Kolom
Kang Edai, Penjaga Denting Lesung Kemiren
Suara kayu lesung yang bertalu sejak pagi menjadi penanda kehidupan yang masih terjaga di Desa Kemiren, Banyuwangi. Di halaman rumah-rumah berarsitektur khas Osing, irama gedhogan itu bukan sekadar musik penyambut wisatawan, melainkan denyut nadi masyarakat Osing, suku asli Banyuwangi yang selama ratusan tahun menjaga tradisi leluhurnya tetap hidup.
Upacara adat Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu masih rutin digelar, Tari Gandrung masih ditarikan, kuliner khas dan musik tradisional masih diwariskan, dan rumah-rumah berarsitektur Osing masih berdiri sebagai identitas desa.
Di tengah kekayaan budaya yang hidup itulah, sosok Mohammad Edy Saputro, yang akrab disapa Kang Edai, mengambil peran sebagai penggerak. Sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kemiren, ia paham betul bahwa desanya tidak punya modal wisata alam seperti desa-desa lain.
"Kami tidak punya gunung, pantai juga tidak punya. Sawah pun tidak ada yang semacam terasering bagus," ujarnya menggambarkan kondisi Desa Kemiren.
Namun ia cepat menambahkan pandangan yang menjadi keyakinannya selama ini, "Tapi kami punya budaya. Budaya Osing bukan artefak yang cukup dipajang untuk dilihat wisatawan, melainkan kekuatan yang harus terus digerakkan agar memberi manfaat nyata bagi kehidupan warga sehari-hari."
Menggerakkan Budaya, Membangun Desa: Langkah Kang Edai Bersama Astra

Sejak 2024, Desa Kemiren menjadi bagian dari Program Desa Sejahtera Astra dan Kang Edai dipercaya sebagai penggerak yang menjembatani semangat pelestarian budaya dengan empat bidang pemberdayaan, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Di bidang kesehatan, Kang Edai ikut mengawal penguatan layanan Posyandu dan penyediaan sarana kesehatan dasar bagi warga. Dukungan terhadap kesehatan ibu dan anak, disertai edukasi kesehatan rutin, dijalankan agar warga yang sibuk menyambut wisatawan tidak melupakan hal paling mendasar: tubuh yang sehat sebagai modal utama membangun desa. Baginya, desa wisata yang maju harus dimulai dari warga yang sehat, bukan sekadar dari jumlah kunjungan.
Pada bidang pendidikan, perhatian Kang Edai mengarah pada generasi paling muda di desanya. Ia mendorong penguatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui penyediaan sarana belajar dan alat permainan edukatif, sekaligus memastikan pengenalan budaya lokal ditanamkan sejak dini. Anak-anak Kemiren tumbuh sambil mengenal lesung, batik, dan tarian Gandrung tidak hanya dari buku pelajaran semata, tetapi juga dari lingkungan yang masih mempraktikkannya setiap hari.
Ia percaya keberlanjutan budaya Osing hanya mungkin terjadi jika generasi penerus mencintainya sejak kecil, bukan sekadar mewarisinya sebagai kewajiban. Kang Edai juga mencatat bahwa geliat wisata ikut menghidupkan kesenian tradisional yang menopang identitas budaya desanya.
"Pariwisata juga menjaga sanggar kesenian tetap hidup. Di Kemiren ada 18 sanggar seni yang semuanya melestarikan budaya adat suku Osing," jelas pria lulusan program Diploma 4 (D-4) Manajemen Bisnis Pariwisata dari Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) ini.
Kian ramainya kunjungan wisatawan membuat Kang Edai juga menaruh perhatian besar pada lingkungan. Ia menggerakkan warga membentuk kelompok sadar lingkungan, mendampingi pengelolaan sampah organik dan non-organik, serta mendorong pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik dan pengembangan fasilitas biogas.
Sarana pengelolaan sampah dan kompos disiapkan agar geliat pariwisata tidak meninggalkan jejak kerusakan bagi desa yang selama ini dijaga leluhurnya. Menurutnya, desa wisata sejati adalah desa yang tetap bersih dan
lestari meski ramai dikunjungi.
Sebagai sosok penggerak perubahan di Desa Kemiren, kontribusi paling terasa dari Kang Edai ada di bidang kewirausahaan. Ia mendampingi pelaku usaha lokal, termasuk perajin batik yang kerap tampil bersamanya dalam berbagai dokumentasi program, membina Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan mendorong berkembangnya homestay dan usaha kuliner warga.
Hasilnya terlihat nyata. Kini terdapat 50 homestay dengan total 92 kamar, 40 pelaku usaha lokal di bidang kuliner, kerajinan, dan kopi, serta 40 anggota Pokdarwis yang aktif mengelola desa wisata. Pendapatan rata-rata anggota Pokdarwis naik 33 persen, dari sekitar Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.
Sempat lesu saat pandemi menghantam sektor pariwisata, tetapi Kang Edai tak menyerah. Ia berupaya semaksimal mungkin membangkitkan kembali kunjungan ke desanya.
"Pasca pandemi, kami terus berupaya menghadirkan pengalaman budaya yang otentik agar kunjungan kembali meningkat," ceritanya.
Ia mengenang masa ketika kunjungan yang pernah menembus 18 ribu wisatawan pada 2019 sempat anjlok drastis. Kini kunjungan berangsur pulih ke kisaran dua hingga empat ribu wisatawan per tahun, seiring bergeraknya kembali dapur-dapur warga dan sanggar-sanggar seni di Kemiren.
Program yang digerakkan Kang Edai bersama warga dan Astra ini telah menjangkau sekitar 300 orang di Desa Kemiren. Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, menilai Desa Sejahtera Astra Kemiren membuktikan bahwa pelestarian budaya dan pembangunan masyarakat bisa berjalan beriringan, memberi manfaat lebih luas lewat peningkatan kualitas hidup, peluang usaha, dan kesejahteraan berkelanjutan.
Ketika Budaya Menemukan Jalannya Menyejahterakan Warga

Kerja keras itu pun mendapat pengakuan luas. Sejak 2019, Desa Kemiren telah meraih sejumlah penghargaan, mulai dari Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia hingga ASEAN Tourism Award 2025.
Bahkan pada tingkat internasional, desa ini terpilih dalam The Best Tourism Village Upgrade Program 2025. Menteri Pariwisata pada kunjungannya di bulan Juli 2025 memuji pelestarian adat, seni, tradisi, serta ekonomi kreatif yang dikembangkan warga Kemiren.
Bagi Kang Edai, semua pencapaian itu berpulang pada satu hal sederhana: budaya yang dijaga dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya sendiri untuk menyejahterakan masyarakatnya. Hal itu terbukti dari denting lesung penyambut wisatawan, posyandu yang menjaga kesehatan warga, kelas PAUD yang menanamkan cinta tradisi, hingga kelompok lingkungan, homestay, dan usaha warga yang terus tumbuh bersama.
Kang Edai menunjukkan bahwa seorang penggerak desa tidak harus menciptakan sesuatu yang baru sama sekali. Ia cukup memperkuat apa yang sudah lama hidup di tengah masyarakatnya, dan membiarkan budaya Osing menuntun Desa Kemiren menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.