Banjir Sumatera: Air yang Mengajarkan Ketangguhan Hati

Bimo Aria Fundrika | Selesa Dgitera
Banjir Sumatera: Air yang Mengajarkan Ketangguhan Hati
Alat berat terus bekerja membersihkan tumpukan kayu dan lumpur guna membuka akses dan membersihkan area permukiman terdampak.

Bayangkan air yang naik pelan-pelan, menelan pijakan daratan satu per satu. Di tengah banjir bandang yang melanda Sumatera akhir-akhir ini, cerita seperti itu bukan sekadar headline berita. Ia adalah napas para ibu, ayah, dan anak yang bertahan di ujung harapan.

Seorang ibu nekat menyeberangi sungai deras dengan tali sling reyot, langkah demi langkah menantang arus demi mencapai keluarga di seberang. Gambar itu bukan hanya simbol isolasi pascabencana. Ia pengingat bahwa akses sederhana seperti jembatan bisa menjadi jembatan jiwa, menghubungkan yang terpisah oleh bencana.

Optimisme Nyalakan Harapan

Di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, banjir meninggalkan luka yang lebih dalam. Muhammad Ichasm, pembina yayasan, menyaksikan kayu-kayu gelondongan berputar-putar seperti roda nasib di depan matanya.

"Sudah nggak ada lagi pijakan daratan. Kami masak di atas air," ceritanya dalam video yang viral.

Air setinggi rumah menghanyutkan kayu-kayu gelondongan ke area santri putri dan menghancurkan bangunan. Ancaman itu nyata. Apabila kayu lepas lagi, tiga atau empat desa bisa rata.

Tuhan melindungi area santri. Masjid selamat, dan santri sempat dievakuasi step by step ke rumah pendiri yayasan saat proses belajar masih berlangsung. Tak ada korban jiwa.

Dari balik puing, Ichasm berseru: "Harapan kami, proses belajar-mengajar dibantu pemerintah, khususnya Kementerian PU." Kisah ini merefleksikan iman yang tak tergoyahkan. Bencana menguji, tetapi persiapan dan doa menyelamatkan nyawa.

Trauma banjir tak pernah sendirian. Ia bertemu luka lama. Dedy Saputra, pengawas lapangan PPK 1.5 BPJN Aceh dari Kementerian PU, tahu betul rasanya. Masih jelas dalam ingatannya 21 tahun lalu, tsunami 2004 merenggut bapak, ibu, dan dua adiknya.

"Masih terbayang-bayang," akunya dengan suara tenang.

Kini, di Aceh Tamiang, ia meninggalkan keluarga demi tugas memulihkan sarana pendidikan pascabencana. Anak-anaknya sering menelepon, merindu ayah yang biasanya dekat.

"Trauma pasti ada. Cuma bagi saya sudah pulih. Ya namanya hidup, kalau masih bernyawa, mau tidak mau harus dijalani," ungkap Dedy.

Dedy bukan pahlawan super. Ia abdi negara biasa yang memilih bertindak ketimbang meratap. Kisahnya mengajak kita merenung dari luka pribadi sehingga lahir semangat tolong-menolong. Bencana bukan hanya merusak bangunan, tetapi juga membangkitkan hati yang pernah remuk.

Cahaya di Tengah Kegelapan

Langkah-langkah nyata berbagai pihak menjadi cahaya di tengah gelap. Salah satunya adalah percepatan normalisasi Sungai Batang Sumpur demi mencegah banjir berulang yang mengancam ribuan warga. Di Aceh Tamiang, berbagai institusi bergandengan tangan membangun kembali infrastruktur yang rusak. Salah satunya adalah kerja sama BUMN Karya dan TNI untuk merehabilitasi sekolah-sekolah yang rusak.

Tentu saja, hal ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini soal masa depan anak-anak yang belajar di atas lumpur. Jembatan baru, sungai yang jinak, dan sekolah yang berdiri tegak—itu semua janji bahwa negara tak meninggalkan rakyatnya. Bencana mengungkap kelemahan alam, tetapi respons manusia menunjukkan kekuatan kolektif.

Sumatera, tanah yang subur sekaligus rapuh, mengajarkan pelajaran abadi. Dari tali sling ibu penyeberang menjadi jembatan kokoh, dari kayu gelondongan menjadi sungai terkendali, dari trauma Dedy menjadi aksi nyata. Bencana bukan akhir, melainkan panggilan untuk bangkit bersama.

Bencana mengingatkan kita: air bisa naik tinggi, tapi hati manusia bisa lebih tinggi lagi. Di balik puing dan genangan, ada cerita ketangguhan yang inspiratif. Sumatera bangkit, dan kita semua dipanggil ikut serta.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak