Kolom

Toxic Positivity di Tempat Kerja: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Toxic Positivity di Tempat Kerja: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Ilustrasi memberikan nasihat. (magnific.com)

Saya beberapa kali menemukan unggahan seseorang yang sedang bercerita tentang kegagalannya. “Aku gagal lagi. Rasanya sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan.” Tidak lama kemudian, kolom komentarnya dipenuhi kalimat yang sebenarnya terdengar baik: “Tetap positif.” “Semua akan baik-baik saja.” “Lihat sisi baiknya.” “Jangan overthinking.” “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan.”

Saya tidak menganggap orang-orang yang menulis komentar itu berniat buruk. Bisa jadi mereka memang ingin membantu, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa. Masalahnya, ada kalanya respons yang terlalu cepat untuk membuat seseorang kembali positif justru membuat kita melewatkan hal yang lebih penting. Mungkin orang tersebut sedang tidak membutuhkan nasihat. Mungkin ia hanya ingin didengarkan.

Di sinilah saya mulai mempertanyakan kebiasaan kita untuk selalu mencari sisi positif dari segala sesuatu. Optimisme tentu bukan sesuatu yang buruk. Justru dalam situasi sulit, harapan dapat membantu seseorang bertahan. Yang menjadi masalah adalah ketika “tetap positif” berubah menjadi kewajiban untuk segera berhenti sedih, berhenti marah, atau berhenti mengeluh.

Ketika Positif Berubah Menjadi Kewajiban

Menurut saya, ada perbedaan antara optimisme sehat dan positivitas yang dipaksakan. Optimisme sehat mengakui bahwa keadaan memang sulit, memberi ruang bagi emosi, lalu membantu seseorang melihat kemungkinan langkah berikutnya. Sementara itu, toxic positivity cenderung menolak emosi negatif dan memaksa seseorang segera melihat sisi baik dari keadaan.

Kalimat “Situasi ini memang berat, tetapi kita akan mencari jalan bersama” terasa sangat berbeda dengan “Jangan sedih, ambil saja sisi positifnya.” Yang pertama mengakui kenyataan sebelum menawarkan harapan. Yang kedua berpotensi melewati kenyataan itu begitu saja.

Istilah toxic positivity sendiri merupakan istilah populer untuk menggambarkan pola tersebut, bukan diagnosis psikologis. Karena itu, saya kira kita perlu berhati-hati agar tidak menggunakan istilah ini untuk menghakimi setiap bentuk optimisme. Kritiknya bukan pada sikap positif, melainkan pada positivitas yang dipaksakan dan tidak melihat konteks.

Kadang Orang Tidak Butuh Nasihat, tetapi Didengarkan

Hal ini bukan sekadar perasaan saya. Dalam penelitian Balsom, Dube, dan Gordon yang diterbitkan di PLOS ONE, 80 perempuan di Kanada dan Amerika Serikat yang mengalami pembatalan perawatan infertilitas selama pandemi diminta menceritakan bentuk dukungan yang mereka anggap membantu dan tidak membantu.

“Toxic positivity”, termasuk komentar seperti “just stay positive” dan “look on the bright side”, muncul sebagai salah satu kategori respons yang dianggap tidak membantu. Sebaliknya, mendengarkan, memvalidasi emosi, memberi harapan secara hati-hati, dan memberikan bantuan nyata termasuk bentuk dukungan yang dirasakan lebih membantu.

Tentu, penelitian tersebut tidak berarti semua kalimat positif berbahaya. Konteksnya sangat spesifik dan tidak bisa begitu saja digeneralisasi ke semua masalah. Tetapi ada pelajaran sederhana di sana, niat baik tidak selalu menghasilkan dukungan yang terasa baik bagi orang yang menerimanya.

Saya rasa ini penting karena kita sering terlalu cepat mengubah kesedihan orang lain menjadi pelajaran. Ketika seseorang berkata bahwa ia sedang hancur, kita buru-buru menjawab bahwa semuanya akan menjadi lebih baik. Ketika seseorang marah, kita menyuruhnya bersyukur. Ketika seseorang mengeluh, kita mengingatkannya bahwa masih banyak orang yang hidupnya lebih sulit.

Padahal, mungkin ia tidak sedang meminta kita menyelesaikan hidupnya.

Mungkin ia hanya ingin perasaannya diakui.

“Bersyukur Masih Punya Pekerjaan”

Kebiasaan yang sama juga mudah ditemukan di dunia kerja.

Kita sering mendengar kalimat seperti, “Bersyukur masih punya pekerjaan.” “Di luar sana banyak yang ingin berada di posisimu.” “Yang penting masih digaji.” Kalimat-kalimat tersebut mungkin dimaksudkan untuk mengingatkan seseorang agar tidak kehilangan perspektif.

Tetapi bagaimana jika orang tersebut sedang menghadapi beban kerja yang tidak masuk akal, ketidakpastian PHK, atau kondisi kerja yang memang perlu diperbaiki?

Seseorang sebenarnya bisa bersyukur masih memiliki pekerjaan sekaligus mempertanyakan apakah beban kerjanya wajar. Ia bisa menghargai perusahaan sekaligus meminta komunikasi yang lebih baik. Ia bisa berterima kasih karena masih menerima gaji sekaligus menganggap kebijakan tertentu perlu diperbaiki.

Dalam pemberitaan Kompas pada masa pandemi, misalnya, Irfan Hakim pernah berbicara tentang keputusan untuk tidak melakukan PHK terhadap karyawan ketika bisnis terdampak pandemi dan menyampaikan pentingnya bersyukur atas kondisi yang masih dimiliki. Pemberitaan tersebut juga menunjukkan adanya tindakan material berupa upaya mempertahankan karyawan dan membayar mereka.

Bagi saya, kasus seperti ini menarik justru karena menunjukkan bahwa rasa syukur dan tindakan nyata sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Yang menjadi persoalan adalah ketika narasi bersyukur digunakan untuk menggantikan pembicaraan mengenai persoalan yang konkret.

Upah, beban kerja, keamanan kerja, PHK, dan kebijakan perusahaan tetap layak dibicarakan, meskipun pekerjanya memilih untuk bersyukur.

Ketika Lelah Dianggap Kurang Positif

Fenomena ini juga terlihat dalam hustle culture. Di media sosial, saya sering melihat gambaran kesuksesan yang identik dengan bangun lebih pagi, bekerja sampai larut malam, mengambil banyak pekerjaan, dan terus bergerak ketika orang lain sedang beristirahat. Seolah-olah berhenti sebentar adalah tanda bahwa kita kalah.

Bayangkan seorang pekerja muda yang masih menatap laptop pada tengah malam. Ia mengunggah foto meja kerja dengan caption tentang perjuangan, kesuksesan, dan keharusan untuk terus bergerak. Kita melihat produktivitasnya, tetapi tidak selalu melihat rasa lelah, tekanan ekonomi, kondisi kerja, atau kebutuhan istirahat yang ada di balik foto tersebut.

Penelitian mengenai hustle culture di media sosial Indonesia menunjukkan bagaimana nilai kerja keras, ambisi, dan produktivitas dikonstruksikan sebagai bagian dari gambaran kesuksesan anak muda. Psikolog UGM juga mengingatkan bahwa budaya semacam ini dapat membuat seseorang mengabaikan sinyal tubuh, mengalami stres, hingga burnout.

Masalahnya bukan pada kerja keras. Ambisi juga bukan masalah. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika seseorang mulai merasa bersalah karena beristirahat.

Ketika rasa lelah selalu dijawab dengan “tetap semangat”, kita mungkin sedang melewatkan pertanyaan yang lebih penting, mengapa ia begitu lelah?

Di LinkedIn, Kita Belajar untuk Terlihat Baik-Baik Saja

Di LinkedIn, bentuknya mungkin lebih halus.

