Kolom

Dilema Segelas Latte: Apakah Hidup Sehat Berarti Harus Mengorbankan Kebahagiaan Kecil?

Dilema Segelas Latte: Apakah Hidup Sehat Berarti Harus Mengorbankan Kebahagiaan Kecil?
Kopi latte (Pexels/Tamara Elnova)

Ada satu kebiasaan kecil yang rasanya sulit sekali kulewatkan setiap hari, segelas kopi latte.

Entah kenapa, rasanya ada yang kurang kalau aku belum meminumnya. Terutama ketika sedang harus menulis. Di depan laptop, dengan halaman kosong yang menunggu diisi kata-kata, segelas latte biasanya menjadi teman pertama yang menemaniku memulai hari.

Mungkin terdengar sederhana. Hanya kopi dengan susu dan sedikit rasa manis. Tetapi bagiku, latte bukan sekadar minuman. Ada semacam ritual kecil di dalamnya. Menyeduh atau membelinya, duduk dengan nyaman, kemudian mulai menulis sambil sesekali menyeruput kopi.

Rasanya seperti memberi sinyal kepada diri sendiri bahwa, “Oke, sekarang waktunya mulai.” Anehnya, setelah beberapa teguk, aku merasa lebih siap menjalani hari. Namun, belakangan ini aku mulai sering berhadapan dengan satu dilema, gula.

Sebagai seseorang yang ingin mulai hidup lebih sehat, tentu aku pernah berpikir untuk mengurangi konsumsi gula. Apalagi di usia 20-an, rasanya kita mulai semakin sadar bahwa tubuh perlu dijaga. Kita mulai melihat berbagai konten tentang pola hidup sehat, mengurangi gula, memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi, sampai mencoba berbagai kebiasaan baru yang katanya bisa membuat hidup lebih baik.

Aku pun sempat berpikir, mungkin aku harus berhenti minum latte setiap hari. Tapi kemudian muncul pertanyaan sederhana, apakah hidup sehat harus selalu berarti menghilangkan semua hal yang kita sukai?

Sebab kalau dipikir-pikir, ada hari-hari ketika hidup terasa begitu melelahkan. Tugas yang belum selesai, pekerjaan yang menumpuk, pikiran tentang masa depan, ekspektasi terhadap diri sendiri, dan berbagai hal kecil yang terkadang terasa lebih berat dari seharusnya.

Di tengah hari-hari seperti itu, ada kalanya aku hanya ingin menikmati sesuatu yang sederhana. Segelas latte.

Bukan karena aku menganggap gula sebagai solusi untuk semua masalah. Bukan juga karena aku percaya minuman manis bisa menghilangkan stres. Tetapi ada rasa nyaman yang muncul dari ritual kecil tersebut. Rasanya menyenangkan punya sesuatu yang bisa dinantikan di tengah hari yang sibuk.

Dari situ aku mulai memahami bahwa mungkin yang perlu dicari bukanlah hidup yang sepenuhnya bebas dari gula, tetapi hidup yang lebih seimbang.

Aku tidak ingin berada di titik di mana aku terlalu takut menikmati makanan atau minuman yang kusukai karena merasa bersalah. Namun, aku juga tidak ingin menggunakan makanan manis sebagai satu-satunya cara untuk membuat diriku merasa lebih baik.

Bukankah kesehatan mental juga membutuhkan ruang untuk menikmati hal-hal kecil?

Selama ini kita sering berbicara tentang self-care seolah-olah harus selalu berupa sesuatu yang besar. Pergi berlibur, membeli sesuatu yang mahal, melakukan spa, atau mengambil waktu khusus untuk benar-benar beristirahat.

Padahal, mungkin self-care juga bisa sesederhana memberikan diri sendiri waktu untuk menikmati secangkir kopi sebelum memulai aktivitas. Bagi orang lain mungkin hanya kopi biasa. Bagiku, itu adalah jeda kecil.

Jeda untuk mengumpulkan energi sebelum kembali berhadapan dengan layar laptop. Jeda untuk membiarkan pikiranku bekerja sebelum mulai menulis. Jeda untuk menikmati pagi tanpa terburu-buru memikirkan apa saja yang harus kuselesaikan hari itu.

Dan mungkin justru hal-hal kecil seperti inilah yang sering kita lupakan ketika sedang berusaha menjalani hidup dengan 'benar.' Kita terlalu sibuk menghitung apa yang harus dikurangi sampai lupa bertanya, “Apa yang sebenarnya membuatku merasa baik?”

Tentu saja, bukan berarti aku kemudian membenarkan konsumsi gula berlebihan. Aku tetap ingin belajar memperhatikan apa yang masuk ke tubuhku. Aku ingin lebih sadar terhadap kebiasaan makan dan minum, bukan sekadar mengikutinya karena sudah terbiasa.

Tetapi aku juga belajar bahwa perubahan tidak harus dilakukan dengan cara yang ekstrem.

Aku bisa mengurangi gula tanpa harus membenci latte. Aku bisa memilih ukuran yang lebih kecil, menyesuaikan tingkat kemanisan, atau menikmati kopi dengan lebih sadar. Aku bisa belajar membedakan antara menikmati sesuatu karena benar-benar menyukainya dan mengonsumsinya hanya karena sedang mencari pelarian dari perasaan tidak nyaman.

Pada akhirnya, hidup sehat bagiku bukan tentang membuat daftar panjang hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Hidup sehat mungkin justru tentang mengenali diri sendiri dengan lebih baik.

Tahu kapan tubuh membutuhkan istirahat. Tahu kapan pikiran membutuhkan jeda. Tahu kapan harus berhenti bekerja. Dan tahu bahwa sesekali menikmati sesuatu yang kita sukai tidak otomatis membuat kita gagal menjalani hidup sehat.

Jadi, untuk sekarang, mungkin aku belum siap mengucapkan selamat tinggal pada segelas latte. Aku masih ingin duduk di depan laptop setiap pagi, membuka halaman kosong, menyeruput kopi, lalu membiarkan kata-kata mengalir satu per satu.

Bukan karena aku membutuhkan gula untuk menjalani hidup, tetapi karena terkadang kita memang membutuhkan sedikit rasa manis untuk mengingat bahwa hidup tidak harus selalu dijalani dengan terlalu serius.

Dan mungkin, keseimbangan memang sesederhana itu, menjaga diri tanpa terlalu mengekang diri, menjadi lebih sehat tanpa kehilangan hal-hal kecil yang membuat kita bahagia.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda