Kolom
Bukan Sekadar Ikut Tren: Memaknai Kemerdekaan Digital Gen Z di Tengah Gempuran FOMO
Di tengah FYP dan tren yang silih berganti di media sosial, Gen Z perlu memaknai kemerdekaan digital dengan berani memilih konten, tren, dan identitas tanpa selalu mengikuti algoritma yang terasa seperti cermin kehidupan kita.
Mulai dari rekomendasi musik, gaya berpakaian, makanan viral, tempat nongkrong, sampai opini tentang isu tertentu. Semuanya muncul seolah memang menjawab kebutuhan kita.
Bukan berarti algoritma itu sesuatu yang buruk. Justru, algoritma membuat pengalaman menggunakan media sosial menjadi lebih personal. Masalahnya muncul saat kita terlalu terbiasa mengikuti apa yang disodorkan.
Menjelang HUT ke-81 RI, mungkin sudah saatnya merefleksi kehidupan dengan pertanyaan sederhana. Apakah kita benar-benar bebas memilih di tengah gempuran algoritma yang semakin pintar membaca kebiasaan kita?
Ketika FYP Terasa Seperti Penentu Selera
Dulu, kita berselancar di media sosial untuk mencari sesuatu yang menarik. Sekarang, sering kali sesuatu yang menarik justru datang mencari kita.
Satu video ditonton sampai selesai, lalu muncul video serupa. Kita menyukai satu jenis konten, kemudian rekomendasi berikutnya semakin spesifik. Tanpa sadar, apa yang sering dilihat memengaruhi apa yang kita anggap menarik, keren, bahkan penting.
Di sinilah Gen Z menghadapi tantangan baru. FYP bukan sekadar tempat hiburan, tapi juga ruang yang ikut membentuk selera yang semakin terasa seragam. Saat ada yang berbeda sendiri, malah terasa seperti keputusan yang berisiko.
Tren Boleh Diikuti, tapi Tidak Harus
Menurut saya, mengikuti tren bukan sesuatu yang perlu dianggap negatif. Tren bisa menjadi cara untuk bersenang-senang, menemukan komunitas, atau bahkan membuka peluang baru.
Namun, kita perlu membedakan antara mengikuti tren karena memang menyukainya dan mengikuti tren karena takut tertinggal. Jangan sampai kita malah dikuasai FOMO yang memang dekat dengan kehidupan digital.
Jangan membeli sesuatu karena sedang viral, mencoba tempat estetik tertentu karena ramai di media sosial, atau mengikuti tantangan tertentu hanya agar tidak merasa menjadi satu-satunya yang tidak tahu.
Padahal, tidak semua hal yang viral harus menjadi bagian dari kehidupan kita. Kemerdekaan digital justru dimulai dari kemampuan sederhana untuk mengatakan “Aku tidak tertarik” meski semua orang sedang membicarakannya.
Berani Punya Selera Sendiri
Menjadi Gen Z di era algoritma juga berarti hidup di tengah arus informasi yang sangat cepat. Setiap hari ada tren baru, istilah baru, challenge baru, dan standar baru tentang apa yang dianggap keren.
Karena itu, memiliki selera sendiri menjadi semakin penting. Kita boleh menyukai lagu yang tidak sedang viral. Kita boleh tidak mengikuti gaya tertentu. Kita boleh menikmati konten yang berbeda dari teman-teman.
Bahkan, kita boleh mengubah pendapat setelah mendapatkan informasi baru. Pilihan yang autentik tidak selalu harus terlihat unik. Yang penting, pilihan tersebut datang dari kesadaran diri, bukan sekadar hasil dorongan lingkungan digital.
Merdeka Bukan Berarti Keluar dari Media Sosial
Memaknai “merdeka dari algoritma” bukan berarti harus meninggalkan media sosial atau berhenti menikmati FYP. Justru, kemerdekaan digital berarti tetap menggunakan media sosial tanpa membiarkan kehidupan kita dikendalikan.
Kita tetap bisa menikmati tren sambil mempertanyakan relevansinya. Mengikuti kreator sambil menyaring informasi. Menikmati FYP tanpa merasa harus membeli, mencoba, atau menjadi seperti semua hal yang ditampilkan.
Pada akhirnya, kemerdekaan di era digital mungkin bukan tentang seberapa jauh kita bisa menjauh dari teknologi. Kemerdekaan justru terlihat dari kemampuan kita untuk tetap memiliki kendali atas pilihan sendiri.
Di HUT ke-81 RI ini, mungkin sudah waktunya kita memperluas arti merdeka. Bukan hanya merdeka secara fisik dan sosial, tapi juga merdeka dalam menentukan apa yang ingin kita lihat, sukai, ikuti, dan percaya.
Sebab, di tengah dunia yang terus mengatakan “ikuti tren ini”, keberanian untuk berkata “aku memilih sendiri” juga merupakan bentuk kemerdekaan. Lalu, apa sekarang kamu sudah siap untuk merdeka dari algoritma?