Saya melihat banyak unggahan tentang pekerjaan baru, promosi, penghargaan, pencapaian, dan ucapan terima kasih kepada perusahaan. Tidak ada yang salah dengan itu. Konten semacam ini memang dapat menjadi bagian dari personal branding dan membantu membangun jaringan profesional. Tetapi ada efek lain yang perlu kita sadari. Ketika yang terus muncul di layar adalah orang-orang yang mendapatkan promosi, memperoleh pekerjaan baru, atau memenangkan penghargaan, kita mudah merasa bahwa semua orang sedang berkembang kecuali diri kita.

Sebuah studi mengenai konsumsi konten promosi diri ideal di LinkedIn menunjukkan bahwa konten semacam itu dapat memunculkan emosi yang beragam. Seseorang dapat ikut senang atas keberhasilan orang lain, tetapi dalam kondisi tertentu juga mengalami dejection atau perasaan terpuruk karena membandingkan posisi dirinya dengan gambaran keberhasilan tersebut.

Di sini, optimisme tidak lagi hanya menjadi sikap pribadi. Ia juga dapat menjadi bagian dari tuntutan untuk selalu terlihat berhasil. Di pasar kerja yang kompetitif, kita bukan hanya dituntut untuk bekerja. Kita juga belajar untuk terlihat seperti orang yang berhasil bekerja.

Jadi, Siapa yang Diuntungkan?

Pertanyaan ini membawa saya kembali kepada judul tulisan ini.

Pemberi nasihat mungkin menjadi lebih nyaman karena percakapan sulit bisa segera ditutup. Perusahaan atau institusi mungkin berpotensi terhindar dari pembahasan yang lebih rumit mengenai beban kerja, upah, atau kebijakan. Kreator motivasi dapat memperoleh perhatian dari pesan-pesan sederhana tentang mindset dan semangat. Platform media sosial pun diuntungkan oleh konten yang singkat, emosional, dan mudah dibagikan.

Sementara orang yang sedang menghadapi masalah?

Ia tetap harus menjalani masalahnya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua pihak tersebut pasti memiliki niat buruk. Justru yang menarik adalah melihat bagaimana sebuah kalimat yang tampaknya sederhana dapat memberikan manfaat dan beban yang berbeda kepada orang yang berbeda.

Karena itu, saya mulai berpikir bahwa pertanyaan yang lebih penting bukan “Bagaimana membuat orang ini tetap positif?”, melainkan “Apa yang sebenarnya ia butuhkan?”

Optimisme yang Tidak Menutup Mata

Mungkin jawabannya adalah didengarkan. Mungkin bantuan konkret. Mungkin ruang untuk marah. Mungkin informasi. Atau mungkin memang sedikit harapan. Alih-alih berkata, “Jangan sedih, tetap positif,” kita bisa mengatakan, “Kedengarannya ini berat. Kamu ingin saya dengarkan, atau kita cari jalan keluarnya bersama?” Bagi saya, itu bentuk optimisme yang jauh lebih sehat.

Dalam dunia kerja, optimisme bahkan seharusnya berjalan bersama tindakan, meninjau beban kerja, membuka ruang keluhan, memperbaiki komunikasi, memberi dukungan, dan memastikan hak pekerja tetap terlindungi. Optimisme tidak seharusnya menjadi pengganti tindakan.

Kita boleh bersyukur masih bekerja sambil menuntut kondisi kerja yang lebih baik. Kita boleh berharap sembuh sambil mengakui bahwa kita sedang terluka. Kita boleh berpikir positif sambil tetap marah terhadap sesuatu yang memang tidak adil.

Jadi, setiap kali seseorang meminta kita untuk “tetap positif”, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan, siapa yang menjadi lebih nyaman setelah nasihat itu diberikan, siapa yang masih harus menanggung masalahnya, dan tindakan apa yang akhirnya tidak kita bicarakan?

Mungkin optimisme yang paling manusiawi bukanlah memaksa seseorang melihat cahaya ketika ia sedang berada dalam gelap. Mungkin optimisme adalah duduk bersamanya, mengakui bahwa tempat itu memang gelap, lalu membantu mencari jalan keluar.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda