Kolom
Menggali Ketakutan Kolektif di Balik Larisnya Film Mistik Kita
Sejujurnya, saya adalah tipe orang yang paling cepat memejamkan mata atau menutup telinga begitu poster film horor muncul di layar kaca. Saya tidak pernah paham kenikmatan melipat kaki di kursi bioskop, membayar tiket puluhan ribu rupiah, hanya untuk dibuat melompat kaget dengan menampilkan penampilan hancur atau melontarkan melengking di tengah malam.
Rekan-rekan sezaman saya sering kali menertawakan ketakutan ini sebagai hal yang kekanak-kanakan. Namun, setiap kali saya melangkah ke bioskop akhir pekan ini, jajaran papan jadwal tayang hampir selalu dipenuhi oleh judul-judul bernuansa mistik, santet, dan kemunculan iblis dari berbagai pelosok desa.
Dari situ saya sadar, keresahan saya bukan lagi soal rasa takut pada hantu, melainkan keheranan pada obsesinya industri film kita memuja hal-hal gaib.
Fenomena ini tentu bukan hanya perasaan saya saja. Kalau kita mau mundur sejenak dan melihat pola layar lebar kita, bioskop Indonesia seolah-olah bertransformasi menjadi rumah hantu raksasa yang tak pernah sepi pengunjung. Film bertema mistik dan kualifikasi horor terus-menerus merajai tangga box office saban tahun.
Data dari laporan Filmindonesia.or.id mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 hingga 2024, genre horor secara konsisten menyumbang lebih dari setengah total penonton film nasional, di mana judul-judul seperti Sewu Dino hingga Siksa Kubur yang berhasil menyelesaikan jutaan penonton ke dalam bioskop. Dominasi angka yang sangat fantastis ini menegaskan satu hal: masyarakat kita memang sedang gila-gilanya disuguhi ketakutan.
Namun, jika kita bedah lebih dalam lewat kacamata anak muda yang hidup di era yang serba tidak pasti ini, dominasi mitos dan mistisme di layar lebar sebenarnya mencerminkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar selera hiburan. Apakah kita benar-benar menyukai hantu, atau kita hanya sedang sangat lelah dengan dunia nyata?
Bagi generasi umur 20-an seperti saya, kenyataan hidup hari ini sering kali jauh lebih menakutkan daripada sosok pocong atau kuntilanak. Bayang-bayang kesulitan mencari kerja, harga rumah yang semakin tak terjangkau, hingga tumpukan tagihan yang tak pernah dikompromikan adalah teror nyata yang kami hadapi setiap hari saat terbangun dari tidur.
Di titik inilah film horor bekerja sebagai saluran kolektif yang unik sekaligus tragis. Saat kita menonton film horor, kita diberi ruang untuk berteriak dan melepaskan kecemasan tanpa perlu merasa dihakimi. Ada rasa lega yang aneh ketika melihat masalah karakter di layar "cuma" sebatas dikejar setan, karena teror itu punya durasi dan akan selesai begitu lampu bioskop dinyalakan kembali.
Sayangnya, masalah di dunia nyata tidak memiliki skenario itu. Kita sengaja memilih takut pada hal mistis demi mengalihkan pikiran dari rasa takut yang jauh lebih mencekam: ketakutan akan masa depan kita sendiri.
Tentu bukan berarti industri film kita tidak boleh memproduksi kisah misteri yang sama sekali. Mitos dan tradisi lokal memang bagian dari kekayaan budaya kita. Namun, ketika komodifikasi ketakutan ini terus-menerus diulang tanpa kesepakatan variasi genre lain yang berani, kita seolah-olah mengerdilkan imajinasi kolektif bangsa ini.
Bukankah sangat disayangkan jika karya sinema kita hanya dinilai sakti ketika berhasil menakut-nakuti penontonnya? Kita memiliki potensi kisah fiksi ilmiah yang kaya, drama sosio-politik yang tajam, hingga komedi satire yang bernas yang sebenarnya sangat siap untuk dieksplorasi secara komersial tanpa harus mengandalkan adegan jump scare.
Saya hanya bisa berharap bioskop kita suatu hari nanti memberi ruang bernapas yang lebih segar bagi mereka yang lelah dengan hantu, baik yang ada di layar maupun yang ada di dalam kepala. Mungkinkah keberanian kita untuk beralih dari formula horor di bioskop justru menjadi langkah awal kita untuk berani menghadapi kecemasan nyata di kehidupan sehari-hari?