Kolom
Sindrom Defisit Rumah: Saat Sate Paling Enak Pun Kalah oleh Telur Dadar Buatan Ibu
Tadi malam aku habis makan sate. Dagingnya empuk, bumbunya nampol, walau harganya ramah di kantong. Ini bukan pertama kaliku makan sate ini namun, bisa dihitung pakai jari sudah berapa kali aku makan dari warung sate yang sama. Tapi ada yang aneh. Selesai makan, lidahku kenyang dan perutku penuh. Tapi dadaku? Masih terasa kosong melompong. Rasa kosong itu membuat rasa sate yang sudah biasa kumakan perlahan menjadi pahit pada after taste-nya.
Aku sempat mikir, apa lidahku yang rusak? Apa karena aku udah kebanyakan makan enak di kota ini sampai semuanya jadi hambar? Ternyata bukan. Otakku yang bohong. Dia memanipulasi rasa kenyang fisik untuk menyembunyikan kelaparan yang jauh lebih besar.
Jebakan "Defisit Rumah"
Setelah merenung di pojok kamar kos, aku baru sadar. Yang aku cari malam itu bukan kombinasi rasa "manis, asin, gurih". Yang aku cari sebenernya adalah kalimat simpel: "Nih nak, makan dulu ya."
Yang aku rindukan adalah suara piring yang beradu, suara panci di dapur setiap jam 7 pagi, dan meja sofa tempat aku selalu makan karena di rumah aku tidak punya meja makan. Rasanya, sate seenak apapun, dari mamang siapapun tidak bisa memberikan itu.
Psikolog mungkin bakal melabeli fenomena ini sebagai pelarian ke comfort food. Tapi buatku, ini adalah kondisi "Defisit Rumah". Saat kita udah terlalu lama merantau, terlalu sering makan sendirian sambil main HP, dan terlalu sering memasang topeng "aku kuat-kuat aja kok" di depan kerasnya hidup. Pada titik itu, otak kita akhirnya burnout lalu teriak: "Udah, aku capek. Aku mau pulang."
Sains di Balik Kerinduan yang Lapar
Lucunya, rasa hampa ini bukan cuma bualan puitis galau sehabis makan. Ini ada penjelasan ilmiahnya di dalam kepala kita.
Limbic System yang Sentimental: Bagian otak ini bertugas mengatur emosi dan memori. Dia licik karena suka menyimpan rasa makanan sepaket dengan perasaan kita saat memakannya. Masakan Ibu tersimpan rapi di laci memori berlabel "aman, disayang, tanpa beban". Sementara sate atau steak mahal di kota rantau tersimpan di laci berlabel "jajan, nongkrong, bayar sendiri pakai uang hasil lembur".
Jalan Tol Indera: Penciuman dan pengecap adalah dua indera yang punya akses paling cepat ke memori masa lalu. Gak ada indera lain yang sekuat mereka. Makanya, cuma lewat di depan warung yang numpang numis bawang merah dan aroma gosong kuah sop bening, pikiran kita langsung dideportasi paksa ke dapur rumah belasan tahun lalu.
Mencari Aman, Bukan Enak: Pas kita stres, cakar-cakaran dengan target kerjaan, atau dikejar tenggat waktu, otak kita gak butuh asupan wagyu. Otak kita sebetulnya lagi nyari sinyal "kamu aman". Dan sinyal itu cuma ada pada makanan yang dimasak oleh tangan orang yang tulus menyayangi kita tanpa syarat.
Aroma Telur Dadar dan Sop Bening
Coba ingat-ingat lagi. Menu rumahan itu sering kali gak estetik kalau difoto buat konten. Bayangkan telur dadar buatan Ibu yang pinggirannya agak gosong karena apinya kebesaran, disandingkan dengan sayur sop yang isinya cuma wortel, kol, dan bakso murah. Kuahnya bening, tapi uap panasnya membawa bau bawang goreng yang khas.
Makan menu itu pakai nasi hangat, ditambah sedikit sambal korek ulek yang disiram minyak jelantah panas. Sederhana banget, kan? Tapi herannya, kemewahan rasa dan ketenangan yang dihasilkan dari menu itu gak pernah bisa ditiru oleh koki bersertifikat internasional mana pun di kota ini.
Jadi bener. Bukan satenya yang gagal bikin aku bahagia malam itu. Tapi jiwaku yang lagi haus, kering, dan mengalami defisit "rumah" yang akut.
Tamparan Kedewasaan
Dulu waktu masih bocah, aku mikir kalau udah gede, punya duit sendiri, dan bisa jajan apa aja tanpa minta izin, aku bakal jadi manusia paling bahagia di bumi. Ternyata tumbuh dewasa adalah sebuah kompromi yang menyakitkan.
Kedewasaan adalah saat kamu sadar bahwa masakan paling mahal di dunia pun bakal kalah telak sama nasi anget, telor ceplok, dan sambal sisa semalam yang disuapin langsung dari tangan Ibu.
Mungkin pada akhirnya, kita gak benar-benar rindu pada makanannya. Kita cuma rindu pada sebuah masa yang ringkih. Masa di mana satu-satunya tugas dan PR paling berat dalam hidup kita hanyalah: "Habisin sayurnya, biar bisa main lagi."
Untuk kita yang kaget bekerja di perantauan dan rindu ibu, gak apa-apa kamu boleh menangis kok seperti aku. Pundak kita mungkin rasanya selalu kuat, tapi otak dan hati kita seringkali tidak.