Kolom

Bahasa Sendiri Terasa Kuno? Fenomena Gengsi yang Diam-Diam Kita Rawat

Bahasa Sendiri Terasa Kuno? Fenomena Gengsi yang Diam-Diam Kita Rawat
Ilustrasi Orang Meeting Alias Rapat (Chat GPT)

Baru-baru ini, Kak Oktavia Ningrum menulis kolom berjudul “Jangan Remehkan Kata-kata: Bahasa Dipersempit, Pikiran Ikut Dikendalikan”. Ia membahas Newspeak dalam 1984 karya George Orwell, tentang bagaimana bahasa yang dipersempit dapat ikut membatasi cara manusia berpikir. Tulisan itu membuat satu hal terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jangan-jangan kita juga sedang mengalami persoalan bahasa, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Kemarin, misalnya, saya mengikuti technical meeting persiapan lomba karya tulis ilmiah di Ganesa Convention Hall. Nama acara dan tempatnya terdengar keren. Tetapi setelah dipikir-pikir, yang dilakukan sebenarnya hanya rapat teknis alias kumpulan dan macit-macit. Kalau disebut “rapat teknis”, apakah acaranya mendadak menjadi kurang bergengsi?

Kita sudah terlalu akrab dengan kebiasaan semacam ini dalam percakapan sehari-hari. Islamic boarding school terdengar lebih mahal daripada asrama pelajar Islam. Technical meeting terasa lebih profesional daripada rapat teknis. Meeting, deadline, briefing, feedback, update, event, customer, seller, outlet, store, delivery, lounge, check-in, sampai check-out sudah begitu akrab di telinga.

Belum lagi benda-benda sehari-hari seperti charger, airport, separator, dan rolling door. Sebagian istilah memang sudah lazim dan menjadi bagian dari perkembangan bahasa. Persoalannya bukan semata-mata soal boleh atau tidak memakai bahasa asing. Bahasa memang terus berkembang dan saling memengaruhi.

Yang menarik adalah ketika bahasa asing tidak lagi sekadar dipakai karena praktis, tetapi ikut membawa gengsi.

“Rapat” terdengar biasa. Meeting terdengar profesional. “Batas waktu” terasa sederhana. Deadline terdengar lebih serius. “Umpan balik” seperti istilah dalam buku pelajaran. Feedback terdengar seperti bahasa orang kantor.

Padahal, maksudnya sama. Yang berubah bukan maknanya, tetapi kesan yang menempel pada kata tersebut.

Dari sini, saya jadi berpikir tentang Newspeak versi kita. Tentu saja ini bukan Newspeak seperti yang digambarkan Orwell. Tidak ada pemerintah yang membuat daftar kata untuk dihapus. Tidak ada aturan yang melarang kita mengatakan “rapat”, “batas waktu”, atau “umpan balik”. Kita masih bebas menggunakan semuanya.

Namun, ada bentuk lain yang lebih halus: kita sendiri yang mulai mengganti kata-kata sehari-hari dengan istilah asing karena menganggapnya lebih modern, lebih profesional, atau lebih berkelas. Rapat berubah menjadi meeting. Batas waktu berubah menjadi deadline. Umpan balik berubah menjadi feedback. Acara berubah menjadi event. Toko berubah menjadi store atau outlet. Pengiriman berubah menjadi delivery. Kegiatannya tetap sama. Hanya namanya yang berganti. Lalu, tanpa sadar, nama baru itu ikut mengubah cara kita memandang sesuatu. Seolah-olah sebuah kegiatan baru memiliki nilai lebih setelah diberi nama dalam bahasa asing. Padahal, tidak ada yang berubah dari kegiatannya.

Di sinilah saya kira perbedaannya dengan Newspeak dalam 1984 justru menarik untuk diperhatikan. Jika dalam novel Orwell kata-kata dipersempit agar manusia semakin sulit memikirkan sesuatu, dalam kehidupan sehari-hari kita mungkin menghadapi keadaan sebaliknya: kata-kata kita masih lengkap, tetapi sebagian perlahan ditinggalkan karena dianggap kurang keren.

“Rapat” masih ada. “Batas waktu” masih ada. “Umpan balik” masih ada. Bahasa Jawa juga masih ada. Hanya saja, apakah kita masih cukup percaya diri menggunakannya ketika meeting, deadline, dan feedback terdengar lebih modern?

Masalahnya bukan bahasa asing. Kita tentu tidak perlu memusuhi kata-kata dari bahasa lain. Banyak istilah asing yang memang dibutuhkan, terutama ketika belum ada padanan yang benar-benar sesuai atau ketika istilah tersebut sudah menjadi bagian dari penggunaan umum. Yang perlu dipertanyakan adalah kebiasaan mengganti kata yang sebenarnya sudah kita miliki hanya demi mendapatkan kesan tertentu. Sebab, kalau terus dibiarkan, yang bergeser bukan cuma kosakata, tetapi juga cara kita memberi nilai pada bahasa. Kita bisa sampai pada keadaan ketika kata dari bahasa sendiri dianggap sederhana, sementara kata asing otomatis dianggap lebih pintar.

Barangkali inilah Newspeak versi kita: bukan bahasa yang dipaksa untuk menjadi semakin sedikit, tetapi bahasa yang perlahan kita kecilkan sendiri karena merasa kata-kata dari luar lebih layak dipakai. Orwell mengingatkan bahwa ketika bahasa berubah, cara berpikir bisa ikut berubah. Kehidupan sehari-hari memberi contoh dalam bentuk yang lebih sederhana. Ketika kita terus-menerus menganggap bahasa sendiri kurang modern, lama-lama kita juga bisa memandang bahasa sendiri dengan cara yang sama.

Sebelum bahasa itu benar-benar hilang dari percakapan, mungkin yang perlu diselamatkan lebih dulu bukan kosakatanya. Rasa percaya bahwa bahasa sendiri juga layak digunakan dan dibanggakan. Di situlah tulisan Kak Oktavia tentang Newspeak menemukan relevansinya dalam kehidupan kita: bahasa tidak selalu kehilangan tempat karena dilarang. Kadang-kadang, bahasa kehilangan tempat karena penuturnya sendiri mulai merasa malu menggunakannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda