Kolom

Ibu Baru dan Insecurity: Celah Marketing di Tengah Kecemasan Parenting

Ibu Baru dan Insecurity: Celah Marketing di Tengah Kecemasan Parenting
Ilustrasi ibu dan bayi (magnific)

Ada banyak hal yang berubah setelah seorang perempuan menjadi ibu. Mulai dari bentuk tubuh, rutinitas, prioritas, dan cara memandang diri sendiri pun bisa ikut berubah. Di tengah perubahan tersebut, hadir seorang bayi yang kebutuhannya sering kali tidak mudah dipahami.

Banyak pertanyaan pun mulai bermunculan. Apakah ASI sudah cukup, apakah berat badan bayi bertambah dengan baik, hingga bagaimana tubuh bisa kembali pulih setelah melahirkan. Belum lagi berbagai informasi yang datang dari media sosial, keluarga, maupun pengalaman ibu lain yang sering kali menghadirkan standar tersendiri tentang seperti apa seharusnya menjadi seorang ibu dan merawat bayi.

Di tengah kondisi inilah, rasa khawatir ibu baru perlahan menemukan tempatnya dalam industri parenting, sekaligus membuka ruang bagi marketing untuk menawarkan berbagai produk sebagai jawabannya.

Misalnya, ada ASI booster yang menjanjikan ASI lebih lancar, produk yang dikaitkan dengan ASI lebih kental dan berlemak, korset pelangsing pascamelahirkan, sampai produk menawarkan pemulihan tubuh lebih cepat.

Setelah bayi lahir, daftar kekhawatirannya pun berganti, ada dot anti bingung puting, BB booster, anti GTM, bantal anti peyang, dan berbagai produk yang seolah-olah dapat memastikan bayi tumbuh sesuai standar tertentu. Lantas, mengapa kekhawatiran ibu baru begitu mudah berubah menjadi peluang bisnis?

Kecemasan yang Menjadi Komoditas

Informasi tentang parenting sekarang datang dari berbagai arah, mulai dari konten edukasi, pengalaman pribadi, rekomendasi di media sosial, hingga promosi produk. Semuanya bercampur dan tidak selalu mudah dibedakan. Ibu yang sedang mencari jawaban pun akhirnya dihadapkan pada banyak pilihan yang sama-sama menawarkan solusi.

Kondisi seperti ini tentu menjadi peluang bagi pasar. Ketika ibu masih mencari kepastian, berbagai produk yang menawarkan solusi bisa terasa lebih meyakinkan. Klaim seperti membantu ASI lebih lancar, membuat bayi lebih nyaman, atau mempercepat pemulihan tubuh pun mudah menarik perhatian, terutama bagi ibu yang sedang mencari cara terbaik untuk dirinya dan bayinya.

Jadi, ibu baru menjadi target pasar bukan hanya karena banyaknya kebutuhan setelah melahirkan. Fase ini juga dipenuhi banyak hal yang masih belum pasti, sehingga berbagai produk yang menawarkan jawaban lebih mudah menarik perhatian.

Bahasa Marketing yang Menyentuh Titik Lemah

Marketing parenting juga menarik karena produk yang ditawarkan tidak hanya dijelaskan berdasarkan fungsinya. Cara penyampaiannya sering menyentuh keinginan dasar orang tua, seperti ingin anak sehat, nyaman, tumbuh dengan baik, dan terhindar dari berbagai masalah.

Kata-kata seperti “booster”, “anti”, “lebih lancar”, “lebih cepat”, atau “tanpa rasa sakit” bukan sekadar istilah dalam iklan. Di baliknya, ada harapan yang ikut ditawarkan kepada ibu. Produk tersebut seolah tidak hanya membantu menyelesaikan masalah, tetapi juga menjanjikan pengalaman menjadi ibu yang lebih mudah, nyaman, dan ideal.

Standar seperti itu perlahan bisa membuat pengalaman yang sebenarnya wajar terasa seperti sebuah kekurangan. Rasa sakit dalam persalinan seolah menjadi sesuatu yang harus dihindari, tubuh yang belum kembali seperti sebelum hamil dianggap perlu segera diperbaiki, dan fase tertentu dalam tumbuh kembang bayi pun bisa membuat orang tua merasa harus melakukan lebih banyak hal.

Lama-lama, bahasa marketing bukan hanya mengikuti kecemasan orang tua, tetapi juga bisa memengaruhi cara mereka melihat pengalaman sendiri. Hal yang awalnya dianggap wajar dapat mulai terasa seperti masalah setelah terus-menerus diberi label, dibandingkan dengan standar tertentu, lalu ditawarkan produk sebagai solusinya.

Menjadi Ibu Bukan Proyek yang Harus Sempurna

Ada kecenderungan dalam parenting modern untuk melihat banyak hal berdasarkan hasil. ASI dinilai dari jumlah dan kelancarannya, berat badan bayi dipantau dari kenaikannya, sementara tumbuh kembang anak dilihat dari berbagai pencapaian.

Akibatnya, menjadi ibu bisa terasa seperti proyek yang harus terus dioptimalkan. Ibu bukan hanya perlu merawat bayinya, tetapi juga terus memastkan apakah dirinya sudah melakukan semuanya dengan cara yang paling tepat.

Menurut saya, penting untuk membedakan antara berusaha memberikan yang terbaik dan merasa harus selalu menjadi yang terbaik. Berusaha memberikan yang terbaik bisa menjadi bentuk kasih sayang, tetapi tuntutan untuk selalu sempurna justru dapat menjadi tekanan.

Apalagi, selama ibu masih merasa ada sesuatu yang kurang, akan selalu ada produk, metode, atau solusi baru yang ditawarkan untuk mengatasinya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda