Kolom

Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan

Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan
Ilustrasi Dokter (Unsplash/etactics)

Tidak ada keluarga yang membandingkan rumah sakit suatu negara dengan negara lain hanya demi mencari sensasi. Di balik setiap cerita tentang pengobatan, hampir selalu ada kecemasan, harapan, dan perjuangan untuk menyelamatkan orang yang dicintai.

Sayangnya, di era media sosial, pengalaman pribadi sering kali berubah menjadi arena perdebatan. Seseorang sekadar berbagi cerita berobat di luar negeri, tetapi respons yang datang justru bernada defensif. Alih-alih berdiskusi mengenai sistem kesehatan atau perkembangan teknologi medis, percakapan malah bergeser menjadi pertarungan ego antara "membela Indonesia" dan "mengagungkan negara lain".

Padahal, kesehatan seharusnya tidak mengenal nasionalisme yang berlebihan.

Saya teringat ketika membagikan pengalaman pengobatan paman saya di Johor, Malaysia. Unggahan itu sama sekali tidak membahas BPJS Kesehatan, tidak pula menyalahkan dokter atau rumah sakit di Indonesia. Itu hanyalah sebuah cerita tentang perjalanan mencari diagnosis yang tepat.

Awalnya, paman saya didiagnosis mengalami gangguan jantung hingga dipasang ring. Namun kondisinya tidak kunjung membaik meski sudah menjalani kontrol dan pengobatan. Keluarga tentu mulai merasa cemas. Ada rasa frustrasi karena jawaban yang dicari belum juga ditemukan.

Atas saran salah satu anggota keluarga yang bekerja sebagai tenaga kesehatan di Batam, paman saya akhirnya dibawa ke Johor untuk menjalani pemeriksaan lanjutan. Di sana proses pemeriksaan berlangsung relatif cepat. Setelah biopsi dan pemeriksaan lanjutan, termasuk PET scan, dokter menemukan penyebab sebenarnya: kanker usus besar yang telah bermetastasis ke hati.

Menariknya, dokter di Malaysia justru menyarankan agar kemoterapi dilakukan di Indonesia. Artinya, mereka tidak sedang "merebut pasien". Mereka hanya membantu memastikan diagnosis, kemudian merekomendasikan terapi lanjutan yang dapat dilakukan di negara asal pasien.

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa yang dibutuhkan pasien bukanlah kebanggaan terhadap suatu sistem kesehatan, melainkan ketepatan diagnosis.

Dalam dunia medis, diagnosis yang tepat adalah fondasi dari seluruh pengobatan. Obat terbaik pun tidak akan memberikan hasil optimal apabila penyakit yang ditangani sejak awal tidak dikenali dengan benar. Karena itulah, teknologi diagnostik memegang peranan yang sangat penting.

Salah satu teknologi yang sering menjadi pembahasan adalah PET scan. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam mendeteksi penyebaran beberapa jenis kanker, menentukan stadium penyakit, hingga mengevaluasi efektivitas terapi. Indonesia sebenarnya telah memiliki fasilitas PET scan di sejumlah rumah sakit besar. Namun, jumlahnya masih terbatas dan belum merata sehingga akses pasien di berbagai daerah belum selalu mudah.

Inilah yang seharusnya menjadi bahan diskusi publik. Bukan soal apakah Malaysia lebih hebat daripada Indonesia atau sebaliknya, melainkan bagaimana Indonesia dapat terus memperluas akses terhadap teknologi diagnostik modern agar semakin banyak pasien memperoleh penanganan yang cepat dan tepat.

Kita juga perlu mengakui bahwa sistem kesehatan setiap negara memiliki kelebihan dan kekurangan. Indonesia memiliki banyak dokter dengan kompetensi yang sangat baik dan rumah sakit yang terus berkembang. Di sisi lain, negara tetangga juga memiliki keunggulan tertentu, baik dalam efisiensi pelayanan maupun ketersediaan teknologi. Mengakui kelebihan negara lain tidak otomatis berarti merendahkan negeri sendiri.

Justru sikap terbuka terhadap praktik baik dari luar merupakan bagian dari proses belajar.

Yang sering terlupakan dalam perdebatan media sosial adalah posisi keluarga pasien. Ketika seseorang divonis mengidap kanker, tidak ada lagi ruang untuk mempertahankan ego. Keluarga akan mencari segala kemungkinan yang dapat meningkatkan peluang kesembuhan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Itu bukan bentuk pengkhianatan terhadap sistem kesehatan Indonesia, melainkan naluri setiap orang yang ingin melihat anggota keluarganya tetap hidup.

Pasien tidak peduli siapa yang paling unggul. Mereka hanya ingin mendapatkan diagnosis yang benar, terapi yang tepat, dan kesempatan untuk sembuh.

Maka, setiap kali mendengar seseorang berbagi pengalaman berobat di luar negeri, mungkin kita tidak perlu buru-buru tersinggung. Bisa jadi, di balik cerita itu ada keluarga yang sedang berjuang menghadapi penyakit, bukan sedang berlomba menentukan negara mana yang lebih hebat.

Karena bagi pasien dan keluarganya, kesehatan tidak pernah mengenal batas negara. Yang mereka cari hanyalah harapan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda