Kolom

Mengulik Desa Les: Saat Tradisi Gerakkan Ekonomi, Anak Muda Siap Warisi?

Mengulik Desa Les: Saat Tradisi Gerakkan Ekonomi, Anak Muda Siap Warisi?
Potret petani garam di Desa Wisata Les, dari mempertahankan tradisi hingga menggerakkan ekonomi. (astra.co.id)

Menjadi anak muda di era sekarang, tentu bukan hanya harus beradaptasi dengan perkembangan zaman yang serba cepat dan canggih. Sebab, ada tradisi dan budaya yang tetap perlu dijaga agar tidak hilang begitu saja.

Garam Palungan khas Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, misalnya. Bukan sekadar produk biasa, di setiap tahapan pembuatannya terdapat pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Masyarakat di Pulau Seribu Pura tersebut masih mempertahankan metode alami dan tradisional dalam pembuatan garam. Prosesnya tentu tak instan, mulai dari mencampur tanah pantai dengan air laut hingga menghasilkan butiran-butiran kristal yang siap untuk dipanen.

Menariknya, garam ini sukses menjadi salah satu penggerak roda ekonomi warga. Merujuk press release astra.co.id pada Rabu (10/6/2026), setidaknya ada 2-3 ton garam per panen saat musim kemarau tiba. 

Para petani garam pun tak harus pusing dalam memasarkan. Karena dalam hal penjualan, BUMDes ikut turun tangan membantu memperluas pasar ke berbagai daerah di tanah air.

Tantangan Pelestarian Garam Tradisional di Tengah Tren Merantau

Usai meraih Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Desa Les menjadi salah satu desa binaan dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) yang turut mendorong pengembangan potensi dan kewirausahaan masyarakat setempat.

Melalui program itu, Astra memberikan kontribusi sosial di berbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan, serta kewirausahaan. Apalagi desa ini mempunyai potensi alam dan budaya yang menjanjikan. 

Masyarakat diberdayakan, begitu pula dengan generasi muda yang ikut mengambil peran penting dalam mengembangkan potensi lokal. Garam Palungan yang menjadi icon desa pun tak luput dari perhatian.

Kendati demikian, upaya menjaga garam tradisional ternyata masih menemui tantangan yang cukup berat. Terutama dalam aspek regenerasi. Mengingat bahwa rata-rata petani garam sekarang sudah memasuki usia lebih dari setengah abad.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Nyoman Nadiana selaku Penggerak atau Local Hero di Desa Les. Diakui bahwa gelar Juara Umum ADWI 2024 dan kunjungan para wisatawan berhasil memberikan dampak positif. Namun, tak banyak.

Challenge-nya adalah generasi desa memang lebih banyak untuk membuka karier di kota. Bahkan di luar negeri itu persoalannya. Tapi ada dua orang yang melanjutkan usaha (menjadi petani garam) orang tuanya,” ungkap Nyoman dalam wawancara daring, Kamis (6/8/2026).

Fakta ini menjadi PR besar bagi keberlanjutan tradisi garam di Desa Les. Lantatan ketika semakin banyak anak muda memilih merantau atau mencari pekerjaan di bidang lain, muncul pertanyaan tentang siapa yang akan melanjutkan profesi ini di masa mendatang?

Di sinilah inovasi menjadi penting, agar garam tradisional tak hanya dipandang sebagai warisan keluarga, tetapi juga sebagai bidang usaha yang punya peluang dan daya tarik bagi generasi muda.

Lebih jauh, Nyoman secara terbuka mengakui keinginan para stakeholder untuk memperluas pemasaran Garam Palungan hingga ke pasar internasional.

“Cuma kita bersepakat karena ini memang secara kuantiti nggak akan mungkin diekspor karena hanya (panen) musim kering saja, musim hujan istirahat,” sambungnya.

Oleh karenanya, garam-garam Desa Les lebih banyak dijadikan produk artisan. Termasuk untuk souvenir bagi para tamu yang berkunjung ke Desa Wisata Les.

Selain Garam Palungan yang menjadi warisan sekaligus penggerak roda ekonomi, Desa Les juga memiliki berbagai produk lokal unggulan lainnya. Misalnya adalah gula lontar atau gula juruh, hingga minyak kelapa. 

Kemudian bagi pengunjung yang mendambakan wisata alam, Desa Les menyajikan pemandangan indah melalui Air Terjun Yen Mampeh dan Yeh Anakan, hingga Cagar Budaya Nasional Pura Puseh Les-Penuktukan yang layak untuk disambangi. 

Harapan dan Masa Depan Desa Les Tumbuh Bersama

Pendampingan yang diberikan Astra melalui program DSA menunjukkan dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat Desa Les. Dalam dua tahun ini, setidaknya tercatat peningkatan pendapatan hingga 25% dan puluhan tenaga kerja baru pun berhasil diserap.

Chief of Corporatd Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto mengatakan bahwa pihaknya mempercayai bahwa upaya membangun desa bukan hanya soal mendorong pertumbuhan ekonomi. Melainkan juga menjaga agar kelestarian lingkungan dan identitas budaya dapat tetap terjaga.

“Astra berharap kolaborasi yang dijalankan melalui Desa Sejahtera Astra tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga keseimbangan antara kemajuan, pelestarian lingkungan, dan identitas budaya desa agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan untuk hari ini dan masa depan Indonesia,” tuturnya.

Dengan dukungan masyarakat, inovasi, dan keterlibatan anak muda, Desa Les memiliki kesempatan untuk terus berkembang tanpa harus kehilangan identitas yang telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakatnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda