inilah yang membuat seseorang punya seribu pintu alternatif saat memutuskan keluar dari kantor lamanya, seperti seorang kawan yang saya ceritakan di awal tadi.
Data ketenagakerjaan kita dengan lantang menjelaskan mengapa urusan resign ini bukan perkara remeh-temeh. Catatan BPS per Februari 2026 menunjukkan ada 154,91 juta orang yang berdesakan di panggung angkatan kerja, dengan 4,68 persen pengangguran terbuka yang sedang berjuang mencari peruntungan. Di tengah lautan manusia itu, rata-rata upah buruhnya bertengger di angka Rp3,29 juta sebulan—sebuah nominal yang menuntut kita pintar-pintar memutar otak agar dapur tetap ngebul.
Panggung dunia pun setali tiga uang. ILO (International Labour Organization) memperkirakan ada 2,1 miliar pekerja sejagat raya yang masih terombang-ambing di sektor informal tanpa payung perlindungan sosial ataupun kepastian fulus. Maka dari itu, melompat keluar dari zona kerja formal tanpa parasut cadangan di tengah situasi ini jelas keberanian tingkat tinggi yang butuh kalkulasi matang!
Maka dari itu, urusan kesehatan mental di tempat kerja tentu tetap jadi harga mati yang musti dijunjung tinggi. Kantor yang toxic jelas bukan warisan yang harus kita pertahankan sampai akhir hayat. Namun, kita harus jeli membedakan antara modal nekat dan modal dompet. Bagi si untung, resign adalah panggung privilege keberanian moral yang berkilauan. Bagi sebagian lagi, angkat kaki adalah perjudian ekonomi yang taruhannya bisa bikin dompet menangis darah.
Maka, sebelum tergiur ikut-ikutan merayakan drama "hari terakhir kerja" yang estetik di media sosial, ada baiknya kita memutar otak untuk mempertimbangkan semuanya. Setelah melangkah keluar dari kantor, kita harus memastikan modal nyata yang sebenarnya bisa dibawa di kantong.
Pilihan idealnya adalah tabungan yang menggunung, skill sekelas dewa, atau jaringan seluas samudra, bukan sekadar modal dengkul bernama keberanian. Ingat, modal nekat memang bisa didapatkan gratis tanpa dipungut biaya. Sayangnya, tukang tagih kontrakan dan beras di pasar tidak bisa dibayar pakai semangat-semangat saja.