Kolom

Bukan Sekadar Wisata, Ini Cara Kang Edai Menggerakan Kemiren

Bukan Sekadar Wisata, Ini Cara Kang Edai Menggerakan Kemiren
Kang Edai, Penggerak Desa Wisata Osing Kemiren (Dok Pribadi Kang Edai)

Bagi Kang Edai, Desa Kemiren di Banyuwangi, Jawa Timur, bukan hanya tempat tinggal. Sebagai orang asli Kemiren, ia memiliki keinginan untuk melihat desanya terus berkembang tanpa harus kehilangan budaya yang selama ini menjadi identitas masyarakatnya. Keinginan tersebut kemudian ia jalankan melalui pengembangan desa wisata dan pemberdayaan masyarakat.

Kemiren merupakan salah satu desa yang dikenal dengan kehidupan masyarakat Osing dan kekayaan budayanya. Tradisi, kuliner lokal, musik, serta arsitektur khas Osing menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Dalam pengembangannya, budaya tersebut tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga diperkenalkan melalui kegiatan wisata. Materi Desa Sejahtera Astra menyebut potensi Kemiren sebagai living museum budaya Osing karena pengetahuan dan tradisi lokal masih dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Kang Edai, menjaga budaya bukan berarti seluruh kehidupan masyarakat harus dikembalikan seperti masa lalu. Menurutnya, kondisi masyarakat terus berubah sehingga budaya pun ikut menyesuaikan diri. Ia memilih melihat bagian mana yang memang perlu dipertahankan.

“Tidak semua hal itu harus dikembalikan ke masa lalu, tapi beberapa hal yang urgent, atau kalau mungkin itu harus dipertahankan saat ini juga, mungkin itu bisa dikembalikan lebih dulu,” ujar Kang Edai dalam wawancara.

Salah satu contoh yang ia ceritakan adalah kawasan rumah adat Osing. Tidak seluruh rumah di Kemiren dapat dikembalikan seperti bentuk rumah adat karena perkembangan permukiman sudah berjalan. Dari sekitar 1.100 kepala keluarga di Kemiren, kawasan rumah adat yang menjadi prioritas hanya mencakup sekitar delapan kepala keluarga dan sepuluh unit rumah. Karena itu, pelestarian dilakukan dengan menentukan kawasan yang dianggap perlu diprioritaskan.

Kemiren Sudah Bergerak Sebelum Astra Datang
Perjalanan Kemiren sebagai desa wisata sebenarnya tidak dimulai ketika Desa Sejahtera Astra hadir. Kang Edai menjelaskan bahwa masyarakat sudah merintis pengembangan wisata sejak sekitar 2015. Saat bergabung dengan Desa Sejahtera Astra pada 2024, Kemiren sudah memiliki fondasi sebagai desa wisata.

Kehadiran Astra kemudian memberikan dukungan untuk mengembangkan potensi tersebut sekaligus membuka ruang bagi tiga bidang lain, yaitu kesehatan, pendidikan, dan lingkungan. Menurut Kang Edai, dukungan yang paling terasa adalah pendanaan, pengembangan sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana.

Perbedaan lainnya adalah keberlanjutan pendampingan. Sebelum bergabung dengan Astra, Kemiren menerima dukungan dari berbagai pihak, tetapi sifatnya tidak selalu tetap. Setelah memiliki kerja sama dengan Astra, masyarakat memiliki pihak yang dapat diajak berkonsultasi ketika membutuhkan dukungan untuk mengembangkan desa.

Bagi Kang Edai, pendampingan tersebut bukan berarti masyarakat hanya menunggu bantuan. Justru, dukungan yang ada digunakan untuk memperkuat apa yang sudah dimiliki Kemiren.

Wisata sebagai Etalase
Dari empat bidang yang dikembangkan dalam Desa Sejahtera Astra, kewirausahaan menjadi bidang yang paling berkembang di Kemiren. Hal tersebut tidak terlepas dari perjalanan desa wisata yang telah dimulai lebih dahulu. Namun, Kang Edai tidak ingin kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan berjalan sendiri-sendiri.

Ia masih mencari cara agar keempat bidang tersebut dapat saling terhubung. Salah satu gagasan yang ia tawarkan adalah menjadikan wisata sebagai pintu masuk bagi bidang lainnya.

