Kolom

Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka

Ketika 'Bad News' Bagi Kita Adalah Tragedi Pahit Bagi Mereka
ilustrasi bad news bagi kita, realitas bagi mereka (gemini ai)

Beberapa waktu lalu, media sosial sempat riuh membahas salah satu konten mengenai mindfulness yang disampaikan oleh seorang public figure, Maudy Ayunda. Dalam kontennya, muncul saran untuk menyeleksi atau mengabaikan berita buruk (bad news) demi menjaga kedamaian pikiran dan emosi pribadi.

Secara konsep dasar psikologi, mindfulness memiliki makna yang baik, yaitu mengajak seseorang hadir secara utuh, sadar akan momen saat ini, serta menerima pikiran dan emosi tanpa menghakimi. Namun, ketika ajakan untuk "men-skip berita buruk" disampaikan di tengah rentetan musibah yang sedang menimpa saudara-saudara kita, wajar jika sebagian netizen merasa ada sengatan ketidakempatian di sana.

Bagi sebagian dari kita yang hidup di tempat yang relatif aman dan memiliki privileges, mematikan layar ponsel atau melewati (skip) berita buruk mungkin terasa sepele. Jari kita dengan sangat mudah dapat menggeser layar atau swipe up berita yang muncul di fyp atau beranda media sosial,  lalu kembali menikmati kopi hangat, dessert, dan kehidupan yang nyaman.

Namun di balik itu semua, marilah kita sejenak menaruh empati, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang hidup di dalam berita buruk itu sendiri?

Bad News Bagi Kita, Realita Bagi Mereka yang Merasakan

Bagi warga yang berbulan-bulan menghirup kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), mereka tidak bisa men-skip asap yang masuk ke paru-paru mereka dan anak-anak mereka. Bagi korban bencana alam di berbagai wilayah NTT yang tanahnya belum sepenuhnya pulih, tragedi itu adalah realita sehari-hari yang harus mereka hadapi sewaktu bangun tidur. Begitu pula bagi warga yang harus berdiri berjam-jam dalam antrean BBM berkepanjangan demi mengais rezeki harian mereka tidak punya opsi untuk sekadar mengabaikan keadaan. 

Berita buruk bagi kita mungkin hanya sekadar notifikasi atau durasi video lima detik di media sosial. Tapi bagi mereka yang terdampak, itu adalah kepedihan, perjuangan bertahan hidup, dan jeritan minta tolong yang nyata.

Ketika mindfulness diterjemahkan sekadar sebagai upaya membatasi diri dari isu-isu sosial yang menyakitkan, ada risiko besar yang muncul, misalnya  hilangnya empati kolektif. Padahal, kesadaran sosial dan perhatian publik lewat media sosial sering kali menjadi satu-satunya alasan mengapa bantuan cepat datang, kebijakan tumpul dikritik, dan penanganan bencana di daerah terpencil bisa terkawal dengan baik. Jika semua orang memilih acuh dan mematikan perhatian dengan dalih kedamaian mental pribadi, lantas siapa lagi yang akan bersuara untuk mereka yang tak terdengar? Bahkan terkadang, seberapa kuat kita bersuara, pemerintah tetap abai dan tidak memberikan tindakan konkret untuk mengatasi permasalahan tersebut. Apalagi jika kita tidak bersuara?

Tentu saja, menjaga kesehatan mental diri sendiri itu penting dan sangat valid. Kita tidak dituntut untuk menampung seluruh beban dunia hingga burn out. Namun, ada batas yang sangat jelas antara mengelola konsumsi informasi demi kesehatan mental dengan bersikap acuh tak acuh.

Menjadi manusia yang sadar (mindful) idealnya tidak membuat kita makin mengisolasi diri di dalam gelembung kenyamanan kita sendiri. Justru, kesadaran yang utuh seharusnya melahirkan empati yang lebih dalam dan menyadarkan kita bahwa saat kita bernapas lega hari ini, ada saudara sebangsa yang sedang berjuang keras sekadar untuk bertahan hidup.

Jangan sampai keheningan pikiran yang kita cari dibayar dengan pudarnya rasa kepedulian terhadap sesama. Karena pada akhirnya, berita buruk itu bukan sekadar konten yang bisa di-skip, melainkan panggilan untuk tetap menjadi manusia yang berempati.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda