Kolom
Pupuk Kompos Desa Les dan Peran Nyoman Nadiana dalam Menjaga Lingkungan
Apa kira-kira yang akan terjadi jika dedaunan yang berserakan dan kotoran ternak yang selama ini dianggap limbah justru diubah menjadi sesuatu yang menyuburkan tanah, menjaga kebersihan desa, sekaligus memiliki nilai ekonomi?
Nah, inilah yang terjadi di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali.
Di desa pesisir Bali Utara ini, sampah organik tidak semata-mata berakhir sebagai tumpukan yang harus dibuang. Sebagian diolah kembali menjadi pupuk kompos melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Inisiatif tersebut menjadi salah satu bagian penting dari upaya Desa Sejahtera Astra (DSA) dalam mendorong pembangunan desa yang tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan dan keberlanjutan kehidupan warga.
Desa Les ini memiliki karakter yang cukup unik. Luas alamnya membentang dari kawasan perbukitan hingga garis pantai. Masyarakat menggantungkan kehidupan pada berbagai potensi, mulai dari pertanian, perikanan, pariwisata, hingga produksi garam tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Sejak bergabung dalam program Desa Sejahtera Astra pada 2024, pengembangan desa dilakukan melalui empat bidang utama, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Program tersebut telah menjangkau lebih dari 800 masyarakat, disertai peningkatan pendapatan masyarakat hingga 25 persen dan munculnya puluhan lapangan kerja baru.
Namun, di balik cerita tentang garam tradisional, pariwisata dan produk lokal, mengurus sampah menjadi satu pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya sangat menentukan masa depan desa.
Dari Rumah, Sampah Mulai Dipilah
Melalui program Les Grow, masyarakat didorong untuk mulai mengenali sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah masing-masing.
Sampah organik berupa dedaunan kemudian dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk kompos. Hasilnya dimanfaatkan untuk kebun terpadu yang dikelola oleh TPST Desa Les. Sebagian kompos juga dapat dipasarkan kembali kepada masyarakat sehingga pengelolaan lingkungan tidak berhenti pada persoalan kebersihan, tetapi mulai memiliki nilai ekonomi.
Hal semacam ini sebenarnya sederhana, sampah dari rumah tidak langsung dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna. Sampah itu dipilah, diolah, kemudian dikembalikan kepada tanah dalam bentuk pupuk.
Dengan cara tersebut, persoalan sampah perlahan berubah menjadi siklus yang lebih sehat. Apa yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan justru kembali menjadi nutrisi bagi tanaman.
Pemerintah Desa Les telah mendapatkan dukungan sarana untuk mendukung pengelolaan lingkungan. Pada Desember 2025, Astra menyerahkan satu unit kendaraan motor roda tiga kepada Pemerintah Desa Les untuk mendukung mobilitas program lingkungan yang dikelola TPST. Kehadiran sarana tersebut diharapkan membuat pengelolaan sampah menjadi lebih efektif dan membantu menjaga kebersihan desa.
Nyoman Nadiana dan Cerita yang Dimulai Sebelum Astra Hadir

Di balik perjalanan tersebut ada sosok penggerak atau local hero Desa Les bernama Nyoman Nadiana. Bli Nyoman (demikian ia kerap dipanggil) bukan hanya dikenal dalam upaya mempertahankan tradisi garam Palungan, tetapi juga memahami bagaimana lingkungan, ekonomi dan kehidupan masyarakat desa saling berkaitan.
Dalam wawancara virtual pada Selasa (4/8/2026), Bli Nyoman menceritakan bahwa gerakan pengelolaan lingkungan di Desa Les sesungguhnya memiliki akar yang lebih panjang.
“Tahun 2004 program ini bernama Kampung Berseri Astra (KBA) di Desa Wisata Les, Buleleng, Bali, lalu diintegrasikan menjadi Desa Sejahtera Astra (DSA) hingga saat ini,” terang Bli Nyoman.
Menurut dia, sebelum pendampingan Astra hadir, masyarakat Desa Les sebenarnya sudah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).
“Diinisiasinya kami jauh sebelum Astra masuk itu memang ada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Lewat Bumdes kami membuat semacam kebun organik,” ujarnya.
Dari sinilah cerita pupuk kompos menjadi menarik. Karena bagi Bli Nyoman, persoalan sampah bukan hanya perkara membuang atau mengangkut, tetapi merupakan sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan.
“Jadi, sampah-sampah organik dari dedaunan dan kotoran-kotoran hewan, terutama kambing, itu diolah menjadi pupuk,” katanya.
Kalimat tersebut memiliki gagasan besar bahwa desa sedang berusaha membangun sistem yang memungkinkan sampah kembali menjadi bagian dari kehidupan.
Kompos Menjawab Persoalan Lingkungan dari Halaman Rumah

Pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos memberikan setidaknya dua manfaat sekaligus.
Pertama, volume sampah yang harus dibuang dapat ditekan. Sampah organik seperti daun dan limbah ternak memiliki potensi untuk diolah sehingga tidak semuanya berakhir sebagai timbunan.
Kedua, hasil pengolahan tersebut dapat digunakan kembali untuk tanaman. Program Les Grow mendorong pemilahan sampah dari rumah, sementara hasil kompos dimanfaatkan untuk kebun terpadu TPST desa. Sebagian produk juga dipasarkan kepada masyarakat.
Dengan demikian, satu kebiasaan sederhana (memilah sampah) dapat menciptakan rangkaian manfaat yang lebih panjang, berupa lingkungan menjadi lebih bersih, bahan organik tidak terbuang percuma, tanaman memperoleh pupuk, dan masyarakat memiliki peluang memperoleh nilai ekonomi.
Dalam konteks Desa Les, pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena kehidupan masyarakat sangat dekat dengan alam. Desa ini tidak hanya memiliki lahan pertanian, tetapi juga kawasan pesisir yang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan pariwisata masyarakat.
Oleh karena itu, menjaga lingkungan sesungguhnya sama dengan menjaga sumber kehidupan warga.
Tantangan Terbesarnya Bukan Sampah, tetapi Regenerasi
Meski demikian, perjalanan pengelolaan kompos di Desa Les belum sepenuhnya berjalan ideal. Bli Nyoman mengakui bahwa aktivitas tersebut masih dilakukan secara terbatas. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan sumber daya manusia.
“Ini masih berjalan dengan sangat terbatas, karena mengingat kita juga terbatas tenaga. Pemuda-pemuda di sini banyak yang mau bekerja ke luar negeri. Sedangkan untuk mengatasi sampah-sampah ini sangat butuh SDM dari kalangan kaum muda,” tuturnya.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan lingkungan di desa kerapkali bukan sekadar persoalan teknologi. Namun terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu siapa yang akan melanjutkannya?
Hal serupa juga terlihat dalam pelestarian garam tradisional Desa Les. Nyoman sebelumnya mengungkapkan bahwa banyak generasi muda memilih mencari karier di kota atau bahkan luar negeri, sementara petani garam yang bertahan rata-rata telah berusia lebih dari setengah abad.
Sebab itu, keberlanjutan program lingkungan dan ekonomi desa pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan menghadirkan generasi penerus.
Mengelola Sampah Bisa Menjadi Pintu Ekonomi

Bagi Bli Nyoman, persoalan ini sebenarnya menyimpan peluang.
“Jadi, pemuda yang mau bekerja di sini karena memang sudah tidak ada pilihan lain,” katanya sambil tertawa di tengah wawancara.
Namun, ia melihat kemungkinan yang lebih besar jika pengelolaan lingkungan benar-benar dikelola secara serius.
“Kalau ini misalnya dikelola oleh desa, secara sadar oleh pemuda desa, maka hal ini setidaknya akan menjadi pintu penggerak ekonomi.”
Pandangan tersebut menarik karena menggeser cara kita melihat pekerjaan lingkungan. Mengolah sampah tidak harus selalu dipahami sebagai pekerjaan tambahan atau aktivitas sosial semata. Jika dikelola secara profesional, ia dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi desa.
Kompos dapat digunakan untuk kebun terpadu, membantu kebutuhan pertanian dan penghijauan, sekaligus berpotensi dijual kepada masyarakat. Dengan begitu, semakin banyak sampah organik yang berhasil diolah, semakin besar pula kemungkinan terbentuknya rantai ekonomi baru berbasis lingkungan.
Tentu, skala produksinya masih terbatas. Bli Nyoman menyampaikan bahwa keterbatasan tenaga menjadi salah satu kendala utama. Maka dari itu, keberlanjutan program membutuhkan penguatan kelembagaan, partisipasi warga, sarana pengolahan, serta yang tidak kalah penting adalah regenerasi anak muda.
Dari Kompos untuk Kebun hingga Kesadaran Menjaga Desa
Sejauh ini, pupuk kompos hasil olahan masyarakat telah diarahkan untuk mendukung kebun terpadu TPST Desa Les. Ini berarti manfaatnya tidak berhenti pada pengurangan sampah, tetapi masuk kembali ke siklus pertanian dan penghijauan desa.
Model tersebut sejalan dengan semangat Desa Sejahtera Astra yang menempatkan lingkungan sebagai salah satu dari empat bidang utama pemberdayaan masyarakat.
Desa Les menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak harus memilih antara ekonomi dan lingkungan. Keduanya dapat berjalan bersama ketika masyarakat menjadi pelaku utama.
Astra memberikan pendampingan melalui Desa Sejahtera Astra, sementara warga menghidupkan program tersebut sesuai kebutuhan dan potensi lokal. Pola kolaborasi ini telah menjadikan Desa Les sebagai salah satu contoh desa yang menggabungkan pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya dan kepedulian lingkungan.
Selembar daun yang dipilah. Kotoran kambing yang tidak dibuang. Sampah organik yang diolah. Tanah yang kembali subur. Tanaman yang tumbuh, serta warga yang perlahan menyadari bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan orang lain, menjadi harapan bagi Bli Nyoman dalam menjalani program Desa Sejahtera Astra Desa Les, guna menjaga lingkungan yang menjadi sumber kehidupan.
Bagi Nyoman Nadiana, pekerjaan itu bukan sekadar mengolah sampah menjadi pupuk. Lebih jauh dari itu, aktivitas tersebut berarti ikut menjaga agar desa tetap memiliki alasan untuk dicintai, ditinggali, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.