“Jadi intinya di sini itu wisata ini sebagai etalase, toko, dan di dalam toko itu ada tiga bidang lainnya,” jelas Kang Edai.

Menurutnya, wisata dapat menjadi tempat untuk memperkenalkan kegiatan dari bidang lain. Misalnya, wisata edukasi dapat mengajak pengunjung mengenal pengolahan sampah organik maupun sampah plastik. Di bidang pendidikan, tamu yang datang ke Kemiren juga dapat dilibatkan sebagai relawan untuk mengajar di sekolah. Sementara di bidang kesehatan, kegiatan kerelawanan dapat diarahkan untuk membantu kebutuhan kesehatan masyarakat.

Dengan konsep tersebut, wisata tidak hanya menjadi tempat orang datang dan melihat budaya. Ketika semakin banyak orang mengenal Kemiren melalui wisata, bidang lain juga diharapkan ikut mendapat perhatian.

Kang Edai menyebut wisata memiliki multiplier effect yang cukup luas. Fokus Kemiren memang berada pada wisata budaya dan pelestarian kebudayaan, sehingga sektor tersebut dipilih sebagai program unggulan.

Dari Kuliner, Muncul Pengetahuan tentang Lingkungan dan Kesehatan
Hubungan antarb idang tersebut dapat dilihat dari cara Kemiren mengembangkan kuliner lokal. Bagi Kang Edai, sebuah makanan tidak hanya berhenti sebagai hidangan yang disajikan kepada wisatawan. Di baliknya ada cerita mengenai bahan yang digunakan, bagaimana bahan tersebut ditanam dan dipanen, hingga bagaimana makanan tersebut digunakan dalam kegiatan ritual.

Ia menjelaskan bahwa ketika wisatawan datang, kegiatan yang dilakukan dapat diarahkan untuk mengenalkan proses di balik makanan tersebut. Mulai dari cara menanam, memanen, mengolah makanan, hingga kaitannya dengan ritual masyarakat.

Dari kegiatan sederhana itu, wisatawan dapat menemukan pengetahuan lokal yang mungkin mulai ditinggalkan atau tidak lagi banyak dipahami. Di sinilah wisata kemudian bertemu dengan pendidikan.

Program Desa Sejahtera Astra sendiri turut mendukung bidang pendidikan melalui penguatan PAUD, sarana belajar, alat permainan edukatif, serta pengenalan budaya lokal kepada generasi muda.

Kesehatan dan Lingkungan Ikut Bergerak
Empat bidang Desa Sejahtera Astra di Kemiren dijalankan dengan penggerak masing-masing. Bidang kewirausahaan memiliki Mas Bendy, kesehatan melibatkan kader Posyandu, pendidikan melibatkan penggerak pendidikan anak usia dini, sedangkan bidang lingkungan digerakkan oleh Bapak Ribut dan Mas Yayan.

Di bidang kesehatan, kegiatan diarahkan pada fasilitas kesehatan masyarakat, termasuk pemeriksaan bagi balita dan lansia. Sementara bidang lingkungan mulai dikembangkan melalui pembuatan pupuk organik dan kompos serta pemilahan sampah plastik.

Program lingkungan juga diarahkan pada pemanfaatan limbah ternak, pengolahan kompos, dan pengembangan biogas. Materi Desa Sejahtera Astra mencatat terdapat dua tempat biogas yang telah dibangun sebagai bagian dari upaya mendorong pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Dengan begitu, perkembangan desa wisata tidak hanya berbicara tentang bagaimana mendatangkan wisatawan. Kondisi lingkungan tempat masyarakat tinggal juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Budaya yang Dikenal, Ekonomi yang Ikut Tumbuh
Pengembangan wisata budaya juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi. Materi Desa Sejahtera Astra mencatat bahwa program di Kemiren telah menjangkau sekitar 300 masyarakat. Kemiren memiliki 50 homestay dengan total 92 kamar, sekitar 40 pelaku usaha lokal di bidang kuliner, kerajinan, dan kopi, serta 40 anggota Pokdarwis. Kunjungan wisatawan juga tercatat lebih dari 3.000 orang setiap tahun pada periode 2024–2026.

Bagi Kang Edai, perkembangan tersebut juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat melihat kembali budaya yang mereka miliki. Budaya yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dapat memiliki nilai ketika dikenalkan kepada orang lain melalui wisata.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan desa wisata. Mereka dapat terlibat sebagai pengelola homestay, pelaku usaha kuliner dan kerajinan, pengelola kegiatan wisata, hingga bagian dari Pokdarwis.

Menyatukan Empat Bidang Bukan Perkara Mudah
Meski memiliki banyak potensi, menggabungkan empat bidang tersebut tetap menjadi tantangan bagi Kemiren. Kang Edai mengakui bahwa sebelumnya fokus utama mereka memang berada pada wisata. Setelah tiga bidang lain masuk, diperlukan penyesuaian agar semuanya dapat berjalan bersama.

“Nah ini menjadi tantangan bagi kami bagaimana caranya kami meramu 3 bidang atau 4 bidang ini bisa sinkron, bisa sama-sama naik seperti itu,” ujar Kang Edai.

Tantangan lainnya berkaitan dengan kondisi desa. Kemiren tidak memiliki lahan desa yang dapat digunakan untuk seluruh program. Banyak fasilitas yang berada di lahan milik warga, sehingga pengembangan harus dilakukan bersama masyarakat dan menyesuaikan keadaan yang ada. Bagi Kang Edai, pekerjaan selanjutnya adalah memastikan kegiatan yang dibuat dapat terus berjalan dan memberikan dampak.

Karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting dalam perjalanan Kemiren. Pengembangan desa tidak hanya membutuhkan masyarakat dan pemerintah, tetapi juga membuka kesempatan bagi komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, dan pihak lainnya untuk ikut terlibat.

Kunci Pengembangan Desa: Sabar dan Mau Melihat Kondisi Lapangan
Bagi Kang Edai, mengembangkan desa wisata tidak bisa hanya mengandalkan teori atau rencana yang dibuat di atas kertas. Ia sendiri memiliki latar belakang pendidikan di bidang manajemen bisnis pariwisata. Namun, ketika diterapkan di Kemiren, ada banyak hal yang baru bisa dipahami setelah melihat kondisi masyarakat secara langsung.

Ketika ditanya mengenai kunci agar desa wisata dapat terus bertahan, jawaban pertamanya sederhana.

“Pastinya yang pertama kuncinya sabar sih ya,” kata Kang Edai.

Menurutnya, kondisi di lapangan tidak selalu sama dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Apalagi pengembangan desa melibatkan banyak warga sehingga ada unsur sosial yang harus diperhatikan. Karena itu, memahami kondisi lapangan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah pengembangan Kemiren.

Bukan Sekadar Meninggalkan Program
Bagi Kang Edai, keberhasilan pengembangan desa bukan hanya dilihat dari banyaknya program atau pembangunan fisik. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana Kemiren dapat terus berjalan ketika suatu saat dirinya tidak lagi menjadi penggerak.

Ia ingin pengembangan desa tidak berhenti pada satu orang. Masyarakat dan berbagai pihak yang terlibat perlu memiliki peran sehingga keberlanjutan program dapat tetap dijaga.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan caranya melihat generasi muda. Tidak semua anak muda harus masuk ke bidang budaya atau pariwisata. Mereka dapat mengambil peran melalui kemampuan yang mereka miliki dan mengembangkannya dengan sungguh-sungguh.

Pada akhirnya, perjalanan Kemiren menunjukkan bahwa budaya tidak harus menjadi sesuatu yang hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu. Budaya dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan desa, membuka peluang usaha, memperkenalkan pengetahuan lokal, sekaligus menghubungkan masyarakat dengan bidang kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.

Desa Sejahtera Astra hadir ketika Kemiren sudah memiliki perjalanan panjang sebagai desa wisata. Dukungan yang diberikan kemudian membantu memperluas pengembangan tersebut ke empat bidang, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Bagi Kang Edai, prosesnya memang belum selesai. Masih ada tantangan untuk menyatukan setiap bidang dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Namun, dari Kemiren terlihat satu hal: membangun desa tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru.

Dapat disimpulkan, terkadang, langkah pertama justru dimulai dengan melihat kembali apa yang sudah dimiliki.

Di Kemiren, budaya Osing menjadi salah satu kekuatan tersebut. Melalui wisata, Kang Edai berusaha menjadikannya sebagai pintu untuk membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda