Kolom

Dilema Emosional Perempuan Modern: Belajar Batasan tapi Takut Kesepian

Dilema Emosional Perempuan Modern: Belajar Batasan tapi Takut Kesepian
ilustrasi perempuan muda (Pexels.com/Alexey Demidov)

Saya sering mendengar nasihat agar menjadi perempuan yang baik, sabar, dan pengertian. Seolah perempuan dianggap hebat jika mampu memahami orang lain, menahan emosi, dan tetap bertahan meski terluka. Tanpa sadar, banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa menjaga hubungan lebih penting daripada menjaga diri sendiri. People pleasure kalau kata istilah zaman sekarang.

Sebenarnya, saya sendiri pernah menjadi seseorang yang selalu berkata “iya”. Meski merasa lelah, tapi saya lebih takut mengecewakan orang lain, dianggap egois, atau ditinggalkan saat menunjukkan batasan. Pada akhirnya, saya menyadari satu hal: perempuan sering kali dibesarkan untuk menjadi nyaman bagi orang lain, tetapi jarang diajarkan bagaimana caranya nyaman dengan dirinya sendiri.

Belajar Mengenal Personal Boundaries

Belakangan ini, istilah personal boundaries semakin sering dibicarakan. Awalnya saya mengira batasan yang dibuat hanya tentang menjauh dari orang toksik. Ternyata lebih dari itu. Batasan adalah cara kita menjaga energi, waktu, dan kesehatan emosional agar tidak habis demi memenuhi ekspektasi semua orang. Namun praktik jauh lebih sulit daripada memahami teorinya.

Saya pernah mencoba mulai menetapkan batasan sederhana. Tidak selalu membalas pesan saat sedang lelah, menolak ajakan yang tidak nyaman, atau berkata kalau sedang tidak baik-baik saja. Hal-hal kecil itu ternyata memunculkan rasa bersalah yang besar. Ada suara di kepalaku yang berkata: “Nanti dia marah", “Nanti dia pergi”, atau “Nanti dianggap berubah”.

Lama-lama saya sadar kalau ketakutan terbesar bukanlah konflik, melainkan kehilangan hubungan itu sendiri.

Takut Kehilangan Membuat Perempuan Bertahan Terlalu Lama

Banyak perempuan, termasuk saya, sering bertahan dalam hubungan yang melelahkan hanya karena takut kehilangan. Entah hubungan pertemanan, keluarga, maupun percintaan.

Kadang kita tahu sesuatu sudah tidak sehat, tetapi tetap bertahan karena merasa sudah terlalu banyak memberi. terus memaklumi sikap seseorang meski sudah tidak nyaman.

Saya pikir cinta berarti bertahan. Saya pikir menjadi dewasa berarti terus mengerti. Padahal, terlalu sering mengabaikan diri sendiri justru perlahan menghancurkan mental.

Ironisnya, perempuan sering dipuji karena kemampuan bertahannya. Padahal belum tentu itu kekuatan. Bisa jadi itu hanyalah rasa takut untuk melepaskan. Ada ketakutan merasa kosong setelah kehilangan seseorang. Rasa takut ini kemudian membuat perempuan rela menurunkan standar meski tidak ada lagi ketenangan.

Antara Egois dan Menjaga Diri

Salah satu hal tersulit saat belajar batasan adalah membedakan antara egois dan menjaga diri. Saya sering merasa bersalah ketika mulai memilih diri sendiri.

Saat menolak sesuatu yang membuat tidak nyaman, saya takut dianggap dingin. Saat menjaga jarak demi kesehatan mental, saya takut disebut berubah. Bahkan saat saya memilih istirahat daripada terus tersedia untuk semua orang, ada rasa tidak enak yang menghantui.

Perempuan sering dibentuk untuk menjadi “penjaga” hubungan. Maka ketika mulai berkata “cukup”, dunia terasa seperti sedang menuduh kita menjadi orang jahat. Padahal menjaga diri bukan berarti kita tidak peduli. Membuat batasan juga bukan berarti kita berhenti menyayangi orang lain.

Justru dengan memiliki batasan, hubungan bisa jadi lebih sehat karena dibangun tanpa keterpaksaan. Dan saya mulai belajar untuk tidak selalu mengorbankan diri. Sebab sebenarnya, orang yang benar-benar menghargai kita seharusnya mampu memahami batasan. Bukan malah menjadikannya alasan untuk pergi.

Melepaskan Tidak Selalu Berarti Kalah

Dulu saya menganggap kehilangan sebagai kegagalan. Jika hubungan berakhir, saya merasa ada yang salah dan terus mencari apa yang kurang dari diri saya. Sekarang saya mulai paham kalau melepaskan tidak selalu tentang menyerah. Kadang justru bentuk keberanian menerima kalau tidak semua orang bisa tinggal dan menjaga diri sendiri juga penting.

Belajar batasan membuat saya paham jika cinta tidak seharusnya menguras habis. Hubungan yang sehat idealnya memberi ruang untuk bernapas, bukan membuat terus cemas kehilangan. Sebab perempuan bukan manusia yang ditugaskan untuk selalu memahami semua orang. Kita juga manusia yang pantas dipahami, didengar, dan dijaga perasaannya—termasuk oleh diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda