Kolom
Gen Z Fasih Bahasa Inggris, tapi Makin Asing dengan Bahasa Ibu, Mengapa?
“Guys, nanti meeting jam berapa?”
“Kayaknya aku cancel dulu, lagi nggak feeling well.”
“Besok kita hangout, ya. See you soon. ”
Percakapan seperti ini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan anak muda Indonesia. Gen Z, bahkan generasi yang lebih muda, tumbuh dalam lingkungan digital yang mempertemukan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris hampir tanpa batas. Media sosial, film, musik, gim, pekerjaan, hingga konten TikTok dan YouTube membuat kosakata asing masuk ke percakapan sehari-hari dengan sangat cepat.
Fenomena tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Dalam kajian sosiolinguistik, pencampuran bahasa atau code-mixing dan code-switching merupakan bagian dari praktik komunikasi masyarakat bilingual. Penelitian terhadap Generasi Z di Politeknik Negeri Jakarta, misalnya, menemukan penggunaan campur bahasa Indonesia dan Inggris dalam komunikasi sehari-hari, terutama dalam situasi nonformal.
Studi lain terhadap interaksi Gen Z di Instagram bahkan menemukan penggunaan alih kode yang cukup dominan dalam data yang mereka teliti.
Masalah yang lebih serius justru berada di balik fenomena tersebut, ketika bahasa Inggris semakin hadir dalam kehidupan anak muda, sementara bahasa daerah semakin kehilangan ruang untuk digunakan, siapa yang akan mewariskannya?
Indonesia memiliki 718 bahasa daerah berdasarkan pemetaan Badan Bahasa. Namun, pada saat yang sama, sebagian bahasa tersebut berada dalam kondisi rentan, terancam punah, hingga kritis. Data Badan Bahasa tahun 2024 mencatat 29 bahasa daerah berstatus terancam punah, delapan kritis, dan lima telah punah.
Angka itu seharusnya menjadi alarm. Sebab bahasa tidak mati hanya karena tidak ada yang menulis kamusnya. Bahasa mati ketika semakin sedikit orang yang menggunakannya untuk berbicara kepada anak-anak mereka.
Gen Z Tidak Membunuh Bahasa Daerah, tetapi Ruang Hidupnya Makin Sempit
Terlalu mudah menyalahkan Gen Z ketika melihat anak muda lebih sering mengatakan ‘literally’, ‘random’, ‘healing’, ‘overthinking’, ‘meeting’, 'meanwhile', atau bahasa Inggris lainnya daripada menggunakan padanan bahasa Indonesia. Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks.
Generasi muda hidup dalam ekosistem yang memang mendorong penggunaan bahasa global. Bahasa Inggris hadir dalam teknologi, pendidikan, pekerjaan, hiburan, dan media sosial.
Bahkan penelitian terbaru tentang mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan bahasa bergantung pada ruang sosial bahasa Indonesia dominan dalam interaksi tertentu, sedangkan bahasa Inggris lebih sering muncul dalam konteks akademik dan media sosial untuk gaya, identitas, atau menjangkau audiens.
Artinya, campur bahasa tidak selalu menunjukkan rendahnya kecintaan terhadap bahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah. Justru kemampuan berpindah bahasa dapat menunjukkan fleksibilitas komunikasi.
Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa bahasa daerah tidak memiliki ruang yang sama menariknya?
Anak muda tidak mungkin mempertahankan bahasa yang jarang mereka dengar, jarang mereka gunakan, dan bahkan dianggap tidak memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika di rumah orang tua beralih ke bahasa Indonesia, di sekolah bahasa Indonesia menjadi bahasa utama, di internet bahasa Inggris mendominasi banyak konten, lalu bahasa daerah hanya muncul dalam pelajaran atau acara kebudayaan, jangan heran jika generasi muda semakin jauh dari bahasa leluhurnya.
Sibuk Mengajarkan Bahasa Asing Hingga Lupa Mewariskan Bahasa Ibu
Tidak ada yang salah dengan belajar bahasa Inggris. Bahkan dalam dunia yang semakin terkoneksi, kemampuan bahasa asing merupakan modal penting.
Yang menjadi masalah adalah ketika kemampuan berbahasa asing dianggap sebagai simbol kemajuan, sementara bahasa daerah justru dianggap kuno, tidak keren, atau tidak memiliki nilai ekonomi.
Di sinilah pendidikan perlu dikritisi.
Pemerintah telah menjalankan Program Revitalisasi Bahasa Daerah. Hingga 2025, program tersebut telah menjangkau 120 bahasa daerah di 38 provinsi, dengan generasi muda menjadi salah satu sasaran utama.
Namun, revitalisasi tidak boleh berhenti pada lomba pidato, festival, atau tugas sekolah. Bahasa daerah harus kembali menjadi bahasa yang hidup.
Jika anak hanya menggunakan bahasa daerah ketika mengikuti lomba, tetapi kembali menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa campuran setelah acara selesai, maka revitalisasi tersebut belum menyentuh akar persoalan.
Bahkan Badan Bahasa sendiri menekankan bahwa revitalisasi bukan sekadar dokumentasi, tetapi harus memperkuat penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari serta pewarisan antargenerasi.
Karena itu, keluarga memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar sekolah.
Bahasa pertama seorang anak tidak lahir dari buku pelajaran. Ia lahir dari percakapan di meja makan, sapaan orang tua, candaan dengan kakek-nenek, cerita sebelum tidur, dan interaksi sehari-hari.
Bahasa Daerah Harus Masuk ke Dunia Gen Z, Bukan Hanya Disuruh Bertahan
Kesalahan terbesar dalam pelestarian bahasa daerah adalah menganggap generasi muda harus kembali ke masa lalu.
Padahal, bahasa tidak harus dipertahankan dalam bentuk lama agar tetap hidup. Bahasa justru harus mampu bergerak mengikuti zaman. Jika Gen Z menghabiskan berjam-jam di TikTok, Instagram, YouTube, gim, dan berbagai platform digital, maka bahasa daerah juga harus hadir di sana.
Mengapa tidak ada lebih banyak konten kreator yang membuat konten berbahasa Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Banjar, Bali, atau bahasa daerah lainnya dengan gaya yang benar-benar dekat dengan Gen Z?
Mengapa bahasa daerah lebih sering muncul dalam seremoni budaya daripada dalam meme, podcast, musik, film pendek, komedi, game, atau konten edukasi?
Jika bahasa daerah hanya disajikan sebagai sesuatu yang harus dilestarikan, anak muda mungkin akan melihatnya sebagai kewajiban. Tetapi jika bahasa itu hadir sebagai sesuatu yang seru, relevan, dan menjadi bagian dari identitas digital, peluang untuk diwariskan akan jauh lebih besar.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Gen Z boleh mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Boleh.
Bahasa selalu berkembang. Bahasa Indonesia sendiri tumbuh melalui interaksi dengan berbagai bahasa dan terus mengalami perubahan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kita memiliki generasi yang semakin fasih mengatakan 'I’m not okay‘, tetapi semakin kehilangan kata-kata dalam bahasa leluhurnya untuk menjelaskan perasaan yang sama.
Kita tidak sedang menghadapi perang antara bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa daerah. Yang sedang kita hadapi adalah perebutan ruang.
Bahasa yang paling sering digunakan akan hidup. Bahasa yang hanya dikenang akan melemah dan bahasa yang tidak lagi diwariskan kepada anak-anak pada akhirnya hanya akan tersisa sebagai catatan dalam arsip.
Maka pertanyaan “siapa yang akan mewariskan bahasa daerah?” tidak seharusnya hanya diarahkan kepada pemerintah. Jawabannya ada di rumah, sekolah, komunitas, media, dan terutama generasi muda sendiri. Sebab melestarikan bahasa daerah bukan berarti menolak bahasa Inggris. Kita bisa menjadi generasi yang global tanpa harus menjadi generasi yang kehilangan bahasa asal.